MAKALAH
PERENCANAAN KEUANGAN
Disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Financial Management
Dosen Pengampu :
GUSGANDA SURIA MANDA, SE., MM

Disusun Oleh :
SYAH
REBI DARMAWAN
N P M : 1510631020212
PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2017
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Wr. Wb
Segala puji dan
syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWt atas segala rahmat dan karunia_nya yang
telah di limpahkan sejak mencari ide, menyusun, hingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktu yang telah di tentukan.
Makalah ini
tidak akan terwujud tanpa ada pengarahan,
bimbingan serta kerja sama dari semua pihak yang telah turut membantu
dalam menyelesaikan makalah ini.
Sesungguhnya
saya menyadari makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, untuk
perbaikan dan menyempurnakan makalah ini, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat di harapkan. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat
bagi yang berkepentingan dan khususnya untuk para mahasiswa agar dapat menjadi
referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama bagi mahasiswa yang
menempuh mata kuliah Manajemen Keuangan.
Akhir kata saya
berharap semoga Makalah Manajemen Keuangan tentang Perencanaan Keuangan ini
dapat berguna dan bermanfaat bagi semunya.
Wassalamualaikum
Wr. Wb.
Karawang,
05 Nopember 2017
Penulis
Syah Rebi Darmawan
DAFTAR ISI
Judul................................................................................................................
1
Kata
Pengantar ............................................................................................... 2
Daftar
Isi ........................................................................................................ 3
BAB
I PENDAHULUAN ............................................................................. 4
BAB
II PERENCANAAN KEUANGAN....................................................
5
2.1.
Definisi Perencanaan Keuangan..........................................................
5
2.2.
Arus Kas dalam Perusahaan................................................................
7
2.2.1. Model Baoumol.............................................................................
8
2.2.2. Model Persediaan Optimal Kas ..................................................... 9
2.2.3. Model Miller – Orr........................................................................ 10
2.3.
Analisis Sumber dan Penggunaan Dana ............................................. 10
2.4.
Implikasi Dari Analisis Laporan Dana ............................................... 11
2.5.
Perencanaan Keuangan....................................................................... 11
2.5.1.
Perencanaan Keuangan Jangka Panjang.......................................
12
2.5.2. Perencanaan Keuangan Jangka Pendek ....................................... 15
2.6. Penggunaan Informasi Akuntansi
Differensial Dalam
Perencanaan Laba Jangka Pendek..............................................................
18
2.6.1.
Perencanaan Laba Jangka Pendek................................................
19
2.6.2. Parameter –Parameter Perencanaan Laba Jangka
Pendek ........... 19
2.7.
Perencanaan Keuangan dan Kebutuhan Investasi.............................. 21
2.8.
Kondisi Perencanaan Keuangan ......................................................... 22
2.9.
Model Perencanaan Keuangan ........................................................... 22
2.10. Perencanaan Keuangan dan Perencanaan
Strategis ........................... 23
2.11. Perencanaan dan Pengendalian
Keuangan.........................................
26
2.12. Bentuk Perencanaan Keuangan .......................................................... 28
2.13. Langkah-Langkah Perencanaan
Keuangan ........................................ 34
2.14. Manfaat Belajar Financial Planner ..................................................... 36
2.15. Contoh Kasus ..................................................................................... 37
BAB
III PENUTUP....................................................................................... 43
Kesimpulan ........................................................................................ 43
DAFTAR
PUSTAKA...................................................................................
44
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tugas manjer perusahaan
dihadapkan pada dua keputusan besar, yaitu keputusan penentuan proyek investasi
dan strategi pendanaan untuk melaksanakan investasi yang telah diputuskan.
Keputusan investasi yang baik harus berdasarkan pada informasi proyeksi arus
kas dan beberapa informasi penting antara lain rincian biaya proyek investasi
dan biaya modal, yang besarnya tergantung pada pilihan teknologi yang akan
digunakan.
Sesuai dengan salah satu fungsi
manajemen yaitu fungsi perencanaan, maka bagi manajer keuangan fungsi
perencanaan ini berarti ia harus melakukan perencanaan keuangan. Dalam
melakukan perencanaan maka sebelumnya harus dibuat suatu perkiraan atau
forecasting tentang apa yang diharapkann terjadi di masa yang akan datang.
Perencanaan keuangan dimaksudkan untuk memperkirakan bagaimana posisi keuangan
perusahaan di masa yang akan datang.
Perencanaan keuangan merupakan
salah satu bagian dari proses perencanaan organisasi (corporate planning). Dari
perencanaan diharapkan perusahaan dapat menghindari kesalahan-kesalahan,
menghasilkan keputusan yang terbaik yang pada akhirnya mampu meningkatkan
kinerja dari suatu perusahaan.
Dalam perencanaan keuangan,
berbagai aspek perlu dipertimbangkan sehingga keputusan keuangan akan
memberikan struktur keuangan yang optimal bagi perusahaan baik yang berkaitan
dengan sumber maupun penggunaan keuangan perusahaan. Untuk itu arus dana
merupakan salah satu hal yang sanga penting dalam perusahaan.
BAB II
PERENCANAAN KEUANGAN
2.1. Definisi Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan adalah suatu
ilmu yang menempatkan kajian tentang keuangan dengan menempatkan berbagai
atribut keuangan secara terkonsep dan sistematis baik secara jangka pendek
maupun jangka panjang. Dalam konsep jangka pendek biasanya 1 tahun saja.
Sedangkan jangka panjang beberapa pakar menyatakan jangka waktunya 2 hingga 5 tahun ke depan,
bahkan beberapa pakar juga menyebutkan bahwa jangka waktunya bisa lebih dari 5
tahun. Periode jangka panjang menurus Ross dkk., disebut sebagai cakrawala
perencanaan (planning horizon). Cakrawala perencanaan (planning horizon) adalah
periode waktu jangka panjang yang menjadi focus perencanaan keuangan.
Perencanaan keuangan memberikan
panduan bagi perubahan dan pertumbuhan yang terjadi di dalam perusahaan. Memang
salah satu tujuan perencanaan keuangan untuk memberikan arah perubahan dan
perkembangan perusahaan secara berkelanjutan. Jika suatu perusahaan
berkeinginan untuk menciptakan perubahan yang bersifat berkelanjutan maka
artinya perencanaan keuangan bersifat jangka panjang. Namun jika ingin mengejar
profit jangka pendek maka perencanaan perusahaan bersifat jangka pendek. Namun
harus diingat perencanaan yang baik adalah perencanaan yang bersifat jangka
panjang.
Perencanaan keuangan adalah
kegiatan untuk memprakirakan pendapatan dan pengeluaran perusahaan yang akan
datang. Untuk memprakirakan pendapatan, pertama, anda perlu memprakirakan
volume penjualan. Prakiraan volume penjualan harus mencakup permintaan. Aspek
teknis proses pasokan perlu dipikirkan, termasuk tenaga kerja, kebutuhan alat,
dan waktu serta transportasi selama tahapan-tahapan pemasokan. Suatu prakiraan
dan perencanaan keuangan dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan /
organisasi karena, memuat misi dan tujuan usaha, cara kerja dan rincian
keuangan, susunan menajemen dan bagaimana cara mencapai tujuan usahanya
sehingga hal tersebut mempengaruhi kinerja perusahaan.
Perencanaan Keuangan menurut
Certified Financial Planner, Board of Standards adalah proses mencapai tujuan
hidup seseorang melalui manajemen keuangan secara terencana. Tujuan hidup itu
termasuk membeli rumah, menabung untuk pendidikan anak atau merencanakan
pensiun.
Menurut Senduk (2001) perencanaan
keuangan adalah proses merencanakan tujuan-tujuan keuangan jangka pendek maupun
jangka panjang. Yang dimaksud dengan tujuan keuangan itu adalah keinginan
keuangan yang ingin direalisasikan Salah satu perencana keuangan seperti Gozali
(2002) mendefinisikan rencana keuangan sebagai “Sebuah strategi yang apabila
dijalankan bisa membantu anda mencapai tujuan keuangan dimasa datang“.
Sedangkan Dorimulu (2003) dalam artikelnya, menyatakan bahwa perencanaan
keuangan atau Financial planning merupakan “Proses mencapai tujuan hidup yakni
masa depan yang sejahtera dan bahagia lewat penataan keuangan “.
Bertisch (1994) mengatakan bahwa
“ Financial Planning can be defined as the careful preparation and coordination
of plans necessary to prepare for future financial needs and goals. It is not
investment analisys. It involves mapping strategies to achieve your defined
goals”. Yang berarti Perencanaan keuangan dapat diartikan sebagai persiapan
atau koordinasi yang hati-hati terhadap rencana-rencana dalam rangka untuk
mempersiapkan keinginan dan tujuan keuangan dimasa datang. Bukan analisa
investasi, tetapi meliputi strategi untuk mendapatkan tujuan-tujuan yang telah
ditentukan.
Perencanaan merupakan tindakan
yang dibuat berdasarkan fakta dan asumsi mengenai gambaran kegiatan yang
dilakukan pada waktu yang akan datang dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Perencanaan adalah proses penyusunan tujuan-tujuan perusahaan dan pemilihan
tindakan-tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan (Supriyanto, 1994:4).
Perencanaan keuangan merupakan
aspek penting dari operasi dan sumber penghasilan perusahaan karena memberikan
petunjuk yang mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengontrol kegiatan perusahaan
untuk mencapai tujuan.
Dua aspek penting dalam proses
perencanaan keuangan :
1)
Perencanaan
uang tunai, meliputi persiapan dari penyusunan budget kas perusahaan.
2)
Perencanaan
laba, perencanaan laba perusahaan yang dibuat dalam bentuk laporan keuangan
proforma. Kedua hal tersebut tidak hanya berguna bagi perencanaan keuangan
intern tetapi juga dibutuhkan bagi pemberi pinjaman baik sekarang maupun yang
akan financ.
Perencanaan laba berpusat pada
pembuatan laporan proforma. Laporan proforma, merupakan proyeksi laporan
keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan rugi laba suatu perusahaan. Dua
input yang diperlukan untuk menyusun laporan proforma dengan menggunakan
pendekatan yang sederhana yaitu : a) laporan keuangan untuk tahun sebelumnya
dan b) ramalan penjualan tahun yang akan financ.
Perencanaan keuangan berhubungan
dengan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Kepala bagian financial
harus selalu mengadakan forecasting (peramalan dan pengiraan) terhadap masa
yang akan inanc tersebut dengan tepat, yang meliputi perencanaan financial
jangka panjang (long range financial planning) dan perencanaan-perencanaan
jangka pendek (short range financial planning). Salah satu keuntungan yang
diperoleh dari adanya perencanaan inancial adalah dihindarkannya
pemborosan-pemborosan yang diakibatkan oleh adanya aktivitas yang sangat
kompleks.
2.2. Arus Kas dalam Perusahaan
Sebelum menyusun rencana
keuangan, maka ada beberapa hal yang harus dipahami dalam suatu perusahaan.
Salah satu hal penting yang harus dianalisis adalah arus kas suatu perusahaan.
Arus dana yang terjadi di dalam suatu perusahaan sering juga dikatakan sebagai
perputaran modal kerja. Arus dana adalah cerminan bagaimana sistem aliran dana
yang terjadi dalam suatu perusahaan. Sehingga dengan diketahui aliran dana ini,
maka bagi pihak pengambil keputusan akan dapat menentukan dalam menetapkan
kebutuhan dana perusahaan, darimana akan dibiayai serta bagaimana
penggunaannya.
Informasi tentang arus kas suatu
perusahaan berguna bagi pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai
kemampuan perusahaan dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas
tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu
melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas serta
keputusan perolehannya. Perusahaan harus menyusun laporan arus kas dan harus
menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dilaporan
keuangan untuk periode penyajian laporan keuangan.
Agar menghasilkan keuntungan
tambahan, perusahaan harus mempunyai kas untuk ditanamkan kembali. Keuntungan
yang dilaporkan dalam buku belum pasti dalam bentuk kas. Sehingga dengan
demikian perusahaan dapat mempunyai jumlah kas yang lebih besar atau lebih
kecil daripada jumlah keuntungan yang dilaporkan dalam buku.
Menurut Arthur, J. Keown, David
F. Scott Jr, Jhon D. Martin, J. William Petty (2001:678) setiap usulan
pengeluaran modal (capital expenditure) selalu mengandung dua macam arus kas,
yaitu:
a.
Arus
kas keluar netto (Net outflow of cash), yaitu: arus kas yang diperlukan untuk
investasi baru.
b.
Arus
kas masuk netto (Net inflow of cash), yaitu: sebagai hasil dari investasi baru
tersebut, yang sering disebut “Net cash proceeds.”
Pengertian luas mengenai arus kas
yang dari kegiatan penjualan atau kegiatan yang sama dikurangi oleh semua
biaya-biaya yang meliputi seluruh pengeluaran-pengeluaran kas. Arus kas didefenisikan
sebagai laba sebelum pajak dari suatu proyek, ditambah dengan biaya penyusutan
dan dikurangi laba bersih sebelum pajak tambahan yang diakibatkan oleh
proyek-proyek tersebut.
Laporan arus kas melaporkan
penerimaan kas, pembayaran kas dan perubahan bersih pada kas yang berasal dari:
Aktivitas Operasi, Investasi dan Pendanaan perusahaan selama satu periode dalam
suatu format yang menunjukkan bagaimana melaporkan suatu rugi bersih dan tetap
mengadakan pengeluaran modal yang besar atau membayar deviden, atau akan
menceritakan bagaimana perusahaan mengeluarkan atau menaikkan hutang atau saham
biasa atau keduanya selama periode tersebut. Sedangkan menurut Ikatan
AkuntansiIndonesia, arus kas merupakan arus kas masuk dan arus kas keluar.
Oleh karena suatu perusahaan
membuat suatu laporan biasanya secara periodik, maka ketika menyiapkan laporan
biasanya secara periodik, maka ketika menyiapkan laporan arus kas yang
berdasarkan pendapatan, akumulasi penyusutan, pinjaman modal dan pajak harus
menunjukkan pemisahan antara kelompok utama penerimaan kas bruto dan
pengeluaran kas bruto yang berasal dari: Aktivitas Operasi, Aktivitas Investasi
dan Aktivitas Pendanaan.
Arus kas adalah istilah yang
digunakan untuk mengklasifikasikan arus kas (kas yang diterima) dari kegiatan
operasi. Istilah arus kas juga digunakan untuk menunjukkan dana, dimana arus
kas bersih mewakili perbedaan antara sumber dan penerimaan. Dalam hal
kepemilikan kas, perusahaan juga harus mampu melakukan penyeimbangan. Artinya:
apabila perusahaan memiliki saldo kas yang terlalu besar, maka perusahaan akan
mengalami kerugian dalam bentuk kehilangan kesempatan untuk menginvestasikan
dana tersebut pada kesempatan investasi lain yang lebih menguntungkan.
Sebaliknya apabila saldo kas terlalu rendah, kemungkinan perusahaan mengalami
kesulitan likuiditas. Oleh karena itu, ada beberapa model yang digunakan untuk
membantu menentukan target saldo kas.
2.2.1.
Model Baumol
Model ini dikembangkan oleh
William Baumol. Pada prinsipnya model persediaan (EOQ) yang diterapkan pada
manajemen kas. Biaya pesanan diganti dengan biaya administrasi dan biaya
transaksi pada waktu melakukan transfer kas menjadi surat berharga dan
sebaliknya. Untuk dapat menggunakan Model Baumol dengan baik, maka harus
didasarkan pada berbagai asumsi. Asumsi-asumsi tersebut, antara lain adalah:
1.
Adanya
kepastian jumlah kas yang dibutuhkan setiap saat.
2.
Pengeluaran
kas perusahaan tetap (konstan) dari waktu ke waktu.
3.
Pada
saat kas dibutuhkan surat berharga dengan segera dapat dijual.
4.
Biaya
yang dikeluarkan untuk menjual surat berharga menjadi kas adalah tetap untuk
setiap transaksi, tanpa dipengaruhi oleh jumlah atau nilai surat berharga yang
dijual.
Model Baumol memberikan sumbangan
penting bagi manjer keuangan dalam mengelola kas perusahaan. Meskipun demikian ada
beberapa keterbatasan dari model tersebut, yaitu:
a)
Model
tersebut mengasumsikan penggunaan kas yang konstan setiap periodenya. Dalam
prakteknya, pengeluaran kas tidaklah seluruhnya bisa dikendalikan oleh
perusahaan.
b)
Model
tersebut mengasumsikan bahwa selama interval waktu tertentu terdapat adanya kas
masuk. Dalam prakteknya perusahaan ada melakukan penerimaan kas dengan
pengeluaran kas setiap harinya.
c)
Tidak
mempertimbangkan kemungkinan adanya persediaan kas untuk keamanan, dan
sebagainya.
2.2.2.
Model Persediaan
Optimal Kas (Model Baumol)
Untuk menghitung saldo kas
optimal, kita perlu mengetahui biaya yang berkaitan dengan penyimpanan kas.
Setelah itu kita bisa meminimalkan biaya tersebut. Dengan kata lain, tujuan
dari model ini adalah menghitung saldo kas yang optimal, yaitu saldo kas yang
bisa meminimalkan total biaya transaksi.
Total biaya transaksi yang akan
diminimalkan untuk memperoleh saldo kas optimal terdiri dari dua yaitu:
1)
Biaya
simpan: yang berupa biaya kesempatan (opportunity cost) yang muncul karena
perusahaan memegang kas, bukannya memegang surat berharga. Dengan kata lain,
biaya kesempatan adalah pendapatan bunga yang tidak bisa diperoleh karena
perusahaan memegang kas.
2)
Biaya
transaksi: biaya transaksi dihitung dari biaya yang harus dikeluarkan ketika
manajer keuangan menjual surat berharga. Dengan kata lain, Biaya transaksi
merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh saldo kas tersebut.
Biaya
Total = Biaya simpan + Biaya transaksi
TC
= (C / 2) i + (T / C) b
dimana
C
= Saldo kas optimal yang akan kita cari
i
= Tingkat bunga
T
= Total kebutuhan kas dalam satu periode
b
= Biaya order kas
Jika saldo kas optimal besar, maka biaya
simpan akan lebih tinggi, tetapi biaya transaksi akan lebih kecil. Sebaliknya,
jika saldo optimal kecil, perusahaan akan semakin sering mengisi kas, berarti
semakin tinggi biaya transaksi pengadaan kas; tetapi biaya simpan semakin
kecil, karena rata-rata persediaan menjadi lebih kecil
2.2.3.
Model Miller-Orr
Model Miller-Orr tepat digunakan
untuk kondisi dimana pengeluaran kas ber-fluktuasi (tidak konstan) dari waktu
ke waktu secara random dan tingkat ketidakpastian pembayaran kas yang cukup
besar. Model ini pada dasarnya menentukan batas atas dan batas bawah fluktuasi
kas.Ide dasar model ini adalah apabila jumlah kas mencapai batas atas, maka
perusahaan membeli surat berharga untuk menurunkan kas, sebaliknya apabila
mencapai batas bawah maka perusahaan menjual surat berharga untuk menambah kas.
Selama kas berada antara batas atas dan batas bawah, maka perusahaan tidak
melakukan transaksi.
2.3. Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Dalam suatu periode tertentu
dalam perusahaan misalkan jangka waktu dalam satu periode adalah selama satu
tahun, laporan-laporan yang disajikan perusahaan menunjukkan adanya penambahan
atau pengurangan dana atau kas.
Analisis sumber dan penggunaan
dana merupakan alat penting bagi financial manager, untuk mengetahui bagaimana
dana digunakan dan bagaimana kebutuhan dana tersebut dibelanjai ( dengan
analisa aliran dana itu akan dapat diketahui dari mana datangnya dana dan untuk
apa dana itu digunakan). Laporan sumber
– sumber dan penggunaan dana suatu perusahaan sangat penting artinya bagi bank
dalam menilai permintaan kredit yang diajukan kepadanya, dengan mengadakan analisa
terhadap laporan tersebut dapat diketahui bagaimana perusahaan itu menggunakan
dana yang dimilikinya.
Analisa ini dimulai dari
penyusunan neraca yang disusun atas
dasar dua neraca pada saat yang berbeda, sehingga dapat diketahui
perubahan – perubahan yang terjadi pada masing – masing pos neraca, dari
laporan perubahan neraca itulah disusun laporan sumber– suber dana dan
penggunaan dana. Pengertian dana dalam analisis ini di bedakan dalam dua
katagori yaitu dalam pengertian kas dan modal kerja.
Penyusunan laporan sumber dan
penggunaan dana dalam pengertian kas adalah :
§ Membandingkan
kedua neraca untuk menyusun perubahan neraca pada masing -masing elemen
§ Menyusun
penggolongan dari unsur – unsur yang
memperbesar kas dan golongan atau unsur – unsur yang memperkecil kas
§ Mengelompokan
unsur – unsur dalam laporan rugi laba, terutama laba ditahan ke dalam golongan
yang memperbesar kas dan memperkecil kas.
§ Mengadakan
konsolidasi dari semua informasi tersebut
ke dalam laporan sumber– sumber dan penggunan dana.
Ada beberapa hal yang perlu dianalisis
terkait dengan sumber dan pengunaan dana, diantaranya meliputi :
Analisis
sumber dana yang berasal dari :
1. Penurunan bersih aktiva, kecuali aktiva
tetap tetap dan kas.
2. Penurunan bruto aktiva tetap.
3. Kenaikan bersih kewajiban dan hutang.
4. Penambahan modal sendiri.
5. Dana yang diperolehdari operasi.
Analisis pengunaan dana :
1. Kenaikan bersih aktiva, kecuali
aktiva tetap dan kas.
2. Penambahan bruto aktiva tetap.
3. Penurunan kewajiban dan hutang.
4. Pengurangan modal sendiri.
5. Pembayaran dividen.
Analisis sumber dan pengunaan dana
lebih diarahkan pada penerapan matching principle dalam pendanaan. Prinsip ini
menyatakan pengunaan jangka panjang seharusnya didanai dengan dana jangka
panjang. Sedangkan dana jangka pendek hanya untuk keperluan jangka pendek.
Dengan demikian maka prinsip ini lebih menekankan pada pertimbangan likuiditas.
2.4. Implikasi dari Analisis Laporan Dana
Analisi laporan sumber dan penggunaan
dana memberikan wawasan bagi pihak-pihak yang terkait terutama manajer keuangan
dalam hal merencanakan ekspansi perusahaan serta dampaknya pada likuiditas
perusahaan. Ketidakseimbangan dalam penggunaan pendanaan akan dapat dideteksi
dan dilakukan penyesuaian. Jadi laporan sumber dan pengguanaan dana memberi
signal untuk masalah yang akan dianalisis dan secara rinci dalam rangka
pengambilan keputusan yang tepat. Analisi laporan sumber dan pengunaan dana
dimasa mendatang akan sangat berguna dalam merencanakan pembelanjaan jangka
menengah dan jangka panjang.
2.5. Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan merupakan
kegiatan untuk memperkirakan posisi dan kondisi keuangan perusahaan di masa
yang akan datang (bisa jangka panjang ataupun jangka pendek). Untuk menyusun
rencana keuangan tersebut dipergunakan serangkaian asumsi, baik yang menyangkut
hubungan antar variable-variabel keuangan, maupun keputusan-keputusan keuangan.
2.5.1.
Perencanaan
keuangan jangka panjang
Setiap perusahaan memiliki
rencana yang panjang kedepan atau sering disebut dengan perencanaan strategis,
misalnya melakukan investasi modal dalam jumlah yang cukup besar, disertai
dengan keputusan pendanaan tertentu. Oleh karena demikian maka disusun suatu
laporan keuangan yang diproyeksikan (atau laporan keuangan proforma), konsisten
dengan keputusan-keputusan keuangan yang diambil. Dengan mengunakan model-model
keuangan tertentu, perusahaan bisa memperkirakan posisi keuangannya apabila
suatu keputusan keuangan diambil. Terdapat beberapa model peramalan keuangan,
yaitu :
Model
presentase penjualan,
yaitu suatu model yang sering menggunakan dasar pemikiran bahwa perusahaan
tentunya memerlukan dana yang makin besar kalu akivitasnya meningkat. Ukuran
aktivitas ini adalah penjualan. salah satu asumsi penting dari model ini adalah
bahwa rekening-rekening yang berubah sesuai dengan penjualan, diasumsikan
proporsinya tetap tidak berubah. Karena itulah diberi nama model persentase
penjualan (sales percentage method). Karena untuk menggunakan model tersebut
diperlukan :
a.
Identifikasi
rekening-rekening yang berubah apabila penjualan berubah.
b. Kebijakan
keuangan yang dianut oleh perusahaan.
Dengan model tersebut kemudian bisa
ditaksir apakah perusahaan perlu menambah dana dari luar perusahaan atau
tidak, bagaimana posisi keuangan di masa
yang akan datang, dan sebagainya.
Berikut ini dipergunakan ilustrasi model
persentase penjualan dengan menggunakan data PT. "TSR" tahun 19x2. Misalkan
perusahaan memperkiraan penjualan akan meningkat sebesar 25% pada tahun 19x3.
Digunakan skenario sebagai berikut dalam menyusun laporan keuangan yang
diproyeksikan.
1)
Semua
aktivitas lancar meningkat secara proporsional dengan penjualan.
2)
Aktiva
tetap akan meningkat sebesar Rp. 200
juta
3)
Penyusutan
aktiva tetap lama sebesar Rp. 50 juta,
dan aktiva tetap baru Rp. 20 juta.
4)
Rekening-rekening
kewajiban lancar (tidak termasuk hutang bank) meningkat secara proporsional
dengan peningkatan penjualan.
5)
Kalau
perusahaan mengguakan hutang tambahan,
bunga yang ditanggung adalah 17,5% per tahun, sama seperti rata-rata
bungan untuk hutang bank yang lama dan hutang jangka panjang.
6)
Perusahaan
akan membagikan dividen sebesar 50% dari laba setelah pajak.
7)
Perusahaan
tidak akan menambah setoran modal sendiri.
8)
Profit
Margin 19x3 diperkirakan sama dengan tahun 19x2.
9)
Dana
ekstern akan ditarik dalam bentuk hutang.
10)
Tarif
pajak penghasilan sebesar 32%
Langkah pertama yang perlu dilakukan
adalah menyusun neraca yang disajikan dalam bentuk persentase dari
penjualan. Neraca tersebut nampak
sebagai berikut (Tabel 2.1)

Kalau kita jumlahkan sisa aktiva
tersebut, maka kita akan mendapatkan
angka 14,9. Sedangkan sisi pasiva
menghasilkan angka 6,4. Ini berarti bahwa kalau terjadu peningkatan penujualan
sebesar Rp. 100, maka diperlukan
tambahan dana sebesar Rp. 14,9 dikurangi
dengan Rp. 6,4 (berarti sebesar Rp. 8,5).
Disamping itu juga akan ada tambahan kebutuhan dana untuk tambahan
aktiva tetap. Kekurangan dana ini
diambilkan dari hasil operasi, tetapi
kalau masih kurang terpaksa harus dicarikan pendanaan ekstern.
Tahun19x3 diperkirakan penjualan
mencapai (1,25 x Rp. 2.200 juta) = Rp.
2.750 juta. Sedangkan profit
margin = (300/2.200) = 13,64%. Untuk menaksir berapa dana dari hasil operasi
kita perlu menempuh cara sebagai berikut.
Dalam hal ini D adalah tambahan hutang
yang dipergunakan pada tahun 19x3.
Karena
dividen yang dibagi sebesar 50% nya maka,
Laba
Yang Ditahan =
0,34[375-{0,175(220+D)}]
Penyusutan
keseluruhan = Penyusutan lama +
penyusutan baru
= Rp. 50 + Rp. 20
= Rp. 70 juta
Kebutuhan dana berasal dari tambahan
tambahan aktiva setelah dikurangi dengan tambahan aktiva yang meningkat secara
spontan karena tambahan penjualan. Dana
untuk membeli tambahan aktiva tetap sebesar Rp 200 juta, tambahan penjualan sebesar Rp. 550 juta (yaitu meningkat 25%), dan selisih
persentase aktiva lancar dengan kewajiban lancar yang berubah sesuai dengan
penjualan adalah 8,5%. Dinyatakan dalam
rumus,
Kebutuhan
dana = (0,085)550 +
200
= 246,75
Sumber dana berasal dari (1) laba yang
ditahan, (2) penyusutan, dan (3)
penambahan hutang (kalau ada). Dituliskan dalam bentuk persamaan menjadi,
Sumber
dana =
0,34[375-{0,175(220+D)}] + 70 + D
Dengan
demikian maka
0,34[375-38,5-0,175D] + 70 + D = 246,75
127,5
- 13,09 - 0,0595D + 70 + D = 246,75
184,41 + 0,9405D = 246,75
0,9405D = 62,34
D = 66,28
Ini berarti bahwa pada tahun 19x3
perusahaan akan memerlukan tamahan hutang baru sebesar Rp. 66,28 juta.
Karena itu kalau dibuat laporan keuangan proforma untuk tahun 19x3 akan
nampak sebagai berikut.
Sedangkan neraca proforma pada akhir
tahun 19x3 akan Nampak sebagai berikut. Nilai aktiva tetap (net) diperoleh
dari,
Nilai buku
aktiva tetap lama Rp. 550
Penyusutan
aktiva tetap lama Rp. 50 Rp.
550
Nilai buku
aktiva tetap baru Rp. 200
Penyusutan
aktiva tetap baru Rp. 20 Rp. 180
Nilai buku
aktiva tetap (net) Rp. 680
Dalam proyeksi
laporan keuangan tersebut terlihat bahwa debt to equity berubah menjadi 73,7%,
sedikit meningkat dibandingkan dengan tahun 19x2 yang sebesar 69,8%. Setelah
itu, apabila diinginkan kita bisa melakukan analisis keuangan terhadap laporan
keuangan yang diproyeksikan tersebut. Misalnya kita menghitung berapa return on
equity yang diproyeksikan, rentabilitas ekonominya, dan lain sebagainya.
Model-model
lain.
Kritik yang diberikan pada metode presentase penjualan adalah bahwa
rekening-rekening diasumsikan berubah secara proporsional dengan pejualan.
Umumnya diakui bahwa kalu penjualan meningkat, suatu aktiva tentunya meningkat.
Masalahnya adalah bahwa peningkatan tersebut bisa saja tidak proporsional.
Sebagai missal, bisa saja dirumuskan bahwa hubungan hubungan antara suatu
aktiva (missal persediaan) dengan penjualan dinyatakan :
Y=20 + 0,04X
Dalam hal ini Y adalah nilai persediaan dan
X adalah penjualan. Apabila penjualan diperkirakan sebesar Rp100 juta, maka
persediaan =20 + 0,04(100)= Rp. 24 Juta. Dinyatakan dalam persentase, maka
persediaan sebesar 24% dari penjualan.
Apabila penjualan mencapai Rp 200 juta,
maka persediaan = 20 + 0,04(200) = Rp 28 juta. Dinyatakan dalam persentase,
maka persediaan = 14% dari penjualan. Kita lihat disini bahwa persediaan
diperkirakan meningkat, tetapi secara persentase menurun.
Cara lain untuk menyusun laporan
keuangan proforma adalah dengan menggunakan sistem anggaran. Dengan memahami
interaksi masing-masing anggaran, bisa disusun neraca rugi-laba proforma. Pada
sub bab berikut ini diberikan ilustrasi penggunaan anggaran untuk menyusun
laporan keuangan proforma.
2.5.2.
Perencanaan
keuangan jangka pendek
Perencanaan jangka pendek umumnya
berdimensi waktu kurang dari 1 tahun. Tujuan utamanya seringkali untuk menjaga
likuiditas perusahaan. Alat yang dipergunakan adalah dengan menyusun anggaran
kas. Anggaran kas merupakan taksiran tentang kas masuk dan kas keluar pada
periode waktu tertentu.
Sebagaimana
namanya menunjukkan, perencanaan keuangan jangka pendek umumnya berdimensi
waktu kurang dari satu tahun. Tujuan utamanya seringkali untuk menjaga
likuiditas perusahaan. Alat yang dipergunakan adalah dengan menyusun anggaran
kas. Anggaran kas merupakan taksiran
tertinggi tentang kas masuk
dengan kas keluar pada periode waktu tertentu. Berikut ini diberikan ilustrasi
penyusunan anggaran kas.
PT. ANNA merupakan perusahaan
perdagangan. Pada kahir September 1993 perusahaan akan menyusun anggaran kas bulan Oktober, Nopember
dan Desember 1993. Data yang tersedia adalah sebagai berikut.
1.
Taksiran
dan realisasi penjualan adalah sebagai berikut.
|
Bulan
|
Realisasi
|
Taksiran
|
|
September
Oktober
Nopember
Desember
|
Rp.
120 juta
-
-
-
|
Rp.
115 juta
Rp.
150 juta
Rp.
180 juta
Rp.
190 juta
|
Penjualan
tersebut 30% dibayar tunai, dan 70% dibayar satu bulan kemudian. Untuk
memudahkan, semua penjualan dianggap terjadi pada akhir tahun.
2.
Pembelian
barang dagangan harga pokok 80%, dilakukan satu bulan sebelum taksiran
penjualan
3.
Pembelian
barang dagangan dilakukan secara kredit, dan pembaryarannya dilakukan satu
bulan kemudian.
4.
Gaji
dibayar setiap bulan sebesar Rp. 15 juta..
5.
Penyusutan
per bulan dibebankan Rp. 10 juta.
6.
Pada
akhir Desember dibayar bunga pinjaman sebesar Rp. 10 juta. Bunga ini adalah
untuk periode Oktober s/d Desember.
7.
Saldo
kas akhir bulan September (atau Oktober) sebesr Rp. 20 juta. Jumlah ini
merupakan jumlah yang minimal harus dipertahankan.
8.
Kalua
saldo kas melebihi jumlah kas minimal, kelebihannya akan dipergunakan untuk
mengansur hutang, dan bila kurang akan menambah hutang.
Berdasarkan
informasi tersebut bisa disusun Anggaran Kas sebagai berikut.
Anggaran Kas
PT. ANNA Oktober s/d Desember 1993
|
|
|
September
|
Oktober
|
Nopember
|
Desember
|
Januari
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
|
Penjualan
30% Tunai
70%
Dibayar satu bulan kemudian
Jumalh
penerimaan kas
Pembelian
barang dagangan (80% dari penjualan bulan yad)
Pembayaran
pembelian
Gaji
Pembayaran
bunga
Jumlah
pengeluaran kas
Surplus (deficit)
|
Rp. 120
36
Rp.
120
|
Rp. 150
45
84
Rp. 129
Rp. 144
120
15
-
Rp. 135
( 6)
|
Rp. 180
54
105
Rp. 159
Rp. 176
144
15
-
Rp 159
0
|
Rp. 220
66
126
Rp. 192
Rp. 128
176
15
10
Rp. 210
( 9)
|
Rp. 160
48
154
Rp.
202
|
|
11
12
13
14
15
16
17
|
Saldo kas
awal bulan
Surplus
(deficit)
Saldo
tanpa pinjaman
Saldo kas
minimal
Pinjam
(melunasi) (14-13)
Saldo kas
akhir bulan (13+15)
Saldo pinjam kumulatif
|
|
Rp. 20
( 6)
14
20
6
20
6
|
Rp 120
0
20
20
0
20
6
|
Rp. 20
( 9)
11
20
9
20
15
|
|
Untuk menyusun laporan rugi laba proforma, kita bisa
menyajikan sebagai berikut.
Laporan
Rugi Laba Proforma PT. ANNA, Oktober s/d Desember 1993
(dalam
jutaan)
|
Penjualan
Harga Pokok (80%
Laba Bruto
Gaji
Penyusutan
Laba Operasi
Bunga
Laba Sebelum Pajak
|
Rp. 550,0
440,0
Rp. 45,0
30,0
|
110,0
Rp. 75,0
Rp. 35,0
10,0
Rp. 25,0
|
Kita lihat bahwa selama tiga bulan
tersebut, diperkirakan perusahaan akan memperoleh laba, meskipun dipandang dari
arus kas perusahaan tidak pernah mengalami surplus.
Untuk menyusun neraca proforma, kita
perlu mengetahui terlebih dahulu neraca pada awal Oktober (atau akhir September) 1993. Misalkan neraca
tersebut adalah sebagai berikut.
Neraca
PT. ANNA pada akhir September 1993 (dalam jutaan)
|
Kas
Piutang
Persediaan
Aktiva tetap (net)
Jumlah Aktiva
|
20,0
84,0
50,0
600,0
754,0
|
Hutang dagang
Hutang bank
Modal sendiri
Jumlah kewajiban & MS
|
150,0
200,0
404,0
754,0
|
Saldo
kas akhir Desember 1993 diketahui dari anggaran kas sebesar Rp. 20 juta
Piutang
bisa dihitung sebagai berikut.
Piutang awal Rp. 84 juta
Tambahan piutang 385
juta
Rp. 469 juta
Pelunasan piutang 315
juta
Piutang akhir Rp. 154 juta
Persediaan
bisa dihitung sebagai berikut.
Persediaan awal Rp. 50 juta
Pembelian Rp. 448 juta
Rp. 498 juta
Harga pokok Rp. 440 juta
Persediaan akhir Rp 58 juta
Aktiva
tetap dihitung sebagai berikut.
Aktiva tetap awal Rp. 600 juta
Penyusutan Rp. 30 juta
Aktiva tetap akhir Rp. 570 juta
Hutang
dagang dihitung sebagai berikut.
Hutang dagang awal Rp. 150 juta
Pembelian kredit Rp. 448 juta
Rp. 598 juta
Pelunasan hutang dagang Rp. 440 juta
Hutang dagang akhir Rp. 158 juta
Hutang bank meningkat sebesar Rp. 15
juta, sehingga saldo akhirnya menjadi Rp. 215 juta. Sedangkan Modal Sendiri
bertambah sebesar Rp. 25 juta (diasumsikan ditahan semua, dan tidak membayar
pajak), sehingga Modal Sendiri naik menjadi Rp. 429 juta. Berdasarkan informasi
itu maka bisa disusun neraca proforma sebagai berikut.
Neraca
Proforma PT. ANNA akhir Desember 1993 (dalam jutaan rupiah)
|
Kas
Piutang
Persediaan
Aktiva tetap (net)
Jumlah
|
Rp. 20
154
58
570
Rp. 802
|
Hutang dagang
Hutang bank
Modal sendiri
Jumlah
|
Rp. 158
215
429
___
Rp. 802
|
Sama seperti sewaktu kita menyusun
rencana keuangan jangka panjang, kita bisa melakukan analisisi keuangan untuk
laporan keuangan proforma tersebut. Kita bisa menghitung rasio-rasio keuangan
yang kita pandang penting terhadap laporan- laporan proforma tersebut.
2.6. Penggunaan Informasi Akuntansi Differensial Dalam
Perencanaan Laba Jangka Pendek
Analisis
hubungan biaya – volume – laba merupakan teknik untuk menghitung dampak
perubahan harga jual, volume penjualan, dan biaya terhadap laba, untuk membantu
manajemen dalam perencanaan laba jangka pendek.
Kegunaan
Informasi Akuntansi Diferensial salah satunya adalah sebagai alat perencanaan
laba jangka pendek. Perencanaan laba jangka pendek dapat dilakukan dengan
melakukan analisis biaya-volume-laba.
2.6.1.
Perencanaan
Laba Jangka Pendek
Dalam penyusunan
anggaran manajemen memerlukan informasi akuntansi untuk mempertimbangkan
berbagai dampak terhadap laba akibat dipilihnya suatu alternatif. Laba
perusahaan dalam jangka pendek dipengaruhi oleh pendapatan (hasil kali volume
penjualan dengan harga jual) biaya variabel, dan biaya tetap. Manajemen
memerlukan informasi akuntansi differensial yang terdiri dari informasi
pendapatan differensial dan informasi biaya differensial, untuk
mempertimbangkan dampak perubahan volume penjualan, harga jual, dan biaya terhadap
laba perusahaan.
Analisis impas dan biaya – volume – laba merupakan
teknik yang menggunakan informasi akuntansi differensial untuk membantu
manajemen dalam perencanaan laba jangka pendek. Dengan mengetahui dampak
terhadap laba, setiap alternatif tindakan yang dipertimbangkan manajemen akan
memiliki dasar yang kuat untuk memilih, sehingga ia akan mampu mengambil
keputusan secara ekonomis rasional.
2.6.2.
Parameter-Parameter
Perencanaan Laba Jangka Pendek
1. Break
Even Point (BEP)
Merupakan
kondisi perusahaan dimana perusahaan tidak mengalami keuntungan dan tidak pula
menderita kerugian.
Artinya
perusahaan memiliki pendapatan dan biaya yang sama besarnya. Dengan kata lain,
perusahaan memiliki laba sebesar 0 dan mengalami kerugian sebesar 0 BEP dapat
dihitung dengan cara membagi biaya tetap dengan selisih antara harga dan biaya
variabel (BEP dalam unit) atau dengan contribution margin ratio/CMR (BEP dalam
jumlah uang)
2. Margin
Of Safety
Margin
of safety merupakan batas aman perusahaan untuk tidak mengalami kerugian atau
batas toleransi penurunan volume penjualan dari target penjualan perusahaan
agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
Margin
of safety dapat diperoleh dengan menghitung selisih antara target penjualan
perusahaan dengan Break Even Point (BEP)
3. Shutdown
Point
Shutdown
point merupakan kondisi dimana perusahaan harus menutup usahanya jika tidak
ingin mengalami kerugian yang lebih besar.
Shutdown
poin dapat dihitung dengan cara membagi biaya tetap tunai perusahaan dengan
selisih antara harga dan biaya variabel perusahaan atau biaya tetap tunai
dengan contribution margin ratio (CMR)
4. Degree
of Operating Leverage
Degree
of operating leverage digunakan untuk mengetahui dampak perubahan penjualan
terhadap laba bersih perusahaan, yaitu berapa persentase penjualan berakibat
terhadap persentase laba bersih.
Degree
of operating leverage dapat dihitung dengan cara membagi laba kontribusi dengan
laba bersih.
5. Laba
Kontribusi
Merupakan
keuntungan yang diperoleh perusahaan dari kegiatan perusahaan, misalnya
penjualan
Laba
kontribusi dapat diperoleh dengan cara menghitung selisih antara pendapatan
perusahaan dikurangi dengan biaya produk.
Dalam proses
penyusunan anggaran induk perusahaan, Laporan Laba-Rugi yang disusun dengan
metode variabel costing sangat membantu manajemen puncak karena pengambilan
keputusan jangka pendek umumnya menyangkut atau mengakibatkan penambahan atau
penggurangan volume kegiatan, maka informasi biaya yang dipisahkan menurut
perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan akan sangat
membantu. Dari laporan diatas manajemen dapat memperoleh berbagai parameter
(gambaran sesuatu dalam bentuk angka) berikut ini:
1. Break
Even Point
Dalam proses perencanaan laba
jangka pendek, manajemen memerlukan informasi impas untuk mempertimbangkan berbagai
usulan kegiatan. Suatu usulan kegiatan yang mengakibatkan turunnya impas akan
menarik manajemen jika dibandingkan dengan yang mengakibatkan kenaikan impas,
karena semakin rendah impas berarti semakin besar kemungkinan perusahaan
memperoleh kesempatan mendapatkan laba.
2. Margin
of Safety
Manajemen memerlukan informasi
margin of safety dari anggaran laba yang diproyeksikan dalam tahun anggaran
yang akan datang.
3. Titik
Penutupan Usaha (Shut Down Point)
Manajemen memerlukan informasi
ini, jika misalnya diketahui bahwa dari biaya tetap perusahaan sebesar Rp.
150.000.000, Rp. 100.000.000 merupakan biaya tunai, maka dalam tahun anggaran
2011, titik penutupan usaha adalah sebesar Rp. 250.000.000 (Rp. 100.000.000 :
40%), berarti dibawah pendapatan
penjualan (Rp. 500.000.000,-) maka usaha perusahaan tersebut secara ekonomis
tidak pantas dilanjutkan karena pendapatan penjualan dibawah jumlah tersebut
akan mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar biaya tunainya.
4. Degree
of Operating Leverage
Manajemen memerlukan informasi
ini yang dihitung dari data diatas adalah 4 kali (Rp. 200.000.000 : Rp.
50.000.000) yang berarti setiap 1% kenaikan pendapatan penjualan akan
mengakibatkan 4% (4 x 1%) kenaikan laba bersih. Dengan demikian usulan kegiatan
diharapkan akan menaikkan pendapatan penjualan sebesar 5%, maka dalam tahun
anggaran tersebut laba bersih perusahaan diharapkan akan mengalami kenaikan 20%
(4 x 5%).
5. Laba
Kontribusi per Unit
Laba kontribusi merupakan
kelebihan pendapatan penjualan diatas biaya variabel. Informasi ini memberikan
gambaran jumlah yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan
laba. Semakin besar laba kontribusi, semakin besar kesempatan yang diperoleh
perusahaan untuk menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan laba. Jika
informasi laba kontribusi per unit dihubungkan dengan penggunaan sumber daya
yang langka, manajemen akan memperoleh informasi berbagai macam untuk
menghasilkan laba. Ini juga memberikan landasan dalam pemilihan produk yang
mampu menghasilkan laba tertinggi dalam memanfaatkan sumber daya yang langka.
2.7. Perencanaan Keuangan dan Kebutuhan Investasi
Dalam usaha menciptakan suatu
perencanaan yang baik maka artinya manajer keuangan berusaha menempatkan kajian dari sudut efisiensi dan efektivitas.
Efisiensi dilihat dari segi biaya dan efektivitas dilihat dari segi waktu.
Dengan menjadikan kedua kajian ini sebagai base thinking diharapkan manajer
keuangan mampu untuk menciptakan suatu rencana keuangan yang ekplisit.
Meurut Stephen A. Ross dkk., untuk mengenbangkan suatu
rencana keuangan yang ekplisit, manajer harus menentukan beberapa unsur-unsur
dasar dari kebijakan keuangan perusahaan.
1.
Perusahaan
membutuhkan investasi pada asset-aset baru. Unsur ini akan timbul dari
peluang-peluang investasi yang dipilih untuk dilaksanakan perusahaan, dan
merupakan hail dari keputusan penganggaran.
2.
Tingkat
pengungkitan keuangan yang dipilih untuk dipergunakan perusahaan. Hal ini akan
menentukan jumlah pinjaman yang akan digunakan oleh perusahaan untuk mendanai
investasinya pada asset riil. Hal ini adalah kebijakan struktur modal
perusahaan.
3.
Jumlah
kas yang dirasakan perlu dan layak untuk dibayarkan kepada pemegang saham. Ini
merupakan suatu kebijakan deviden perusahaan.
4.
Jumlah
likuiditas dan modal kerja yang dibutuhkan perusahaan dalam operasi sehari-hari.
Ini adalah keputusan modal kerja bersih perusahaan.
Setiap manajer keuangan berusaha
menciptakan tingkat pertumbuhan yang ekplisit, terutama secara jangka panjang.
Banyak perusahaan yang menempatkan dana pada asset yang bersifat jangka panjang
dan penempatan asset yang bersifat jangka panjang pada umumnya berjumlah sangat
besar. Sebagai contohnya adalah pembelian mesin, tanah, bangunana, kendaraan,
dan sebagainya.
Investasi pada jumlah asset
dengan nilai yang besar menyebabkan perusahaan memikirkan kapan terjadinya
break even point. Bahkan jika break even point tidak tercapai sesuai dengan
standar waktu yang direncanakan maka artinya perencanaan perusahaan tidak
berkualitas.
2.8.Kondisi
Perencanaan Keuangan
Dalam pembuatan perencanaan
keuangan harus dipikirkan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi di kemuadian
hari. Secara umum ada tiga kondisi yang harus diantisipasi dalam pembuatan
perencanaan keuangan, yaitu :
1. Kondisi buruk
Kondisi buruk dalam dunia bisnis bisa
dipengaruhi oleh berbagai sebab, seperti resesi ekonomi, krisis moneter,
peperangan dan lain sebagainya. Dalam kondisi buruk ini suatu rencana bisnis
harus dibuatkan asumsi-asumsi dalam rangka mengantisipasi jika kondisi seperti
itu akan terjadi di kemudian hari.
2. Kondisi normal dan biasa
Pada kondisi normal suatu perusahaan
diminta membuat suatu rencana dengan menempatkan asumsi-asumsi yang akan
terjadi dalam kondisi normal. Namun tetap dengan menempatkan analisa
kehati-hatian yang mendalam jika suatu saat terjadi kondisi yang buruk.
3. Kondisi baik dan bertumbuh
Pada kondisi ini dunia bisnis berkembang
dengan baik, karena setiap perencanaan bisnis dapat dijalankan dengan baik.
Pada konteks ini Stephen A. Ross, dkk., mengatakan, “Masing-masing divisi akan
diminta untuk membuat kasus berdasarkan asumsi-asumsi yang optimis. Kasus ini
data melibatkan produk-produk dan ekspansi baru dan kemudian akan merinci pada
pendanaan yang dibutuhkan untuk mendanai eksapansi tersebut.
2.9.Model
Perencanaan Keuangan
Suatu model dibuat untuk membantu
para manajer dalam memetakan masalah secara terstruktur dan bersifat
sistematis. Model adalah sebuah usaha yang dibangun dengan berlandaskan
berbagai asumsi yang ada, dan asumsi tersebut dibuat serta diilhami dengan
berdasarkan apa yang pernah terjadi di waktu-waktu sebelumnya. Suatu model
memiliki keeratan hubungan yang kuat dengan peramalan, karena suatu model
dianggap mampu memberikan peramalan.
Menurut Stephen A. Ross dkk.,
bahwa “Masing-masing model dapat memiliki kompleksitas yang bervariasi, tetapi
hampir semuanya akan memiliki unsur-unsur yang akan dibahas sebagai berikut :
§ Ramalan
penjualan. Hampir semua rencana keuangan meminta adanya ramalan penjualan yang
diberikan secara eksternal.
§ Laporan Pro
Forma. Sebuah rencana keuangan akan memiliki ramalan neraca, laporan laba rugi,
dan laporan arus kas.
§ Persyaratan
asset. Suatu rencana keuangan kan menguraikan proyeksi belanja modal.
§ Persyaratan
keuangan. Suatu rencana keuangan akan memuat satu bagian tentang ketentuan
pendanaan yang dibituhkan. Bagian ini hendaknya mendiskusikan masalah kebijakan
dividend dan kebijakan utang.
§ Penyeimbang
(plug). Setelah perusahaan memiliki ramlan penjualan dan estimasi mengenai
belanja asset yang dibituhkan, seringkali akan dibutuhkan sejumlah pendanaan
baru karena proyeksi total asset akan melebihi proyeksi total kewajiban dan
ekuitas. Dengan kata lain neraca telah tidak seimbang lagi.
§ Asumsi-asumsi
perekonomian. Rencana tersebut akan harus menyatakan secara ekplisit lingkungan
perekonomoian di mana perusahaan berharap akan berada sepanjang umur rencana.
2.10.
Perencanaan
Keuangan dan Perencanaan Strategis
Seringkali dalam melakukan
prakiraan dan penyusunan rencana keuangan, analis cenderung menggunakan model
keuangan (financial modeling) yang rumit, tidak sesederhana model persentase
penjualan, ataupun penyusunan anggaran kas. Sebenarnya apapun model keuangan
yang diperguanakan, suatu hal yang sering terlupakan tidak diperhatikannya
aspek keuangan dalam model tersebut.
Sebagai contoh dalam penggunaan
model persentase penjaualan diatas. Pada contoh yang kita perguanakan, kita
hanya memperkirakan akan adanya peningkatan penjualan yang menghasilkan profit margin tertentu (yaitu sama
dengan tahun lalu). Sebagai akibatnya perusahaan akan memerlukan tambahan dana
dari luar perusahaan untuk mendukung tambahan aktiva lancer dan aktiva tetap.
Satu hal yang tidak terjawab dalam model tersebut adalah apakah penambahan dana
tersebut dapat dibenarkan secara ekonomi. Kita tidak mengevaluir apakah
penambahan aktiva-aktiva tersebut memang dibenarkan secara ekonomi. Dengan kata
lain, apakah penambahan dana tersebut akan meningkatkan nilai perusahaan?
Model yang kita pergunakan
ternayata tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Hal itu tidak mengherankan
karena proyeksi keuangan yang dilakukan sebenarnya yang mendasarkan diri atas
mekanisme akuntansi (apa dampaknya bagi neraca dan rugi laba di masa yang akan
dating ?). kita tidak menggunakan model untuk memperkirakan nilai perusahaan di
masa yang akan dating. Kalua kita memproyeksikan laba setelah pajak sebesar Rp.
X, maka proyeksi nilai perusahaan akan dilakukan secara tidak langsung, yaitu
dengan menggunakan Price Earning Ratio.
Apabila diperkirakan PER konstan maka nilai pasar modal sendiri akan sebesar
PER x (laba setelah pajak).
Karena itulah perencanaan
keuangan (terutama yang berjangka panjang) dilakukan bersama-sama dengan
penyusunan rencana strategis perusahaan. Perencanaan strategis merupakan upaya
yang dilakukan secara sadar untuk mempengaruhi posisi perusahaan dalam
persaingan, baik untuk masa kini dan terutama masa yang akan datang. Misal
perusahaan mungkin ingin memilih salah satu dari tiga strategi berikut dalam
pengembangan usahanya :
1)
Pertumbuhan
agresif. Strategi ini beratri perusahaan akan mencoba merebut pangsa pasar para
pesaing,akibatnya perusahaan akan memerlukan dana dari luar perusahaan dalam
jumlah yagn cukup besar.
2)
Pertumbuhan
moderat. Strategi ini berate bahwa pertumbuhan penjualan disebabkan karena
pertumbuhan permintaan dalam industri yang bersangkutan. Tudak ada upaya untuk
merebut pangsa pasae pesaing, pertumbuhan diharapkan dapat dibiayai dari hasil
operasi perusahaan(dana intern)
3)
Memperkecil
bisnis yang dilakukan. Apabila produk yang dihasilkan diperkirakan sedah berada
dalam tahap akhir kedewasaan, maka perusahaan mungkin memutuskan untuk
bersiap-siap menambah dan /atau beralih kebisnis yang lain. Dana dari bisnis
saat ini akan diinvestasikan kebisnis lain.
Dengan demikian pemilihan
strategi perusahaan akan membawa dampak pada pembiayaan yang harus disediakan
oleh perusahaan. Masalah pendanaan ekstern dapat dipenuhi bukan hanya dari
hutang tetapi juga menambah modal sendiri. Karena itu alternative penghimpuan
dana dari pasar modal akan menjadi salah satu alternative yang dipertimbangkan.
Perencanaan
keuangan hendaknya dilakukan dalam konteks suatu rencana strategis yang tertera
dengan baik, yang didalamnya terkandung beberapa unsur. Pertama, rencana tersebut hendaknya dimulai dengan
suatu pernyataan misi (mission statement).
Misalnya, kalimat pertama pernyataan misi PepsiCo mengatakan bahwa tujuannya
adalah untuk “meningkatkan nilai investasi pemegang saham kami” tetapi juga
mempertimbangkan dampak tindakannya pada pelanggan dan lingkungan. Perusahaan
berfokus pada penciptaan kenkayaan bagi pemegang saham merupakan sesuatu yang
umum di Amerika Serikat dan berbagai negara maju di seluruh dunia.
Unsur penting kedua dalam rencana
strategis adalah suatu pernyataan tentang lingkungan
korporasi (corporate scope)
perusahaan, yang artinya lini usaha rencanannya akan dilakukan dan wilayah
geografis dimana perusahaan akan beroperasi. Studi menunjukkan bahwa investor
pada umumnya memberikan penilaian yang lebih tinggi kepada perusahaan yang
memiliki focus dibandingkan dengan perusahaan yang terdiversifikasi. Namun,
jika suatu perusahaan berhasil menggabungkan kelompok usaha-usaha yang
terdiversifikasi sehingga mereka bis aling membantu, seperti yang dilakukan
oleh GE, maka hal ini dapat menghasilkan dampak sinergis yang meningkatkan
nilai perusahaan secara keseluruhan. Apa pun yang terjadi, lingkungan korporasi
yang dinyatakan seharusnya menciptakan indera usaha yang baik dan kinsisten
dengan kemampuan perusahaan.
Unsur penting ketiga dalam
rencana perusahaan adalah pernyataan
tujuan perusahaan (statement of corporate objective), yang menyatakan bahwa
sasaran-sasaran spesifik yang diharapkan akan dipenuhi oleh manajer operasi.
Sebagaian besar perusahaan memiliki tujuan kualitatif maupun kuantitatif.
Misalnya, suatu perusahaan mungkin memiliki tujuan tingkat pertumbuhan penjualan
sebesar 8 %, menjaga peringkat obligasi A atau lebih baik, ROE dalam kuartil
atas industrinya, dan pengembalian pemegang saham yang berada dalam perempat
teratas perusahaan S&P 500. Dalam laporan tahunannya yang terakhir, GE
menunjukan bahwa perusahaan memiliki beberapa sasaran seperti itu, termasuk
sasaran dalam menghasilkan arus kas operasi sebesar $20 miliar pertahun, yang
akan digunakan untuk dividen, pembelian kembali saham, dan investasi untuk
menumbuhkan usaha. 11 unit usaha GE masing-masing memiliki suatu sasaran
profitabilitas dan sasaran arus kas, serta kompensasi eksekutif, yang
didasarkan atas pencapian sasaran-sasaran tersebut. Pemegang saham GE tentunya
juga akan mendapat keuntungan jika para eksekutif mampu mencapai sasarannya.
Sekumpulan strategi perusahaan (corporate
strategis) yang menyatakan bagaimana
perusahaan berencana untuk mencapai sasarannya adalah unsur keempat dalam
rencana perusahaan. Misalnya, Nucor Corporation, yang saat ini merupakan
perusahaan baja AS dengan nilai pasar tertinggi, dalam strategi perusahaannya
memiliki rencana untuk membangun tungku listrik yang kan membuat produk –
produk baja dari besi tua dan bukan bijih besi seperti yang dilakukan oleh
perusahaan baja lainnya. Strategi Nucor menghasilkan kenaikan harga saham yang
sangat besar di saat perusahaan baja lainnya mengalami kemorosotan.
SouthwestAirlines memiliki strategi yang memberikan satu kelas layanan berbiaya
rendah yang efisien diantara wilayah-wilayah metropolitan besar, dengan tenaga
kerja yang tidak memiliki serikat kerja, yang merupakan suatu pendekatan yang
sangat jauh berbeda dengan sebagaian besar maskapai penerbangan lainnya.
Southwest mengalami pertumbuhan sementara sebagaian besar maskapai penerbangan
yang lain entah itu telah bangkrut atau sedang berada di jurang kebangkrutan.
Contoh-contoh ini menunjukkan betapa penting arti dari rencana strategi yang
baik.
Suatu rencana operasi (operating plan) yang rinci untuk setiap unit adalah unsur kelima
dari rencana perusahaan secara keseluruhan. Disini, setiap manajemen unit
diberikan panduan implementasi rinci, yang didasarkan atas strategi perusahaan,
guna membantu manajemen mencapai tujuan perusahaan. Rencana operasi dapat
disusun untuk rentang waktu lima tahun. Rencana ini menjelaskan dalam tingkat
detail yang cukup tinggi siapa yang bertanggung jawab untuk setiap tindakan
tertentu, kapan tugas spesifik akan tercapai, berapa sasaran penjualan dan
laba, serta sejenisnya.
Rencana keuangan (financial plan) adalah unsur
terakhir dari rencana penjualan secara keseluruhan. Akan disusun rencana yang
terpisah untuk menunjukkan proyeksi hasil seluruh perusahaan. Inti dari rencana
keuangan adalah set laporan keuangan proyeksi, dengan sejumlah rasio yang
didasarkan atas laporan tersebut, untuk unit-unit secara terpisah dan
konsolidasi perusahaan. Proyeksi kasus dasar menunjukkan hasil yang diharapkan
jika seluruh asumsi peramalan persisi terjadi. Namun, keadaan jarang berjalan
sesuai dengan renacana, sehingga hasil menurut scenario-skenario abernati juga
diberikan. Misalnya, kasus dasar perusahaan mungkin berasumsi perekonomian yang
kuat, tetapi adanya serangan teroris 9 September, atau harga minyak $300 per
barrel, dapat mengubah keadaan secara substansial. Jadi, rencana keuangan
sebaiknya dirancang untuk memberikan indikasi kepada manajemen tentang yang
akan terjadi jika peristiwa lain seperti itu terjadi.
Laporan keuangan
juga digunakan untuk melihat dampak strategi dari rencana operasi alternative.
Suatu perusahaan seperti Southwest Airlines dapat menggunakan model keuangannya
untuk melakukan simulasi hasil-hasil beberapa strategi dalam berbagai kondisis
perekonomian. Southwest menyimpulkan bahwa biaya bahan bakar jet yang tinggi
merupakan suatu kemungkinan yang sangat
mungkin terjadi dan kenaikan itu akan memberikan dampak yang sangat
merugikan pada biaya dan laba. Berdasarkan atas ramalan tersebut, perusahaan
memutuskan untuk melakukan lindung nilai
atas biaya bahan bakarnya (yaitu secara tidak langsung membeli bahan bakar di depan) dan juga berinvestasi pada pesawat
yang paling efisien menggunakan bahan bakar yang tersedia saat ini. Strategi
tersebut ternyata terbukti benar, dan perencanaan serta peramalan keuangan yang
efektif mampu membantu mengambil keputusan yang tepat
2.11.
Perencanaan dan
Pengendalian Keuangan
Dalam membuat suatu perencanaan
dan pengendalian keuangan yang baik, suatu perusahaan akan berusaha menciptakan
semua itu memiliki tujuan dan arti yang jelas. Kejelasan itu bagi suatu
perusahaan akan terlihat dalam perjalanan proses yang berlangsung baik secara
jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu konsep perencanaan keuangan yang
tidak baik akan bisa terlihat dalam jangka pendek.
Perencanaan dan pengendalian
keuangan melibatkan proyeksi-proyeksi berdasarkan standar dan perkembangan dari
umpan balik dan proses penyesuaian untuk memperbaiki prestasi kerja.
Perencanaan keuangan mencakup penjualan, laba, dan aktiva yang didasarkan pada
alternatif strategi produksi dan pemasaran untuk kemudian bagaimana menentukan
kebutuhan pendanaannya. Perencanaan
Keuangan adalah proses dari :
1)
Menganalisis
pendanaan dan pilihan investasi yang terbuka bagi perusahaan.
2)
Memproyeksikan
konsekuensi masa yang akan datang akibat keputusan saat ini, guna menghindari
hal-hal yang tidak terduga dan hubungan antara keputusan saat ini dan masa yang
akan datang.
3)
Menentukan
alternatif mana yang akan dipilih
4)
Mengukur
hasil selanjutnya terhadap tujuan dalam rencana keuangan.
Sistem pengendalian perencanaan
keuangan perlu diterapkan pada berbagai jenis usaha bisnis. Penerapan
pengendalian intern perlu dilakukan pada seluruh kegiatan operasional
perusahaan, termasuk yang paling utama yaitu sistem penjualan tunai dan
penerimaan kas. Sistem pengendalian intern bertujuan untuk mengamankan harta
perusahaan.
Dalam pengertian yang lebih luas
perusahaan merupakan organisasi yang terdiri dari bagian yang saling
berhubungan dan bekerjasama untuk beberapa maksud atau sasaran. Perusahaan
sebagai adalah satu pelaku ekonomi yang mempunyai tujuan memperoleh laba yang
wajar, perlu memiliki program dalam melaksanakan kegiatan. Bagi perusahaan yang
mengejar keuntungan dan berusaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan
tentu akan menghadapi berbagai masalah yang akan timbul sehubungan dengan
kegiatan perusahaan.
Salah satu contoh masalah yang
dihadapi adalah bagaimana melaksanakan pengendalian terhadap biaya-biaya yang
terjadi dalam perusahaan. Pengendalian secara menyuluruh dalam perusahaan
karena hanya dengan demikian apa yang mungkin dicapai oleh perusahaan dapat
diketahui. Dalam dunia usaha, yang menjadi ukuran keberhasilan perusahaan
adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin besar laba yang
dihasilkan oleh perusahaan, maka dapat diketahui bahwa perusahaan tersebut
berhasil dengan baik dalam menjalankan usaha.
Memperbesar jumlah laba dapat
diilaksanakan melalui keputusan dengan berbagai macam cara seperti menaikkan
jumlah omset penjualan, meminimalkan biaya atau menaikkan harga jual yang
wajar. Perusahaan harus melaksanakan suatu pengendalian terhadap biaya untuk
menunjang pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan. Pengendalian biaya pada
umumnya mencakup tiga fungsi manajemen antara lain:
1. Fungsi planning melalui penetapan sasaran
dan penyusunan rencana.
2. Fungsi organizing pada tingkat
operasional.
3. Fungsi controlling melalui evaluasi
terhadap tujuan yang telah dicapai.
Setiap perusahaan yang ingin tetap
berjalan harus mampu mempertahankan eksistensinya dituntut untuk dapat bekerja
secara maksimal, efisien dan efektif. Untuk itu dibutuhkan tingkat kemampuan
manajemen untuk mengendalikan perusahaan terutama dalam meningkatkan kualitas.
Apabila mekanisme operasi perusahaan relatif masih sederhana, maka sistem
pengendalian dilakukan dengan sistem pengawasan langsung, tetapi jika
perusahaan sudah beroperasi dengan skala besar dan melibatkan beberapa bagian,
maka manajemen tidak lagi mampu mengadakan pengawsan langsung secara efektif.
Dalam hal ini sistem pengendalian perlu
dilengkapi dengan sistem pengendalian wewenang dan sistem pertanggungjawaban
dengan menggunakan laporan tertulis. Anggaran adalah merupakan salah satu alat
perencanaan keuangan perusahaan yang sekaligus dipakai sebagai dasar sistem
pengendalian (pengawasan) keuangan perusahaan. Dengan tersusunnya rencana
keuangan tersebut terhadap pimpinan perusahaan dapat lebih mudah melakukan
koordinasi dalam melakukan koordinasi dalam melaksanakan tugasnya.
Dalam proses pelaksanaan kegiatan
perusahaan kita dapat menganalisa apakah anggaran yang telah disusun dapat
terlaksana sesuai rencana yang ditetapkan sebelumnya, atau terdapat varians
dalam melaksanakan varians yang terjadi dapat dilihat pada akhir bulan atau
akhir tahun dengan cara membandingkan antara anggaran dan realisasinya. Varians
yang selalu mutlak terjadi pada setiap anggaran perusahaan perlu kita nilai apakah
varians itu dapat dianggap sebagai suatu yang wajar, artinya varians itu mutlak
dan wajar tidak dapat dihindari atau varians itu dianggap suatu yang tidap
wajar, yang disebabkan oleh kurangnya pengawsan dan terjadinya pemborosan.
Perusahaan tidak terlepas dari
perencanaan anggaran biaya operasional, mulai dari tahap persiapan yang
diperlukan sebelum penyusunan rencana penyusunan anggaran itu sendiri.
Implementasi dari rencana tersebut sampai akhir tahap pengawsan dan evaluasi
dari hasil rencana tersebut.
2.12.
Bentuk
Perencanaan Keuangan
Bentuk-bentuk rencana keuangan
dapat secara lengkap dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Neraca
Neraca merupakan laporan yang sistematis
tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat
tertentu. Menurut Fress dan Warren (1992:25), neraca adalah: “Suatu daftar
aktiva, kewajiban dan modal pemilik perusahaan pada tanggal tertentu yang
biasanya pada tanggal terahir suatu bulan atau tahun”. Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan
posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada
waktu buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal
atau tahun kelender, sehingga neraca sering disebut balance sheet.
Kegunaan dari neraca menurut Kieso dan
Weygandt (1995:252) adalah untuk:
· Perhitungan tingkat pengembalian.
· Pengevaluasian struktur modal
perusahaan.
· Penilaian likuiditas dan fleksibilitas
dari keuangan tersebut.
Artinya bahwa untuk mengadakan
pertimbangan tertentu atas resiko perusahaan dan untuk menilai arus kas masa
depan, seseorang harus menganalisa neraca dan menentukan likuiditas perusahaan
dan fleksibilitas keuangan. Likuiditas menggambarkan jumlah waktu yang
diperlukan untuk berlalu sampai dari suatu harta direalisasikan atau sebaliknya
dikonversi menjadi uang kas dan sampai suatu hutang harus dibayarkan. Pada
dasarnya fleksibilitas keuangan adalah kemampuan suatu perusahaan untuk
mengambil tindakan efektif guna mengubah jumlah dan waktu arus kas sehingga ia
dapat tanggap terhadap kebutuhan dan peluang yang tidak terduga.[2]
Beberapa keterbatasan neraca menurut
Smith dan Skousen (1993:151), adalah sebagai berikut:
a.
Para
pemakai ekstern acap kali ingin mengetahui nilai perusahaan, pada dasarnya
neraca tidak mencerminkan nilai berjalan dari suatu perusahaan, akan tetapi
sumber daya dan kewajiban perusahaan disajikan dengan nilai historis
berdasarkan transaksi dan kejadian dimasa lalu. Pengukuran biaya historis
menunjukkan nilai pasar yang ada pada tanggal terjadinya transaksi dan
kejadian-kejadian. Namun demikian, jika harta tertentu ternyata berubah dengan
tajam setelah tanggal perolehannya, maka angka-angka neraca tidak relevan lagi
untuk mengevaluasi nilai perusahaan.
b.
Suatu
masalah yang berkaitan dengan neraca adalah kestabilan nilai rupiah sebagai
satuan standar pengukur akuntansi. Karena adanya perubahan-perubahan harga umum
dalam ekonomi, rupiah tidak menunjukkan suatu daya beli yang konstan. Pada hal
nilai-nilai historis sumber daya dan kekayaan dinyatakan dalam neraca tidak
disesuaikan dengan perubahan-perubahan daya beli satuan pengukuran. Hasilnya
adalah suatu neraca yang mencerminkan harta, hutang dan kekayaan dalam satuan
daya beli tyang berbeda-beda.
c.
Keterbatasan
lainnya dari neraca juga berkaitan dengan kebutuhan pembanding, dimana
perusahaan-perusahaan tidak mengklasifikasikan dan melaporkan pos-pos yang
serupa secara sama. Sebagai contoh, nama dan klasifikasi perkiraaan bervariasi,
beberapa perusahaan membuat lebih terperinci dari pada yang lain, dan beberapa
perusahaan dengan transaksi yang benar-benar sama ternyata melaporkan secara
berbeda-beda. Perbedaan tersebut mengakibatkan pembandingan sulit dilakukan dan
mengurangi nilai potensial analisa neraca.
d.
Neraca
juga dianggap memiliki beberapa kelemahan dalam bidang lainnya, terutama akibat
masalah pengukuran beberapa sumber daya dan kewajiban tidak dilaporkan pada
neraca.
2) Laporan Laba Rugi
Laporan rugi laba merupakan suatu
laporan sistematis tentang pendapatan/ hasil usaha, beban, laba perusahaan atau
rugi yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Menurut
Keiso dan Waygandt (1995:177), perhitungan laba rugi adalah: “Laporan yang
mengukur keberhasilan operasi perusahaan untuk suatu periode waktu tertentu.”
Pentingnya perhitungan laba rugi karena beberapa alasan, alasan utamanya adalah
bahwa laporan yang membantu mereka dalam meramalkan jumlah, waktu dan ketidak
pastian dari arus kas masa depan. Ramalan yang akurat akan arus kas masa depan
membantu investor untuk menilai ekonomi perusahaan dan kreditur sehingga dapat
menentukan profitabilitas dari pembayaran kembali sahamnya terhadap perusahaan.
Perhitungan laba rugi membantu pemakai
laporan keuangan untuk meramalkan arus kas masa depan dalam beberapa cara yang
berbeda (Keiso dan Waygandt, 1995:179)
a)
Investor
dan kreditor dapat menggunakan informasi pada perhitungan laba rugi untuk
mengevaluasi prestasi masa lalu perusahaan. Keberhasilan pada masa yang akan
datang kecenderungan penting dapat ditentukan. Artinya jika suatu korelasi
antara prestsi masa lalu dan masa depan dapat diasumsikan, maka prediksi atas
arus kas masa depan dapat dibuat dengan kenyakinan tertentu.
b) Perhitungan laba
rugi membantu pemakai menentukan resiko (tingkat ketidakpastian) dari tidak
mencapai arus kas tertentu. Informasi mengenai berbagai komponen laba
pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian menyoroti hubungan di antara
berbagai komponen ini. Komponen ini memungkinkan seseorang, misalnya untuk
menilai secara lebih baik perubahan dalam permintaan akan produk suatu perusahaan
terhadap penetapan beban.
3) Peramalan
Penjualan
Peramalan penjualan sangat penting dalam
perencanaan dan pengambilan keputusan khususnya di bidang produksi. Selain itu
perusahaan dapat mengetahui aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan dikemudian
hari seperti perencanaan dan penjadwalan produksi dengan mempertimbangkan
kapasitas pabrik atau perencanaan tenaga kerja. Peramalan penjualan adalah
suatu usaha untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang melalui pengujian
keadaan di masa lalu.
Peramalan (forecasting) penjualan
merupakan alat bantu yang penting dalam perencanaan yang efektif dan efisien
khususnya dalam bidang ekonomi. Peramalan mempunyai peranan langsung pada
peristiwa eksternal yang pada umumnya berada diluar kendali manajemen” (Yamit,
2000:36).
Pada dasarnya peramalan penjualan dapat
dibedakan menjadi dua yaitu: peramalan subyektif, yaitu peramalan yang
didasarkan atas perasaan orang yang
menyusunnya. Dalam hal ini pandangan orang yang menyusunnya sangat menentukan
baik tidaknya hasil ramalan tersebut. Kedua yaitu peramalan yang obyektif ,
yaitu peramalan yang didasarkan atas data yang relevan pada masa lalu dengan
menggunakan metode-metode dalam penganalisaan tersebut.
Menurut Yamit (2000:37): “Metode
peramalan permintaan atau penjualan dapat dibagi menjadi dua kategori utama,
yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif”. Metode kuantitatif dibagi ke
dalam deret berkala atau runtun waktu (time series) dan metode kausal,
sedangkan metode kualitatif dibagi menjadi metode eksploratoris dan normatif.
Metode kuantitatif sangat beragam dan
setiap teknik memiliki sifat, ketepatan dan biaya tertentu yang harus
dipertimbangkan dalam memilih metode tersebut. Metode kuantitatif formal
didasarkan atas prinsip-prinsip statistik yang memiliki tingkat ketepatan yang
tinggi atau dapat meminimumkan kesalahan (error), lebih sistematis, dan lebih
populer dalam penggunaannya. Untuk menggunakan metode kuantitatif terdapat tiga
kondisi yang harus dipenuhi yaitu meliputi:
Ø Tersedia
informasi tentang masa lalu.
Ø Informasi
tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numerik.
Ø Diasumsikan
bahwa beberapa pola masa lalu akan terus berlanjut.
4)
Metode
Peramalan Keuangan
Model yang dapat digunakan dalam
peramalan keuangan yaitu meliputi :
- Metode
Rasio Konstan (constant ratio method)
Metode rasio konstan (constant
ratio method) merupakan suatu metode untuk meramalkan laporan keuangan dan
kebutuhan keuangan di masa mendatang, dengan asumsi asumsi rasio-rasio keuangan
tertentu akan tetap konstan (Brigham dan Houston, 1999:120).
- Metode
Regresi Linier
Metode ini mencari hubungan
regresi dari variabel dependen (semua pos aktiva dan pasiva yang terkait dengan
penjualan) dengan variabel independen (tingkat penjualan) dan menyatakan
hubungan tersebut dalam persamaan regresi (Husnan, 1992).
Regresi adalah suatu model
matematis yang dapat digunakan untuk mengetahui pola hubungan antara dua
variabel atau lebih. Tujuan utama analisis regresi adalah untuk membuat ramalan
nilai suatu variabel (variabel dependen) jika nilai variabel lainna (variabel
independen) sudah ditentukan (Algifari, 1997 :112).
Untuk meramalkan nilai suatu
variabel dependen bila variabel independen diketahui digunakan persamaan garis
regresi dengan persamaan sebagai berikut :
Y = a + bX
Keterangan :
Y = adalah variabel dependen
a = adalah
intersep (titik potong kurva terhadap sumbu Y)
b = adalah
kemiringan (slope) kurva linier
X = adalah
variabel independen
Berdasarkan persamaan di atas
dapat digunakan untuk menaksir nilai Y, jika nilai a, b, dan X diketahui. Nilai
a merupakan nilai Y yang dipotong oleh kurva linier pada sumbu vertikal Y (a
adalah nilai Y, bila X = 0). Nilai b adalah kemiringan (slope) kurva linier yang menunjukkan
besarnya perubahan nilai Y sebagai akibat perubahan setiap unit nilai X. Besarnya
nilai a dan b konstan sepanjang kurva linear.
Persamaan regresi digunakan untuk
meramal nilai pos-pos tersebut untuk masa yang akan datang. Dari sini dapat
disusun neraca proforma untuk tahun yang akan datang. Dengan mengurangkan total
kewajiban dari total aktiva pada neraca proforma ini, kebutuhan tambahan dana
untuk tahun yang akan datang dapat ditentukan.
- Metode
Prosentase Penjualan
Metode-metode lain yang dapat
digunakan dalam peramalan, antara lain : (Husnan, 1982:113).
1.
Metode
diagram pencar atau regresi
Metode prosentase penjualan
adalah metode untuk mengembangkan laporan laba rugi proforma yang menyatakan
harga pokok penjualan, biaya operasi dan biaya bungan sebagai prosentase dari
penjualan yang sudah diproyeksikan (Sundjaja dan Barlian, 2003:173).
Metode ini meramal aktiva dan
pasiva untuk periode mendatang sebagai prosentase dari ramalan penjualan.
Prosentase yang dipergunakan bisa diambil dari laporan keuangan yang terbaru
dari penjualan berjalan (current sales), atau dari perhitungan rata-rata
beberapa tahun, atau dari penilaian analis, atau dari kombinasi sumber-sumber
tersebut. Setelah ramalan untuk pos-pos yang terkait dengan penjualan didapat,
hasil tersebut diterapkan pada formula ,matematis yang telah ditetapkan untuk
menentukan kebutuhan dana. Rumus untuk meramal kebutuhan dana menggunakan
metode prosentase penjualan sebagai berikut: (Weston dan Copeland, 1992:320).
Dana ekstern yang dibutuhkan =
Keterangan :
= Harta yang bertambah secara spontan sesuai dengan
pendapatan atau penjualan total yang
dinyatakan dalam prosentase dari pendapatan (penjualan) total.
= Kewajiban
yang bertambah secara spontan sesuai dengan pendapatan total yang dinyatakan
dalam presen dari pendapatan atau penjualan total.
= Perubahan
dalam pendapatan atau penjualan total.
= Marjin laba
terhadap penjualan.
= Proyeksi
pendapatan untuk tahun itu.
= Rasio
retensi laba.( laba ditahan )
2.
Metode
regresi berganda.
3.
Metode
regresi “curviliniear”.
Perbandingan antar metode peramalan:
a. Metode
prosentase penjualan
Metode ini menganggap bahwa
rekening-rekening neraca tertentu bervariasi secara langsung dengan penjualan,
yaitu bahwa perbandingan rekening-rekening tertentu dengan penjualan adalah
konstan.
b. Metode
regresi
Metode ini adalah lebih baik
karena rasio aktiva dan kewajiban dengan penjualan tidak dianggap konstan
seperti pada metode prosentase penjualan.
5)
Hubungan
Antara Pertumbuhan Penjualan dan Kebutuhan Keuangan
Makin pesat pertumbuhan penjualan, makin
besar pula kebutuhannya akan pembiayaan tambahan. Adapun hubungan tersebut
yaitu meliputi:
a.
Kelayakan
Keuangan
Pada tingkat pertumbuhan yang rendah, perusahaan
tidak membutuhkan pembiayaan eksternal, bahkan kas surplus. Akan tetapi perusahaan
tersebut tumbuh lebih pesat maka modal dari sumber eksternal harus diusahakan.
Selanjutnya makin cepat tingkat pertumbuhan, makin besar kebutuhan modal.
b.
Pengaruh
Kebijakan Dividen Terhadap Kebutuhan Pembiayaan
Kebijakan pembayaran deviden seperti tercermin pada
rasio pembayaran deviden juga mempengaruhi kebutuhan modal eksternal.Makin
tinggi rasio pembayaran deviden makin kecil penambahan laba yang ditahan,
sehingga makin besar pula modal eksternal yang diperlukan.
c.
Kepadatan
Modal
Jumlah aktiva yang diperlukan untuk setiap dolar
penjualan yaitu sering disebut rasio kepadatan modal (capital intensity ratio).
Rasio ini berpengaruh besar terhadap kebutuhan modal. Jika rasio kepadatan
modal rendah, penjualan bisa tumbuh pesat tanpa terlalu banyak modal dari luar.
Akan tetapi jika perusahaan bersangkutan padat modal, pertumbuhan yang kecil
sekalipun akan memerlukan sejumlah besar modal dari luar.
d.
Marjin
Laba
Margin laba merupakan determinan penting dalam
persamaan kebutuhan modal, makin tinggi margin makin rendah kebutuhan akan
dana. Dalam bentuk grafik suatu kenaikan dalam margin menyebabkan garis
persamaan kebutuhan modal akan menurun.
2.13.
Langkah-langkah
Perencanaan Keuangan
Langkah-langkah dalam penyusunan
rencana keuangan. (Gitosudarmo dan Basri, 1999:268-269) meliputi :
a)
Merencanakan
keuangan adalah merumuskan (formulasi) terhadap tujuan jangka panjang, dapat
berupa tujuan untuk dapat tumbuh menjadi perusahaan yang bertingkat nasional
atau internasional.
b)
Formulasi
dari politik keuangan perusahan. Formulasi ini akan menjadi pedoman bagi segala
kegiatan bisnisnya, dan dalam hal perencanaan keuangan ini sangat diperlukan.
Oleh karena dalam hal ini sangat diperlukan adanya forecasting guna memperkirakan
perubahan-perubahan terhadap factor-faktor yang terdapat dalam formulasi
rencana keuangan dari bisnis itu.
c)
Pembentukan
prosedur. Dimaksud untuk menciptakan koordinasi yang baik dari setiap
aktivitas yang saling berhubungan,
sehingga tidak terjadi bertabrakan, saling lempar tanggung jawab.
d) Mengusahakan
adanya fleksibilitas. Keadaan ekonomi saat ini berada dalam keadaan dinamis dan
selalu meningkat. Oleh karena itu manajemen harus selalu mempersiapkan adanya
flesibilitas (keluwesan) di dalam rencana-rencana, terutama recana jangka
pendeknya. Vareabel budged adalah salah satu bentuk yang tepat untuk
diterapkan.
Langkah-langkah
dalam penyusunan rencana (Gitosudarmo dan Basri, 1999:268-269) meliputi :
a. Langkah
pertama dalam merencanakan keuangan adalah merumuskan (formulasi) terhadap
tujuan jangka panjang, dapat berupa tujuan untuk dapat tumbuh menjadi
perusahaan yang bertingkat nasional atau internasional.
b. Langkah
kedua adalah berupa formulasi dari politik keuangan perusahan.
Formulasi ini akan menjadi
pedoman bagi segala kegiatan bisnisnya, dan dalam hal perencanaan keuangan ini
sangat diperlukan. Oleh karena dalam hal ini sangat diperlukan adanya forecasting guna memperkirakan
perubahan-perubahan terhadap factor-faktor yang terdapat dalam formulasi
rencana keuangan dari bisnis itu.
c. Langkah
ketiga adalah pembentukan prosedur
Dimaksud untuk menciptakan
koordinasi yang baik dari setiap aktivitas
yang saling berhubungan, sehingga tidak terjadi bertabrakan, saling
lempar tanggung jawab.
d. Langkah
yang terakhir adalah mengusahakan adanya fleksibilitas.
Keadaan ekonomi saat ini berada
dalam keadaan dinamis dan selalu meningkat. Oleh karena itu manajemen harus
selalu mempersiapkan adanya flesibilitas (keluwesan) di dalam rencana-rencana,
terutama recana jangka pendeknya. Vareabel budged adalah salah satu bentuk yang
tepat untuk diterapkan.
Menurut
Brigham dan Huston, (1999:117) proses perencanaan keuangan dimulai dengan:
4.
Ramalan Penjualan
Ramalan penjualan (sales
forecast) umumnya dimulai demgam
tinjauan atas penjualan lima atau sepuluh tahun yang lalu, yang biasanya
dinyatakan dalam bentuk grafik pertumbuhan penjualan untuk 5 tahun terakhir
(Brigham dan Houston, 1999:117). Ramalan penjualan dibuat dengan mencoba
mengukur volume penjualan di masa yang akan dating. Pengukuran tersebut dapat
dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran secara kualitatif
biasanya menggunakan metode statistic dan matematik, sedangkan pengukuran
secara kualitatif biasanya menggunkan judgement/pendapatan.
5.
Peramalan laporan Keuangan,
langkah-langkahnya:
a)
Meramalkan laporan rugi laba
Laporan
rugi laba untuk tahun mendatang diramalkan untuk mendapatkan suatu estimasi
atas laba yang dilaporkan dan jumlah laba yang ditahan yang akan
dihasilkan perusahaan selama tahun
trsebut. Hal ini memerlukan asumsi-asumsi tentang risiko biaya operasi, tarip pajak,
beban bunga dan rasio pembayaran dividen. Dalam kasus yang paling sederhana,
dibuat asumsi bahwa biaya akan naik dengan laju yang sma sejalan dengan
kenaikan penjualan dalam situasi yang lebih rumut, biaya-biaya tertentu akan
diramalkan secara terpisah. Namun,
tujuan utana dari peramalan ini adalah untuk menentukan beberapa banyak laba
yang akan diperoleh perusahaan dan tahun untuk diinvestasikan kembali dlam
tahun yang diramalkan.
b)
Meramalkan neraca
Jika
penjualan dinaikkan, maka aktivitasnya harus tumbuh. Karena perusahan
beroperasi pada kapasitas yang penuh, maka setiap pos aktivitas harus ditambah
jika ingin penjualan yang lebih tinggi untuk dicapai. Lebih banyak kas yang
dibutuhkan untuk transaksi, penjualan yang lebih tinggi akan menyebabkan piutang
yang lebih besar, persediaan tambahan harus disimpan, dan pabrik serta peralatan baru harus bitambah.
c)
Mendapatkan dan tambahan yang diperlukan
Dana
tambahan nyang diperlukan (AFN= Additional Fund Needed) adalah dana yang harus
diperoleh perusahaan secara ekternal melalui pinjaman atau dengan menjual saham
biasa atau preferen baru.
2.14.
Manfaat Belajar
Finansial Planner
1) Kenaikan Pengeluaran dan Pendapatan Tidak
Seimbang
Inflasi atau kenaikan harga
barang-barang menyebabkan daya beli berkurang. Meskipun kalau dihitung-hitung
kenaikan UMR per-tahunnya bisa melebihi angka inflasi yang ditetapkan
Pemerintah, sayangnya yang dihadapi adalah inflasi personal yang nilainya bisa
lebih besar dari angka inflasi umum. Financial planning memberi tau kita masalah
ini dan juga memberikan solusinya.
2) Agar tidak mudah di tipu
Dengan belajar financial planning,
literasi tentang produk keuangan akan makin bertambah sehingga paling tidak
ketika kita menggunakan suatu produk keuangan, kita sudah mengetahui dengan pasti
return dan segala risiko yang akan dihadapi.
3) Agar tahu pilihan produk investasi
Produk investasi yang ada di Indonesia
semakin bertambah setiap tahun, baik dalam bentuk real asset maupun financial
asset. Disinilah kita dituntut untuk belajar mengetahui produk-produk investasi
tersebut melalui ilmu financial planning. Dengan demikian, kita akan memiliki
lebih banyak alternatif produk investasi, tidak lagi terbatas pada tabungan dan
deposito.
4) Umur produktif manusia terbatas
Selama hidupnya, manusia pasti
membutuhkan biaya. Nah, untuk bisa memiliki passive income saat pensiun, tentu
butuh modal yang tidak sedikit. Dalam ilmu financial planning-lah, masalah ini
menjadi salah satu tujuan keuangan yang wajib dipenuhi untuk memastikan kita bisa
menjalani masa tua dengan tenang.
5) Lebih sadar dengan kondisi keuangan
Alasan lain
kenapa butuh belajar financial planning adalah agar kita bisa lebih peduli
dengan keuangan sendiri. Karena kita dituntut untuk punya financial habit yang
baik. Contohnya, membuat anggaran pengeluaran, mencatat setiap pengeluaran
bulanan, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, membatasi penggunaan utang
konsumtif, dll. Meskipun terlihat sederhana, ternyata tidak semua orang bisa
mempraktikkannya dengan benar dalam kehidupan sehari-hari.
2.15.
Contoh Kasus
1. Hasil
Peramalan Penjualan
Sebelum
peramalan atas rekening-rekening laporan laba rugi dan neraca, maka terlebih
dahulu harus dilakukan peramalan terhadap penjualan. Dalam penyusunan atas
peramalan penjualan maka digunakan metode regresi linier, adapun data yang
digunakan dalam penyusunan peramalan penjualan tersebut yaitu penjualan tahun
2002 sampai 2006. Berdasarkan hasil laporan keuangan pada perusahaan meubel
Lindah Pasuruan, maka dapat diketahui besarnya penjualan yang secara lengkap
dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Berdasarkan
penjualan bersih tersebut maka dapat diramalkan besarnya jumlah penjualan
bersih pada tahun 2007. Untuk mengetahui hasil penjualan bersih tahun 2007 maka
sebelumnya disajikan data penjualan bersih tahun 2002 sampai 2006 yang dapat
diketahui pada Tabel 4.2 berikut:
Tabel
4.2 Penjualan Bersih perusahaan meubel Lindah Pasuruan Tahun 2002 Sampai 2006
|
No.
|
Tahun
|
Penjualan
Bersih
|
|
1
|
2002
|
6.954.005.000
|
|
2
|
2003
|
7.119.978.499
|
|
3
|
2004
|
7.657.970.661
|
|
4
|
2005
|
8.101.852.275
|
|
5
|
2006
|
8.691.867.133
|
Sumber: Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan
Berdasarkan data
penjualan tahun 2002 sampai 2006 tersebut maka dapat diketahui besarnya atau
jumlah penjualan bersih tahun 2007, dalam penelitian ini metode peramalan
penjualan yang digunakan yaitu menggunakan bahwa metode trend linier. Pada
analisis trend linier ini, persamaan yang digunakan untuk menganalisa data
adalah :
Y = a + bX
Keterangan:
Y = adalah variabel dependen
a = adalah intersep (titik potong kurva terhadap
sumbu Y)
b = adalah kemiringan (slope) kurva linier
X = adalah variabel independent
Adapun hasil
perhitungan peramalan penjualan dengan menggunakan metode trend linier dapat
dilihat pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Perhitungan
Peramalan Penjualan Pada Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan Tahun 2007
|
Tahun
|
X
|
Y
|
X²
|
X.Y
|
|
2002
|
-2
|
6.954.005.600
|
4
|
-13.908.011.200
|
|
2003
|
-1
|
7.119.978.499
|
1
|
-7.119.978.499
|
|
2004
|
0
|
7.657.970.661
|
0
|
0
|
|
2005
|
1
|
8.101.852.275
|
4
|
8.101.852.275
|
|
2006
|
2
|
8.691.867.133
|
1
|
17.383.734.266
|
|
S
|
0
|
38.525.674.168
|
10
|
4.457.596.842
|
Sumber: Perusahaan Meubel Lindah
Pasuruan
Berdasarkan perhitungan di atas, maka
dapat diketahui hasil ramalan penjualan untuk tahun 2007 adalah sebagai berikut
:
Nilai koefisien a dan b diperoleh dari
persamaan:
a = 7.705.134.834 dan b = 445.759.684
Dari hasil koefisien a dan b maka kalau
dimasukkan ke dalam persamaan yaitu sebagai berikut:
Y
= 7.705.134.834 + 445.759.684 (x)
=
7.705.134.834 + 445.759.684 (3)
=
Rp 9.042.413.886
Berdasarkan persamaaan di atas maka
dapat diperoleh peramalan tingkat penjualan dengan menggunakan metode trend
linier pada Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp
9.042.413.886,00.
2. Hasil
Perhitungan Tingkat Pertumbuhan Penjualan
Berdasarkan hasil estimasi nilai
penjualan pada tahun 2007 tersebut, maka besarnya tingkat pertumbuhan penjualan
(g) pada tahun tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus: (nilai
penjualan estimasi tahun 2007-nilai penjualan realisasi tahun 2006/ (nilai
realisasi tahun 2006). Adapun secara sistematis persamaan yang digunakan untuk
mengetahui tingkat pertumbuhan penjualan yaitu:
Gst = St – St-1 X100%
St
Gst
= Tingkat Pertumbuhan Penjualan
St
= Penjualan pada tahun t
St-1
= Penjualan pada tahun t-1
Berdasarkan
rumus tingkat penjualan di atas maka dapat diketahui tingkat pertumbuhan
penjualan tahun 2002 sampai 2007. Hasil analisis pertumbuhan tingkat penjualan
pada Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan maka secara lengkap dapat dilihat pada
tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4.
Pertumbuhan Penjualan Pada
PerusahaaMeubel Lindah Pasuruan Tahun 2002 Sampai 2007 (Persen)
|
No
|
Tahun
|
Pertumbuhan Penjualan
|
|
1
|
2002
|
1,73%
|
|
2
|
2003
|
2,39%
|
|
3
|
2004
|
7,56%
|
|
4
|
2005
|
5,80%
|
|
5
|
2006
|
7,28%
|
|
6
|
2007
|
4,03%
|
Sumber:
Data Diolah, 2006
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat
adanya peningkatan pertumbuhan penjualan yaitu untuk tahun 2002 sebesar 1,73%,
tahun 2003 naik sebesar 0,653% menjadi 2,39% pada tahun 2003, tahun 2004
sebesar 7,56% dan mengalami peningkatan sebesar 5,169% menjadi sebesar 7,56%
pada tahun 2004. Pertumbuhan penjualan mengalami penurunan sebesar 1,79% pada
tahun 2005 apabila dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar 7,28% sedangkan pada
tahun 2007 terjadi penurunan sebesar 3,25% menjadi sebesar 4,03% pada tahun
2007. Berdasarkan hasil tersebut membuktikan bahwa dalam kurun waktu tahun 2002
sampai 2007 jumlah permintaan konsumen terhadap produk mengalami berfluktuasi dan
pada akhirnya menurunkan volume penjualan pada tahun 2007, sedangkan pada sisi
yang lain terjadinya persaingan dari perusahaan lain yang memproduksi produk
sejenis.
3.
Tabulasi
Laporan Laba Rugi
Langkah pertama penerapan metode
peramalan laporan keuangan adalah meramalkan laporan laba rugi. Dengan tingkat
pertumbuhan penjualan sebesar 4,03% maka menurut metode rasio konstan, rekening
beban pokok penjualan dan beban usaha akan meningkat sebesar tingkat
pertumbuhan penjualan tersebut.
Pajak tahun berjalan besarnya rupiahnya
akan mengalami perubahan, tetapi besarnya perubahan tidak sama dengan dengan
besarnya tingkat pertumbuhan penjualan. Beban pajak dihitung dengan mengalikan
antara laba sebelum manfaat (beban) pajak dengan tingkat atau tarif pajak.
Tarif pajak yang diberlakukan dengan ketentuan perpajakan yaitu:
Laba
kena pajak
Tarif
Pajak
Sampai
dengan Rp 25.000.000,00 10%
Rp
25.000.000,00 s/d Rp 50.000.000,00 15%
Di
atas Rp 25.000.000,00
30%
Rekening-rekening lain yang diasumsikan
mengalami perubahan sebesar tingkat pertumbuhan penjualan rekening rugi (laba).
Perubahan rekening yang terakhir adalah pembayaran deviden. Untuk mengetahui
pengalokasian atas tingkat pertumbuhan penjualan sebesar 4,03% maka menurut
metode rasio konstan pada laporan laba rugi perusahaan maka secara lengkap
dapat dilihat pada tabel 4.5. Pada tabel 4.5 dapat diketahui atas alokasi
besarnya tingkat pertumbuhan penjualan pada setiap rekening laba rugi yaitu
meliputi penjualan bersih, beban pokok penjualan dan biaya operasional. Hal itu
dikarenakan pada keempat rekening tersebut secara langsung berpengaruh terhadap
pertumbuhan penjualan, sedangkan untuk rekening yang lain bersifat konstan
seperti pada tahun sebelumnya.
Tabel 4.5. Laporan Laba Rugi Aktual
Tahun 2006 dan Proyeksi Tahun 2007 Pada
Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan.
|
Rekening
(1)
|
Aktual 2006
(2)
|
Dasar Ramalan
(3)
|
Ramalan 2007
(4)
|
|
Penjualan
Tunai
Penjualan
Kredit
Total
Penjualan
|
3.952.500.760
4.739.366.373
8.691.867.133
|
x 1,040
|
9.039.541.818
|
|
HPP
|
7.065.023.670
|
x 1,040
|
7.347.624.617
|
|
Laba/Rugi Kotor
|
1.691.917.202
|
-
|
1.626.843.463
|
|
Biaya Operasional
|
|
-
|
|
|
Gaji
|
31.445.141
|
x 1,040
|
327.029.470
|
|
Telepon dan Listrik
|
50.715.000
|
x 1,040
|
52.743.600
|
|
Biaya alat tulis kantor
|
10.210.400
|
x 1,040
|
10.618.816
|
|
Biaya Promosi
|
21.560.600
|
x 1,040
|
22.423.024
|
|
Biaya Pengembangan SDM
|
25.712.500
|
x 1,040
|
26.741.000
|
|
Biaya Penyusutan Bangunan
|
182.554.650
|
-
|
182.554.650
|
|
Biaya Penyusutan mesin
|
73.331.575
|
-
|
73.331.575
|
|
Biaya penyusutan peralatan kantor
|
12.671.930
|
-
|
12.671.930
|
|
Biaya penyusutan kendaraan
|
198.713.390
|
-
|
198.713.390
|
|
Jumlah Biaya operasional
|
889.921.458
|
-
|
906.827.455
|
|
Biaya Bunga
|
31.835.420
|
-
|
31.835.420
|
|
Total
|
921.756.879
|
-
|
938.662.875
|
|
Laba Operasi
|
705.086.584
|
-
|
753.254.327
|
|
Pajak
|
194.025.975
|
-
|
208.476.298
|
|
Laba Bersih
|
511.060.609
|
-
|
544.778.029
|
Sumber
: Data Diolah, 2006
4.
Tabulasi
Neraca
Langkah kedua penerapan metode
peramalan laporan keuangan adalah meramal neraca. Dalam peramalan neraca ini,
rekening-rekening yang diasumsikan mengalami peningkatan sebesar tingkat
pertumbuhan penjualan meliputi:
- Seluruh rekening aktiva yang terdapat
pada aktiva lancar.
- Seluruh rekening yang ada dalam
aktiva tidak lancar.
- Seluruh rekening yang terdapat pada
kewajiban lancar.
- Kewajiban pajak tangguhan-bersih dan
estimasi kewajiban imbalan kerja.
Rekening-rekening yang diasumsikan mengalami
peningkatan yang tidak sama dengan besarnya tingkat pertumbuhan penjualan yaitu
meliputi:
1. Hutang bank
2. Modal sendiri
Besarnya tambahan dana dari pinjaman
jangka panjang didasarkan pada besarnya kekurangan pasiva total dari aktiva totalnya.
Dana yang diperlukan ini disebut dengan dana tambahan yang diperlukan (AFN).
Untuk besarnya laba ditahan, perhitungannya dilakukan dengan cara mengurangkan
besarnya deviden total dari laba bersih perusahaan. Hasil ini dapat langsung
diperoleh dari hasil perhitungan pada analisis peramalan laporan laba rugi
tahun 2007.
5.
AFN (Additional Fund Needed)
Langkah terakhir penerapan metode
peramalan laporan keuangan adalah mendapatkan dana tambahan yang diperlukan.
Setelah ramalan neraca dibuat dan alokasi besarnya dana yang dibutuhkan
ditentukan, maka perusahaan tinggal mencari sumber pembelanjaan dan waktu yang
tepat. Dengan ketepatan ini diharapkan akan menghasilkan biaya modal yang
relatif rendah.
Berdasarkan hasil perhitungan maka dapat
diketahui besarnya dana tambahan yang diperlukan (AFN) yang diperlukan oleh
Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp
360.222.468,00. Untuk melakukan proporsi atas tambahan dana yang diperlukan
diasumsikan proporsinya seperti pada periode-periodenya, maka secara lengkap
dapat dihitung sebagai berikut:
1. Hutang bank
Rp 1591771049
2. Modal Sendiri
Rp 3907428031
3. Jumlah
Rp 5.499.199.080
Berdasarkan jumlah aktual pada
masing-masing rekening tersebut maka dapat dilakukan proporsi atas besarnya
dana tambahan yang diperlukan (AFN) yang diperlukan untuk masing-masing
rekening, yaitu dengan membagi jumlah masing-masing rekening dengan total
rekening yang ada dan dikalikan dengan dana tambahan yang diperlukan (AFN). Dari
hasil perhitungan menunjukkan bahwa besarnya dana tambahan yang diperlukan
(AFN) pada masing-masing rekening yaitu dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Hutang bank Rp
11.502.865
2. Modal sendiri Rp 28.244.424
3. Jumlah
Rp 39.747.289
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perencanaan keuangan merupakan
salah satu bagian dari proses perencanaan organisasi (corporate planning). Dari
perencanaan diharapkan perusahaan dapat menghindari kesalahan-kesalahan,
menghasilkan keputusan yang terbaik yang pada akhirnya mampu meningkatkan
kinerja dari suatu perusahaan.
Perencanaan keuangan dimaksudkan
untuk memperkirakan posisi dan kondisi keuangan di masa yang akan datang.
Dengan demikian dapat diperkirakan apakah kondisi perusahaan perlu menambah
dana dari luar, bagaimana profitabilitas perusahaan di masa yang akan datang
dan sebagainya.
Sebelum menyusun rencana keuangan,
maka ada beberapa hal yang harus dipahami dalam suatu perusahaan. Salah satu
hal penting yang harus dianalisis adalah arus kas suatu perusahaan. Arus dana
yang terjadi di dalam suatu perusahaan sering juga dikatakan sebagai perputaran
modal kerja. Arus dana adalah cerminan bagaimana sistem aliran dana yang
terjadi dalam suatu perusahaan. Sehingga dengan diketahui aliran dana ini, maka
bagi pihak pengambil keputusan akan dapat menentukan dalam menetapkan kebutuhan
dana perusahaan, darimana akan dibiayai serta bagaimana penggunaannya.
Dalam membuat suatu perencanaan dan
pengendalian keuangan yang baik, suatu perusahaan akan berusaha menciptakan
semua itu memiliki tujuan dan arti yang jelas. Kejelasan itu bagi suatu
perusahaan akan terlihat dalam perjalanan proses yang berlangsung baik secara
jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu konsep perencanaan keuangan yang
tidak baik akan bisa terlihat dalam jangka pendek.
DAFTAR PUSTAKA
Brigham &
Houston, 1999, Manajemen Keuangan, Buku
Kedua, Edisi Ketiga, Penerbit Erlangga, Jakarta
Hanafi, Mamduh,
M & Halim Abdul, 2000, Analisi Laporan Keuangan. UPP AMD
YKPN, Yogyakarta
Drs. R. Agus
Sartono, M.B.A, 2008, Manajemen Keuangan : Teori dan Aplikasi,
Buku Kedua, Edisi 4, BPFE, Yogyakarta
Suad Husnan dan
Enny Pudjiastuti, 1998, Dasar-
Dasar Manajemen Keuangan, Buku Pertama, Edisi Kedua,UPP AMP YKPN,
Yogyakarta
Dr. Suad Husnan,M.B.A, 1996, Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang), Buku Pertama, Edisi 4, BPFE, Yogyakarta
Sumber Jurnal :
Lia Retnawati, Titin Yuliana, Eka
Yudhyana, Anggaran Penjualan Sebagai Dasar Perencanaan Keuangan Pada PT. EURO P2P
Direct Indo Di Samarinda,
Jurnal, FE Universitas 17 Agustus 1945, Samarinda
Amanita
Novi Yushita, 2017, Pentingnya Literasi Keuangan Bagi
Pengelolaan Keuangan Pribadi, Universitas
Negeri Yogyakarta, Vol 4 No 1 2017, Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar