MAKALAH
PERENCANAAN KEUANGAN
Disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Financial Management

Dosen Pengampu                    : GUSGANDA SURIA MANDA, SE., MM





















Disusun Oleh :
SYAH REBI DARMAWAN
 N P M : 1510631020212







PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2017
KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Wr. Wb

Segala puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWt atas segala rahmat dan karunia_nya yang telah di limpahkan sejak mencari ide, menyusun, hingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktu yang telah di tentukan.

Makalah ini tidak akan terwujud tanpa ada pengarahan,  bimbingan serta kerja sama dari semua pihak yang telah turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Sesungguhnya saya menyadari makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, untuk perbaikan dan menyempurnakan makalah ini, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat di harapkan. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi yang berkepentingan dan khususnya untuk para mahasiswa agar dapat menjadi referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama bagi mahasiswa yang menempuh mata kuliah Manajemen Keuangan.

Akhir kata saya berharap semoga Makalah Manajemen Keuangan tentang Perencanaan Keuangan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semunya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

                                                                        Karawang, 05 Nopember 2017
                                                                                    Penulis
                                                                          Syah Rebi Darmawan










DAFTAR ISI

Judul................................................................................................................ 1
Kata Pengantar ............................................................................................... 2
Daftar Isi ........................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 4
BAB II PERENCANAAN KEUANGAN.................................................... 5
2.1.   Definisi Perencanaan Keuangan.......................................................... 5
2.2.   Arus Kas dalam Perusahaan................................................................ 7
2.2.1. Model Baoumol............................................................................. 8
2.2.2. Model Persediaan Optimal Kas ..................................................... 9
2.2.3. Model Miller – Orr........................................................................ 10
2.3.   Analisis Sumber dan Penggunaan Dana ............................................. 10
2.4.   Implikasi Dari Analisis Laporan Dana ............................................... 11
2.5.   Perencanaan Keuangan....................................................................... 11
2.5.1. Perencanaan Keuangan Jangka Panjang....................................... 12
2.5.2.  Perencanaan Keuangan Jangka Pendek ....................................... 15
2.6. Penggunaan Informasi Akuntansi Differensial Dalam
Perencanaan Laba  Jangka Pendek.............................................................. 18
2.6.1. Perencanaan Laba Jangka Pendek................................................ 19
2.6.2.  Parameter –Parameter Perencanaan Laba Jangka Pendek ........... 19
2.7.   Perencanaan Keuangan dan Kebutuhan Investasi.............................. 21
2.8.   Kondisi Perencanaan Keuangan ......................................................... 22
2.9.   Model Perencanaan Keuangan ........................................................... 22
2.10. Perencanaan Keuangan dan Perencanaan Strategis ........................... 23
2.11. Perencanaan dan Pengendalian Keuangan......................................... 26
2.12. Bentuk Perencanaan Keuangan .......................................................... 28
2.13. Langkah-Langkah Perencanaan Keuangan ........................................ 34
2.14. Manfaat Belajar Financial Planner ..................................................... 36
2.15. Contoh Kasus ..................................................................................... 37

BAB III PENUTUP....................................................................................... 43
Kesimpulan ........................................................................................ 43

DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 44






BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Tugas manjer perusahaan dihadapkan pada dua keputusan besar, yaitu keputusan penentuan proyek investasi dan strategi pendanaan untuk melaksanakan investasi yang telah diputuskan. Keputusan investasi yang baik harus berdasarkan pada informasi proyeksi arus kas dan beberapa informasi penting antara lain rincian biaya proyek investasi dan biaya modal, yang besarnya tergantung pada pilihan teknologi yang akan digunakan.
Sesuai dengan salah satu fungsi manajemen yaitu fungsi perencanaan, maka bagi manajer keuangan fungsi perencanaan ini berarti ia harus melakukan perencanaan keuangan. Dalam melakukan perencanaan maka sebelumnya harus dibuat suatu perkiraan atau forecasting tentang apa yang diharapkann terjadi di masa yang akan datang. Perencanaan keuangan dimaksudkan untuk memperkirakan bagaimana posisi keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
Perencanaan keuangan merupakan salah satu bagian dari proses perencanaan organisasi (corporate planning). Dari perencanaan diharapkan perusahaan dapat menghindari kesalahan-kesalahan, menghasilkan keputusan yang terbaik yang pada akhirnya mampu meningkatkan kinerja dari suatu perusahaan.
Dalam perencanaan keuangan, berbagai aspek perlu dipertimbangkan sehingga keputusan keuangan akan memberikan struktur keuangan yang optimal bagi perusahaan baik yang berkaitan dengan sumber maupun penggunaan keuangan perusahaan. Untuk itu arus dana merupakan salah satu hal yang sanga penting dalam perusahaan.
 










BAB II
PERENCANAAN KEUANGAN

2.1.  Definisi Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan adalah suatu ilmu yang menempatkan kajian tentang keuangan dengan menempatkan berbagai atribut keuangan secara terkonsep dan sistematis baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam konsep jangka pendek biasanya 1 tahun saja. Sedangkan jangka panjang beberapa pakar menyatakan  jangka waktunya 2 hingga 5 tahun ke depan, bahkan beberapa pakar juga menyebutkan bahwa jangka waktunya bisa lebih dari 5 tahun. Periode jangka panjang menurus Ross dkk., disebut sebagai cakrawala perencanaan (planning horizon). Cakrawala perencanaan (planning horizon) adalah periode waktu jangka panjang yang menjadi focus perencanaan keuangan.
Perencanaan keuangan memberikan panduan bagi perubahan dan pertumbuhan yang terjadi di dalam perusahaan. Memang salah satu tujuan perencanaan keuangan untuk memberikan arah perubahan dan perkembangan perusahaan secara berkelanjutan. Jika suatu perusahaan berkeinginan untuk menciptakan perubahan yang bersifat berkelanjutan maka artinya perencanaan keuangan bersifat jangka panjang. Namun jika ingin mengejar profit jangka pendek maka perencanaan perusahaan bersifat jangka pendek. Namun harus diingat perencanaan yang baik adalah perencanaan yang bersifat jangka panjang.
Perencanaan keuangan adalah kegiatan untuk memprakirakan pendapatan dan pengeluaran perusahaan yang akan datang. Untuk memprakirakan pendapatan, pertama, anda perlu memprakirakan volume penjualan. Prakiraan volume penjualan harus mencakup permintaan. Aspek teknis proses pasokan perlu dipikirkan, termasuk tenaga kerja, kebutuhan alat, dan waktu serta transportasi selama tahapan-tahapan pemasokan. Suatu prakiraan dan perencanaan keuangan dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan / organisasi karena, memuat misi dan tujuan usaha, cara kerja dan rincian keuangan, susunan menajemen dan bagaimana cara mencapai tujuan usahanya sehingga hal tersebut mempengaruhi kinerja perusahaan.
Perencanaan Keuangan menurut Certified Financial Planner, Board of Standards adalah proses mencapai tujuan hidup seseorang melalui manajemen keuangan secara terencana. Tujuan hidup itu termasuk membeli rumah, menabung untuk pendidikan anak atau merencanakan pensiun.
Menurut Senduk (2001) perencanaan keuangan adalah proses merencanakan tujuan-tujuan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Yang dimaksud dengan tujuan keuangan itu adalah keinginan keuangan yang ingin direalisasikan Salah satu perencana keuangan seperti Gozali (2002) mendefinisikan rencana keuangan sebagai “Sebuah strategi yang apabila dijalankan bisa membantu anda mencapai tujuan keuangan dimasa datang“. Sedangkan Dorimulu (2003) dalam artikelnya, menyatakan bahwa perencanaan keuangan atau Financial planning merupakan “Proses mencapai tujuan hidup yakni masa depan yang sejahtera dan bahagia lewat penataan keuangan “.
Bertisch (1994) mengatakan bahwa “ Financial Planning can be defined as the careful preparation and coordination of plans necessary to prepare for future financial needs and goals. It is not investment analisys. It involves mapping strategies to achieve your defined goals”. Yang berarti Perencanaan keuangan dapat diartikan sebagai persiapan atau koordinasi yang hati-hati terhadap rencana-rencana dalam rangka untuk mempersiapkan keinginan dan tujuan keuangan dimasa datang. Bukan analisa investasi, tetapi meliputi strategi untuk mendapatkan tujuan-tujuan yang telah ditentukan.
Perencanaan merupakan tindakan yang dibuat berdasarkan fakta dan asumsi mengenai gambaran kegiatan yang dilakukan pada waktu yang akan datang dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan adalah proses penyusunan tujuan-tujuan perusahaan dan pemilihan tindakan-tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Supriyanto, 1994:4).
Perencanaan keuangan merupakan aspek penting dari operasi dan sumber penghasilan perusahaan karena memberikan petunjuk yang mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengontrol kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuan.
Dua aspek penting dalam proses perencanaan keuangan :
1)      Perencanaan uang tunai, meliputi persiapan dari penyusunan budget kas perusahaan.
2)      Perencanaan laba, perencanaan laba perusahaan yang dibuat dalam bentuk laporan keuangan proforma. Kedua hal tersebut tidak hanya berguna bagi perencanaan keuangan intern tetapi juga dibutuhkan bagi pemberi pinjaman baik sekarang maupun yang akan financ.
Perencanaan laba berpusat pada pembuatan laporan proforma. Laporan proforma, merupakan proyeksi laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan rugi laba suatu perusahaan. Dua input yang diperlukan untuk menyusun laporan proforma dengan menggunakan pendekatan yang sederhana yaitu : a) laporan keuangan untuk tahun sebelumnya dan b) ramalan penjualan tahun yang akan financ.
Perencanaan keuangan berhubungan dengan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Kepala bagian financial harus selalu mengadakan forecasting (peramalan dan pengiraan) terhadap masa yang akan inanc tersebut dengan tepat, yang meliputi perencanaan financial jangka panjang (long range financial planning) dan perencanaan-perencanaan jangka pendek (short range financial planning). Salah satu keuntungan yang diperoleh dari adanya perencanaan inancial adalah dihindarkannya pemborosan-pemborosan yang diakibatkan oleh adanya aktivitas yang sangat kompleks.



2.2.  Arus Kas dalam Perusahaan
Sebelum menyusun rencana keuangan, maka ada beberapa hal yang harus dipahami dalam suatu perusahaan. Salah satu hal penting yang harus dianalisis adalah arus kas suatu perusahaan. Arus dana yang terjadi di dalam suatu perusahaan sering juga dikatakan sebagai perputaran modal kerja. Arus dana adalah cerminan bagaimana sistem aliran dana yang terjadi dalam suatu perusahaan. Sehingga dengan diketahui aliran dana ini, maka bagi pihak pengambil keputusan akan dapat menentukan dalam menetapkan kebutuhan dana perusahaan, darimana akan dibiayai serta bagaimana penggunaannya.
Informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas serta keputusan perolehannya. Perusahaan harus menyusun laporan arus kas dan harus menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dilaporan keuangan untuk periode penyajian laporan keuangan.
Agar menghasilkan keuntungan tambahan, perusahaan harus mempunyai kas untuk ditanamkan kembali. Keuntungan yang dilaporkan dalam buku belum pasti dalam bentuk kas. Sehingga dengan demikian perusahaan dapat mempunyai jumlah kas yang lebih besar atau lebih kecil daripada jumlah keuntungan yang dilaporkan dalam buku.
Menurut Arthur, J. Keown, David F. Scott Jr, Jhon D. Martin, J. William Petty (2001:678) setiap usulan pengeluaran modal (capital expenditure) selalu mengandung dua macam arus kas, yaitu:
a.       Arus kas keluar netto (Net outflow of cash), yaitu: arus kas yang diperlukan untuk investasi baru.
b.      Arus kas masuk netto (Net inflow of cash), yaitu: sebagai hasil dari investasi baru tersebut, yang sering disebut “Net cash proceeds.”
Pengertian luas mengenai arus kas yang dari kegiatan penjualan atau kegiatan yang sama dikurangi oleh semua biaya-biaya yang meliputi seluruh pengeluaran-pengeluaran kas. Arus kas didefenisikan sebagai laba sebelum pajak dari suatu proyek, ditambah dengan biaya penyusutan dan dikurangi laba bersih sebelum pajak tambahan yang diakibatkan oleh proyek-proyek tersebut.
Laporan arus kas melaporkan penerimaan kas, pembayaran kas dan perubahan bersih pada kas yang berasal dari: Aktivitas Operasi, Investasi dan Pendanaan perusahaan selama satu periode dalam suatu format yang menunjukkan bagaimana melaporkan suatu rugi bersih dan tetap mengadakan pengeluaran modal yang besar atau membayar deviden, atau akan menceritakan bagaimana perusahaan mengeluarkan atau menaikkan hutang atau saham biasa atau keduanya selama periode tersebut. Sedangkan menurut Ikatan AkuntansiIndonesia, arus kas merupakan arus kas masuk dan arus kas keluar.
Oleh karena suatu perusahaan membuat suatu laporan biasanya secara periodik, maka ketika menyiapkan laporan biasanya secara periodik, maka ketika menyiapkan laporan arus kas yang berdasarkan pendapatan, akumulasi penyusutan, pinjaman modal dan pajak harus menunjukkan pemisahan antara kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal dari: Aktivitas Operasi, Aktivitas Investasi dan Aktivitas Pendanaan.
Arus kas adalah istilah yang digunakan untuk mengklasifikasikan arus kas (kas yang diterima) dari kegiatan operasi. Istilah arus kas juga digunakan untuk menunjukkan dana, dimana arus kas bersih mewakili perbedaan antara sumber dan penerimaan. Dalam hal kepemilikan kas, perusahaan juga harus mampu melakukan penyeimbangan. Artinya: apabila perusahaan memiliki saldo kas yang terlalu besar, maka perusahaan akan mengalami kerugian dalam bentuk kehilangan kesempatan untuk menginvestasikan dana tersebut pada kesempatan investasi lain yang lebih menguntungkan. Sebaliknya apabila saldo kas terlalu rendah, kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan likuiditas. Oleh karena itu, ada beberapa model yang digunakan untuk membantu menentukan target saldo kas.
2.2.1.    Model Baumol
Model ini dikembangkan oleh William Baumol. Pada prinsipnya model persediaan (EOQ) yang diterapkan pada manajemen kas. Biaya pesanan diganti dengan biaya administrasi dan biaya transaksi pada waktu melakukan transfer kas menjadi surat berharga dan sebaliknya. Untuk dapat menggunakan Model Baumol dengan baik, maka harus didasarkan pada berbagai asumsi. Asumsi-asumsi tersebut, antara lain adalah:
1.      Adanya kepastian jumlah kas yang dibutuhkan setiap saat.
2.      Pengeluaran kas perusahaan tetap (konstan) dari waktu ke waktu.
3.      Pada saat kas dibutuhkan surat berharga dengan segera dapat dijual.
4.      Biaya yang dikeluarkan untuk menjual surat berharga menjadi kas adalah tetap untuk setiap transaksi, tanpa dipengaruhi oleh jumlah atau nilai surat berharga yang dijual.
Model Baumol memberikan sumbangan penting bagi manjer keuangan dalam mengelola kas perusahaan. Meskipun demikian ada beberapa keterbatasan dari model tersebut, yaitu:
a)      Model tersebut mengasumsikan penggunaan kas yang konstan setiap periodenya. Dalam prakteknya, pengeluaran kas tidaklah seluruhnya bisa dikendalikan oleh perusahaan.
b)      Model tersebut mengasumsikan bahwa selama interval waktu tertentu terdapat adanya kas masuk. Dalam prakteknya perusahaan ada melakukan penerimaan kas dengan pengeluaran kas setiap harinya.
c)       Tidak mempertimbangkan kemungkinan adanya persediaan kas untuk keamanan, dan sebagainya.

2.2.2.    Model Persediaan Optimal Kas (Model Baumol)
Untuk menghitung saldo kas optimal, kita perlu mengetahui biaya yang berkaitan dengan penyimpanan kas. Setelah itu kita bisa meminimalkan biaya tersebut. Dengan kata lain, tujuan dari model ini adalah menghitung saldo kas yang optimal, yaitu saldo kas yang bisa meminimalkan total biaya transaksi.
Total biaya transaksi yang akan diminimalkan untuk memperoleh saldo kas optimal terdiri dari dua yaitu:
1)      Biaya simpan: yang berupa biaya kesempatan (opportunity cost) yang muncul karena perusahaan memegang kas, bukannya memegang surat berharga. Dengan kata lain, biaya kesempatan adalah pendapatan bunga yang tidak bisa diperoleh karena perusahaan memegang kas.
2)      Biaya transaksi: biaya transaksi dihitung dari biaya yang harus dikeluarkan ketika manajer keuangan menjual surat berharga. Dengan kata lain, Biaya transaksi merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh saldo kas tersebut.
Biaya Total = Biaya simpan + Biaya transaksi
TC = (C / 2) i + (T / C) b
dimana
C = Saldo kas optimal yang akan kita cari
i = Tingkat bunga
T = Total kebutuhan kas dalam satu periode
b = Biaya order kas

Jika saldo kas optimal besar, maka biaya simpan akan lebih tinggi, tetapi biaya transaksi akan lebih kecil. Sebaliknya, jika saldo optimal kecil, perusahaan akan semakin sering mengisi kas, berarti semakin tinggi biaya transaksi pengadaan kas; tetapi biaya simpan semakin kecil, karena rata-rata persediaan menjadi lebih kecil



2.2.3.    Model Miller-Orr
Model Miller-Orr tepat digunakan untuk kondisi dimana pengeluaran kas ber-fluktuasi (tidak konstan) dari waktu ke waktu secara random dan tingkat ketidakpastian pembayaran kas yang cukup besar. Model ini pada dasarnya menentukan batas atas dan batas bawah fluktuasi kas.Ide dasar model ini adalah apabila jumlah kas mencapai batas atas, maka perusahaan membeli surat berharga untuk menurunkan kas, sebaliknya apabila mencapai batas bawah maka perusahaan menjual surat berharga untuk menambah kas. Selama kas berada antara batas atas dan batas bawah, maka perusahaan tidak melakukan transaksi.

2.3.  Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Dalam suatu periode tertentu dalam perusahaan misalkan jangka waktu dalam satu periode adalah selama satu tahun, laporan-laporan yang disajikan perusahaan menunjukkan adanya penambahan atau pengurangan dana atau kas.  Analisis  sumber dan penggunaan dana merupakan alat penting bagi financial manager, untuk mengetahui bagaimana dana digunakan dan bagaimana kebutuhan dana tersebut dibelanjai ( dengan analisa aliran dana itu akan dapat diketahui dari mana datangnya dana dan untuk apa dana itu digunakan). Laporan  sumber – sumber dan penggunaan dana suatu perusahaan sangat penting artinya bagi bank dalam menilai permintaan kredit yang diajukan kepadanya, dengan mengadakan analisa terhadap laporan tersebut dapat diketahui bagaimana perusahaan itu menggunakan dana yang dimilikinya.
Analisa ini dimulai dari penyusunan neraca yang disusun atas  dasar dua neraca pada saat yang berbeda, sehingga dapat diketahui perubahan – perubahan yang terjadi pada masing – masing pos neraca, dari laporan perubahan neraca itulah disusun laporan sumber– suber dana dan penggunaan dana. Pengertian dana dalam analisis ini di bedakan dalam dua katagori yaitu dalam pengertian kas  dan  modal kerja.
Penyusunan laporan sumber dan penggunaan dana dalam pengertian kas adalah :
§  Membandingkan kedua neraca untuk menyusun perubahan neraca pada masing -masing elemen
§  Menyusun penggolongan dari unsur – unsur  yang memperbesar kas dan golongan atau unsur – unsur yang memperkecil kas
§  Mengelompokan unsur – unsur dalam laporan rugi laba, terutama laba ditahan ke dalam golongan yang memperbesar kas dan memperkecil kas.
§  Mengadakan konsolidasi dari semua informasi tersebut  ke dalam laporan sumber– sumber dan penggunan dana.
Ada beberapa hal yang perlu dianalisis terkait dengan sumber dan pengunaan dana, diantaranya meliputi :
Analisis sumber dana yang berasal dari :
1.      Penurunan bersih aktiva, kecuali aktiva tetap tetap dan kas.
2.      Penurunan bruto aktiva tetap.
3.      Kenaikan bersih kewajiban dan hutang.
4.      Penambahan modal sendiri.
5.      Dana yang diperolehdari operasi.
      Analisis pengunaan dana :
1.            Kenaikan bersih aktiva, kecuali aktiva tetap dan kas.
2.            Penambahan bruto aktiva tetap.
3.            Penurunan kewajiban dan hutang.
4.            Pengurangan modal sendiri.
5.            Pembayaran dividen.
            Analisis sumber dan pengunaan dana lebih diarahkan pada penerapan matching principle dalam pendanaan. Prinsip ini menyatakan pengunaan jangka panjang seharusnya didanai dengan dana jangka panjang. Sedangkan dana jangka pendek hanya untuk keperluan jangka pendek. Dengan demikian maka prinsip ini lebih menekankan pada pertimbangan likuiditas.

2.4.  Implikasi dari Analisis Laporan Dana
Analisi laporan sumber dan penggunaan dana memberikan wawasan bagi pihak-pihak yang terkait terutama manajer keuangan dalam hal merencanakan ekspansi perusahaan serta dampaknya pada likuiditas perusahaan. Ketidakseimbangan dalam penggunaan pendanaan akan dapat dideteksi dan dilakukan penyesuaian. Jadi laporan sumber dan pengguanaan dana memberi signal untuk masalah yang akan dianalisis dan secara rinci dalam rangka pengambilan keputusan yang tepat. Analisi laporan sumber dan pengunaan dana dimasa mendatang akan sangat berguna dalam merencanakan pembelanjaan jangka menengah dan jangka panjang.

2.5.  Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan merupakan kegiatan untuk memperkirakan posisi dan kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan datang (bisa jangka panjang ataupun jangka pendek). Untuk menyusun rencana keuangan tersebut dipergunakan serangkaian asumsi, baik yang menyangkut hubungan antar variable-variabel keuangan, maupun keputusan-keputusan keuangan.

2.5.1.    Perencanaan keuangan jangka panjang
Setiap perusahaan memiliki rencana yang panjang kedepan atau sering disebut dengan perencanaan strategis, misalnya melakukan investasi modal dalam jumlah yang cukup besar, disertai dengan keputusan pendanaan tertentu. Oleh karena demikian maka disusun suatu laporan keuangan yang diproyeksikan (atau laporan keuangan proforma), konsisten dengan keputusan-keputusan keuangan yang diambil. Dengan mengunakan model-model keuangan tertentu, perusahaan bisa memperkirakan posisi keuangannya apabila suatu keputusan keuangan diambil. Terdapat beberapa model peramalan keuangan, yaitu :
Model presentase penjualan, yaitu suatu model yang sering menggunakan dasar pemikiran bahwa perusahaan tentunya memerlukan dana yang makin besar kalu akivitasnya meningkat. Ukuran aktivitas ini adalah penjualan. salah satu asumsi penting dari model ini adalah bahwa rekening-rekening yang berubah sesuai dengan penjualan, diasumsikan proporsinya tetap tidak berubah. Karena itulah diberi nama model persentase penjualan (sales percentage method). Karena untuk menggunakan model tersebut diperlukan :
a.       Identifikasi rekening-rekening yang berubah apabila penjualan berubah.
b.      Kebijakan keuangan yang dianut oleh perusahaan.
Dengan model tersebut kemudian bisa ditaksir apakah perusahaan perlu menambah dana dari luar perusahaan atau tidak,  bagaimana posisi keuangan di masa yang akan datang,  dan sebagainya.
Berikut ini dipergunakan ilustrasi model persentase penjualan dengan menggunakan data PT.  "TSR" tahun 19x2. Misalkan perusahaan memperkiraan penjualan akan meningkat sebesar 25% pada tahun 19x3. Digunakan skenario sebagai berikut dalam menyusun laporan keuangan yang diproyeksikan.
1)      Semua aktivitas lancar meningkat secara proporsional dengan penjualan.
2)      Aktiva tetap akan meningkat sebesar Rp.  200 juta
3)      Penyusutan aktiva tetap lama sebesar Rp.  50 juta, dan aktiva tetap baru Rp.  20 juta.
4)      Rekening-rekening kewajiban lancar (tidak termasuk hutang bank) meningkat secara proporsional dengan peningkatan penjualan.
5)      Kalau perusahaan mengguakan hutang tambahan,  bunga yang ditanggung adalah 17,5% per tahun, sama seperti rata-rata bungan untuk hutang bank yang lama dan hutang jangka panjang.
6)      Perusahaan akan membagikan dividen sebesar 50% dari laba setelah pajak.
7)      Perusahaan tidak akan menambah setoran modal sendiri.
8)      Profit Margin 19x3 diperkirakan sama dengan tahun 19x2.
9)      Dana ekstern akan ditarik dalam bentuk hutang.
10)  Tarif pajak penghasilan sebesar 32%

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyusun neraca yang disajikan dalam bentuk persentase dari penjualan.  Neraca tersebut nampak sebagai berikut (Tabel 2.1)

Kalau kita jumlahkan sisa aktiva tersebut,  maka kita akan mendapatkan angka 14,9. Sedangkan sisi pasiva  menghasilkan angka 6,4. Ini berarti bahwa kalau terjadu peningkatan penujualan sebesar Rp.  100, maka diperlukan tambahan dana sebesar Rp.  14,9 dikurangi dengan Rp.  6,4 (berarti sebesar Rp.  8,5).  Disamping itu juga akan ada tambahan kebutuhan dana untuk tambahan aktiva tetap.  Kekurangan dana ini diambilkan dari hasil operasi,  tetapi kalau masih kurang terpaksa harus dicarikan pendanaan ekstern.
Tahun19x3 diperkirakan penjualan mencapai (1,25 x Rp.  2.200 juta)  = Rp.  2.750 juta.  Sedangkan profit margin = (300/2.200) = 13,64%. Untuk menaksir berapa dana dari hasil operasi kita perlu menempuh cara sebagai berikut.
Dalam hal ini D adalah tambahan hutang yang dipergunakan pada tahun 19x3.
Karena dividen yang dibagi sebesar 50% nya maka,
Laba Yang Ditahan                 = 0,34[375-{0,175(220+D)}]
Penyusutan keseluruhan          = Penyusutan lama + penyusutan baru
= Rp. 50 + Rp.  20
= Rp.  70 juta
Kebutuhan dana berasal dari tambahan tambahan aktiva setelah dikurangi dengan tambahan aktiva yang meningkat secara spontan karena tambahan penjualan.  Dana untuk membeli tambahan aktiva tetap sebesar Rp 200 juta,  tambahan penjualan sebesar Rp.  550 juta (yaitu meningkat 25%), dan selisih persentase aktiva lancar dengan kewajiban lancar yang berubah sesuai dengan penjualan adalah 8,5%.  Dinyatakan dalam rumus,
Kebutuhan dana                      = (0,085)550 + 200
= 246,75

Sumber dana berasal dari (1) laba yang ditahan, (2) penyusutan,  dan (3) penambahan hutang (kalau ada). Dituliskan dalam bentuk persamaan menjadi,

Sumber dana                           = 0,34[375-{0,175(220+D)}]  + 70 + D

Dengan demikian maka
0,34[375-38,5-0,175D]  + 70 + D = 246,75
127,5 - 13,09 - 0,0595D + 70 + D = 246,75
184,41 + 0,9405D = 246,75
    0,9405D = 62,34
    D = 66,28

Ini berarti bahwa pada tahun 19x3 perusahaan akan memerlukan tamahan hutang baru sebesar Rp.  66,28 juta.  Karena itu kalau dibuat laporan keuangan proforma untuk tahun 19x3 akan nampak sebagai berikut.
Sedangkan neraca proforma pada akhir tahun 19x3 akan Nampak sebagai berikut. Nilai aktiva tetap (net) diperoleh dari,

Nilai buku aktiva tetap lama               Rp. 550
Penyusutan aktiva tetap lama             Rp.   50                       Rp. 550

Nilai buku aktiva tetap baru                Rp. 200
Penyusutan aktiva tetap baru              Rp.    20                      Rp. 180
Nilai buku aktiva tetap (net)                                                               Rp. 680


Dalam proyeksi laporan keuangan tersebut terlihat bahwa debt to equity berubah menjadi 73,7%, sedikit meningkat dibandingkan dengan tahun 19x2 yang sebesar 69,8%. Setelah itu, apabila diinginkan kita bisa melakukan analisis keuangan terhadap laporan keuangan yang diproyeksikan tersebut. Misalnya kita menghitung berapa return on equity yang diproyeksikan, rentabilitas ekonominya, dan lain sebagainya.

Model-model lain. Kritik yang diberikan pada metode presentase penjualan adalah bahwa rekening-rekening diasumsikan berubah secara proporsional dengan pejualan. Umumnya diakui bahwa kalu penjualan meningkat, suatu aktiva tentunya meningkat. Masalahnya adalah bahwa peningkatan tersebut bisa saja tidak proporsional. Sebagai missal, bisa saja dirumuskan bahwa hubungan hubungan antara suatu aktiva (missal persediaan) dengan penjualan dinyatakan :
            Y=20 + 0,04X
Dalam hal ini Y adalah nilai persediaan dan X adalah penjualan. Apabila penjualan diperkirakan sebesar Rp100 juta, maka persediaan =20 + 0,04(100)= Rp. 24 Juta. Dinyatakan dalam persentase, maka persediaan sebesar 24% dari penjualan.
Apabila penjualan mencapai Rp 200 juta, maka persediaan = 20 + 0,04(200) = Rp 28 juta. Dinyatakan dalam persentase, maka persediaan = 14% dari penjualan. Kita lihat disini bahwa persediaan diperkirakan meningkat, tetapi secara persentase menurun.
Cara lain untuk menyusun laporan keuangan proforma adalah dengan menggunakan sistem anggaran. Dengan memahami interaksi masing-masing anggaran, bisa disusun neraca rugi-laba proforma. Pada sub bab berikut ini diberikan ilustrasi penggunaan anggaran untuk menyusun laporan keuangan proforma.

2.5.2.    Perencanaan keuangan jangka pendek
Perencanaan jangka pendek umumnya berdimensi waktu kurang dari 1 tahun. Tujuan utamanya seringkali untuk menjaga likuiditas perusahaan. Alat yang dipergunakan adalah dengan menyusun anggaran kas. Anggaran kas merupakan taksiran tentang kas masuk dan kas keluar pada periode waktu tertentu.
            Sebagaimana namanya menunjukkan, perencanaan keuangan jangka pendek umumnya berdimensi waktu kurang dari satu tahun. Tujuan utamanya seringkali untuk menjaga likuiditas perusahaan. Alat yang dipergunakan adalah dengan menyusun anggaran kas. Anggaran kas merupakan taksiran  tertinggi tentang  kas masuk dengan kas keluar pada periode waktu tertentu. Berikut ini diberikan ilustrasi penyusunan anggaran kas.
            PT. ANNA merupakan perusahaan perdagangan. Pada kahir September 1993 perusahaan akan  menyusun anggaran kas bulan Oktober, Nopember dan Desember 1993. Data yang tersedia adalah sebagai berikut.


1.      Taksiran dan realisasi penjualan adalah sebagai berikut.
Bulan
Realisasi
Taksiran
September
Oktober
Nopember
Desember
Rp. 120 juta
-
-
-
Rp. 115 juta
Rp. 150 juta
Rp. 180 juta
Rp. 190 juta
               
Penjualan tersebut 30% dibayar tunai, dan 70% dibayar satu bulan kemudian. Untuk memudahkan, semua penjualan dianggap terjadi pada akhir  tahun.
2.      Pembelian barang dagangan harga pokok 80%, dilakukan satu bulan sebelum taksiran penjualan
3.      Pembelian barang dagangan dilakukan secara kredit, dan pembaryarannya dilakukan satu bulan kemudian.
4.      Gaji dibayar setiap bulan sebesar Rp. 15 juta..
5.      Penyusutan per bulan dibebankan Rp. 10 juta.
6.      Pada akhir Desember dibayar bunga pinjaman sebesar Rp. 10 juta. Bunga ini adalah untuk periode Oktober s/d Desember.
7.      Saldo kas akhir bulan September (atau Oktober) sebesr Rp. 20 juta. Jumlah ini merupakan jumlah yang minimal harus dipertahankan.
8.      Kalua saldo kas melebihi jumlah kas minimal, kelebihannya akan dipergunakan untuk mengansur hutang, dan bila kurang akan menambah hutang.

Berdasarkan informasi tersebut bisa disusun Anggaran Kas sebagai berikut.

Anggaran Kas PT. ANNA Oktober s/d Desember 1993


September
Oktober
Nopember
Desember
Januari

1
2
3

4
5


6
7
8
9
10

Penjualan
30% Tunai
70% Dibayar satu bulan kemudian
Jumalh penerimaan kas
Pembelian barang dagangan (80% dari penjualan bulan yad)
Pembayaran pembelian
Gaji
Pembayaran bunga
Jumlah pengeluaran kas
Surplus (deficit)

Rp. 120
36




Rp. 120

Rp. 150
45

      84  
Rp. 129

Rp. 144
120
15
-
Rp. 135
(     6)

Rp. 180
54

     105
Rp. 159

Rp. 176
144
15
-
Rp 159
0

Rp. 220
66

     126
Rp. 192

Rp. 128
176
15
10
Rp. 210
(     9)

Rp. 160
48

    154
Rp. 202
11
12
13
14
15
16

17
Saldo kas awal bulan
Surplus (deficit)
Saldo tanpa pinjaman
Saldo kas minimal
Pinjam (melunasi) (14-13)
Saldo kas akhir bulan (13+15)
Saldo pinjam kumulatif


Rp. 20
(     6)
14
20
6

20
6
Rp 120
0
20
20
0

20
6
Rp. 20
(     9)
11
20
9

20
15


Untuk menyusun laporan rugi laba proforma, kita bisa menyajikan sebagai berikut.

Laporan Rugi Laba Proforma PT. ANNA, Oktober s/d Desember 1993
(dalam jutaan)




Penjualan
Harga Pokok (80%
Laba Bruto
Gaji
Penyusutan
Laba Operasi
Bunga
Laba Sebelum Pajak


Rp. 550,0
     440,0

Rp. 45,0
     30,0



110,0

Rp. 75,0
Rp. 35,0
     10,0
Rp. 25,0

Kita lihat bahwa selama tiga bulan tersebut, diperkirakan perusahaan akan memperoleh laba, meskipun dipandang dari arus kas perusahaan tidak pernah mengalami surplus.

Untuk menyusun neraca proforma, kita perlu mengetahui terlebih dahulu neraca pada awal Oktober  (atau akhir September) 1993. Misalkan neraca tersebut adalah sebagai berikut.

Neraca PT. ANNA pada akhir September 1993 (dalam jutaan)


Kas
Piutang
Persediaan
Aktiva tetap (net)
Jumlah Aktiva


20,0
84,0
50,0
600,0
754,0


Hutang dagang
Hutang bank
Modal sendiri

Jumlah kewajiban & MS


150,0
200,0
404,0

754,0

Saldo kas akhir Desember 1993 diketahui dari anggaran kas sebesar Rp. 20 juta

Piutang bisa dihitung sebagai berikut.
            Piutang awal                                       Rp.      84 juta
            Tambahan piutang                                           385 juta
                                                                        Rp.      469 juta
            Pelunasan piutang                                           315 juta
            Piutang akhir                                       Rp.      154 juta

Persediaan bisa dihitung sebagai berikut.
            Persediaan awal                                  Rp.      50 juta
            Pembelian                                            Rp.      448 juta
                                                                        Rp.      498 juta
            Harga pokok                                       Rp.      440 juta
            Persediaan akhir                                  Rp       58 juta

Aktiva tetap dihitung sebagai berikut.
            Aktiva tetap awal                                Rp.      600 juta
            Penyusutan                                          Rp.      30 juta
            Aktiva tetap akhir                               Rp.      570 juta

Hutang dagang dihitung sebagai berikut.
            Hutang dagang awal                           Rp.      150 juta
            Pembelian kredit                                 Rp.      448 juta
                                                                        Rp.      598 juta
            Pelunasan hutang dagang                   Rp.      440 juta
            Hutang dagang akhir                          Rp.      158 juta

Hutang bank meningkat sebesar Rp. 15 juta, sehingga saldo akhirnya menjadi Rp. 215 juta. Sedangkan Modal Sendiri bertambah sebesar Rp. 25 juta (diasumsikan ditahan semua, dan tidak membayar pajak), sehingga Modal Sendiri naik menjadi Rp. 429 juta. Berdasarkan informasi itu maka bisa disusun neraca proforma sebagai berikut.

Neraca Proforma PT. ANNA akhir Desember 1993 (dalam jutaan rupiah)


Kas
Piutang
Persediaan
Aktiva tetap (net)
Jumlah



Rp. 20
154
58
570
Rp. 802


Hutang dagang
Hutang bank
Modal sendiri

Jumlah


Rp. 158
215
429
___
Rp. 802

Sama seperti sewaktu kita menyusun rencana keuangan jangka panjang, kita bisa melakukan analisisi keuangan untuk laporan keuangan proforma tersebut. Kita bisa menghitung rasio-rasio keuangan yang kita pandang penting terhadap laporan- laporan proforma tersebut.


2.6.  Penggunaan Informasi Akuntansi Differensial Dalam Perencanaan Laba Jangka Pendek
Analisis hubungan biaya – volume – laba merupakan teknik untuk menghitung dampak perubahan harga jual, volume penjualan, dan biaya terhadap laba, untuk membantu manajemen dalam perencanaan laba jangka pendek.
Kegunaan Informasi Akuntansi Diferensial salah satunya adalah sebagai alat perencanaan laba jangka pendek. Perencanaan laba jangka pendek dapat dilakukan dengan melakukan analisis biaya-volume-laba.

2.6.1.      Perencanaan Laba Jangka Pendek
Dalam penyusunan anggaran manajemen memerlukan informasi akuntansi untuk mempertimbangkan berbagai dampak terhadap laba akibat dipilihnya suatu alternatif. Laba perusahaan dalam jangka pendek dipengaruhi oleh pendapatan (hasil kali volume penjualan dengan harga jual) biaya variabel, dan biaya tetap. Manajemen memerlukan informasi akuntansi differensial yang terdiri dari informasi pendapatan differensial dan informasi biaya differensial, untuk mempertimbangkan dampak perubahan volume penjualan, harga jual, dan biaya terhadap laba perusahaan.
Analisis  impas dan biaya – volume – laba merupakan teknik yang menggunakan informasi akuntansi differensial untuk membantu manajemen dalam perencanaan laba jangka pendek. Dengan mengetahui dampak terhadap laba, setiap alternatif tindakan yang dipertimbangkan manajemen akan memiliki dasar yang kuat untuk memilih, sehingga ia akan mampu mengambil keputusan secara ekonomis rasional.

2.6.2.      Parameter-Parameter Perencanaan Laba Jangka Pendek
1.      Break Even Point (BEP)
Merupakan kondisi perusahaan dimana perusahaan tidak mengalami keuntungan dan tidak pula menderita kerugian.
Artinya perusahaan memiliki pendapatan dan biaya yang sama besarnya. Dengan kata lain, perusahaan memiliki laba sebesar 0 dan mengalami kerugian sebesar 0 BEP dapat dihitung dengan cara membagi biaya tetap dengan selisih antara harga dan biaya variabel (BEP dalam unit) atau dengan contribution margin ratio/CMR (BEP dalam jumlah uang)
2.      Margin Of Safety
Margin of safety merupakan batas aman perusahaan untuk tidak mengalami kerugian atau batas toleransi penurunan volume penjualan dari target penjualan perusahaan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
Margin of safety dapat diperoleh dengan menghitung selisih antara target penjualan perusahaan dengan Break Even Point (BEP)
3.      Shutdown Point
Shutdown point merupakan kondisi dimana perusahaan harus menutup usahanya jika tidak ingin mengalami kerugian yang lebih besar.    
Shutdown poin dapat dihitung dengan cara membagi biaya tetap tunai perusahaan dengan selisih antara harga dan biaya variabel perusahaan atau biaya tetap tunai dengan contribution margin ratio (CMR)
4.      Degree of Operating Leverage
Degree of operating leverage digunakan untuk mengetahui dampak perubahan penjualan terhadap laba bersih perusahaan, yaitu berapa persentase penjualan berakibat terhadap persentase laba bersih.
Degree of operating leverage dapat dihitung dengan cara membagi laba kontribusi dengan laba bersih.
5.      Laba Kontribusi
Merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan dari kegiatan perusahaan, misalnya penjualan
Laba kontribusi dapat diperoleh dengan cara menghitung selisih antara pendapatan perusahaan dikurangi dengan biaya produk.
Dalam proses penyusunan anggaran induk perusahaan, Laporan Laba-Rugi yang disusun dengan metode variabel costing sangat membantu manajemen puncak karena pengambilan keputusan jangka pendek umumnya menyangkut atau mengakibatkan penambahan atau penggurangan volume kegiatan, maka informasi biaya yang dipisahkan menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan akan sangat membantu. Dari laporan diatas manajemen dapat memperoleh berbagai parameter (gambaran sesuatu dalam bentuk angka) berikut ini:
1.      Break Even Point
Dalam proses perencanaan laba jangka pendek, manajemen memerlukan informasi impas untuk mempertimbangkan berbagai usulan kegiatan. Suatu usulan kegiatan yang mengakibatkan turunnya impas akan menarik manajemen jika dibandingkan dengan yang mengakibatkan kenaikan impas, karena semakin rendah impas berarti semakin besar kemungkinan perusahaan memperoleh kesempatan mendapatkan laba.
2.      Margin of Safety
Manajemen memerlukan informasi margin of safety dari anggaran laba yang diproyeksikan dalam tahun anggaran yang akan datang.
3.      Titik Penutupan Usaha (Shut Down Point)
Manajemen memerlukan informasi ini, jika misalnya diketahui bahwa dari biaya tetap perusahaan sebesar Rp. 150.000.000, Rp. 100.000.000 merupakan biaya tunai, maka dalam tahun anggaran 2011, titik penutupan usaha adalah sebesar Rp. 250.000.000 (Rp. 100.000.000 : 40%), berarti dibawah  pendapatan penjualan (Rp. 500.000.000,-) maka usaha perusahaan tersebut secara ekonomis tidak pantas dilanjutkan karena pendapatan penjualan dibawah jumlah tersebut akan mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar biaya tunainya.
4.      Degree of Operating Leverage
Manajemen memerlukan informasi ini yang dihitung dari data diatas adalah 4 kali (Rp. 200.000.000 : Rp. 50.000.000) yang berarti setiap 1% kenaikan pendapatan penjualan akan mengakibatkan 4% (4 x 1%) kenaikan laba bersih. Dengan demikian usulan kegiatan diharapkan akan menaikkan pendapatan penjualan sebesar 5%, maka dalam tahun anggaran tersebut laba bersih perusahaan diharapkan akan mengalami kenaikan 20% (4 x 5%).
5.      Laba Kontribusi per Unit
Laba kontribusi merupakan kelebihan pendapatan penjualan diatas biaya variabel. Informasi ini memberikan gambaran jumlah yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan laba. Semakin besar laba kontribusi, semakin besar kesempatan yang diperoleh perusahaan untuk menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan laba. Jika informasi laba kontribusi per unit dihubungkan dengan penggunaan sumber daya yang langka, manajemen akan memperoleh informasi berbagai macam untuk menghasilkan laba. Ini juga memberikan landasan dalam pemilihan produk yang mampu menghasilkan laba tertinggi dalam memanfaatkan sumber daya yang langka.

2.7.  Perencanaan Keuangan dan Kebutuhan Investasi
Dalam usaha menciptakan suatu perencanaan yang baik maka artinya manajer keuangan berusaha menempatkan  kajian dari sudut efisiensi dan efektivitas. Efisiensi dilihat dari segi biaya dan efektivitas dilihat dari segi waktu. Dengan menjadikan kedua kajian ini sebagai base thinking diharapkan manajer keuangan mampu untuk menciptakan suatu rencana keuangan yang ekplisit.
Meurut Stephen  A. Ross dkk., untuk mengenbangkan suatu rencana keuangan yang ekplisit, manajer harus menentukan beberapa unsur-unsur dasar dari kebijakan keuangan perusahaan.
1.      Perusahaan membutuhkan investasi pada asset-aset baru. Unsur ini akan timbul dari peluang-peluang investasi yang dipilih untuk dilaksanakan perusahaan, dan merupakan hail dari keputusan penganggaran.
2.      Tingkat pengungkitan keuangan yang dipilih untuk dipergunakan perusahaan. Hal ini akan menentukan jumlah pinjaman yang akan digunakan oleh perusahaan untuk mendanai investasinya pada asset riil. Hal ini adalah kebijakan struktur modal perusahaan.
3.      Jumlah kas yang dirasakan perlu dan layak untuk dibayarkan kepada pemegang saham. Ini merupakan suatu kebijakan deviden perusahaan.
4.      Jumlah likuiditas dan modal kerja yang dibutuhkan perusahaan dalam operasi sehari-hari. Ini adalah keputusan modal kerja bersih perusahaan.

Setiap manajer keuangan berusaha menciptakan tingkat pertumbuhan yang ekplisit, terutama secara jangka panjang. Banyak perusahaan yang menempatkan dana pada asset yang bersifat jangka panjang dan penempatan asset yang bersifat jangka panjang pada umumnya berjumlah sangat besar. Sebagai contohnya adalah pembelian mesin, tanah, bangunana, kendaraan, dan sebagainya.
Investasi pada jumlah asset dengan nilai yang besar menyebabkan perusahaan memikirkan kapan terjadinya break even point. Bahkan jika break even point tidak tercapai sesuai dengan standar waktu yang direncanakan maka artinya perencanaan perusahaan tidak berkualitas.

2.8.Kondisi Perencanaan Keuangan
Dalam pembuatan perencanaan keuangan harus dipikirkan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi di kemuadian hari. Secara umum ada tiga kondisi yang harus diantisipasi dalam pembuatan perencanaan keuangan, yaitu :
1.      Kondisi buruk
Kondisi buruk dalam dunia bisnis bisa dipengaruhi oleh berbagai sebab, seperti resesi ekonomi, krisis moneter, peperangan dan lain sebagainya. Dalam kondisi buruk ini suatu rencana bisnis harus dibuatkan asumsi-asumsi dalam rangka mengantisipasi jika kondisi seperti itu akan terjadi di kemudian hari.
2.      Kondisi normal dan biasa
Pada kondisi normal suatu perusahaan diminta membuat suatu rencana dengan menempatkan asumsi-asumsi yang akan terjadi dalam kondisi normal. Namun tetap dengan menempatkan analisa kehati-hatian yang mendalam jika suatu saat terjadi kondisi yang buruk.
3.      Kondisi baik dan bertumbuh
Pada kondisi ini dunia bisnis berkembang dengan baik, karena setiap perencanaan bisnis dapat dijalankan dengan baik. Pada konteks ini Stephen A. Ross, dkk., mengatakan, “Masing-masing divisi akan diminta untuk membuat kasus berdasarkan asumsi-asumsi yang optimis. Kasus ini data melibatkan produk-produk dan ekspansi baru dan kemudian akan merinci pada pendanaan yang dibutuhkan untuk mendanai eksapansi tersebut.

2.9.Model Perencanaan Keuangan
Suatu model dibuat untuk membantu para manajer dalam memetakan masalah secara terstruktur dan bersifat sistematis. Model adalah sebuah usaha yang dibangun dengan berlandaskan berbagai asumsi yang ada, dan asumsi tersebut dibuat serta diilhami dengan berdasarkan apa yang pernah terjadi di waktu-waktu sebelumnya. Suatu model memiliki keeratan hubungan yang kuat dengan peramalan, karena suatu model dianggap mampu memberikan peramalan.
Menurut Stephen A. Ross dkk., bahwa “Masing-masing model dapat memiliki kompleksitas yang bervariasi, tetapi hampir semuanya akan memiliki unsur-unsur yang akan dibahas sebagai berikut :
§  Ramalan penjualan. Hampir semua rencana keuangan meminta adanya ramalan penjualan yang diberikan secara eksternal.
§  Laporan Pro Forma. Sebuah rencana keuangan akan memiliki ramalan neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas.
§  Persyaratan asset. Suatu rencana keuangan kan menguraikan proyeksi belanja modal.
§  Persyaratan keuangan. Suatu rencana keuangan akan memuat satu bagian tentang ketentuan pendanaan yang dibituhkan. Bagian ini hendaknya mendiskusikan masalah kebijakan dividend dan kebijakan utang.
§  Penyeimbang (plug). Setelah perusahaan memiliki ramlan penjualan dan estimasi mengenai belanja asset yang dibituhkan, seringkali akan dibutuhkan sejumlah pendanaan baru karena proyeksi total asset akan melebihi proyeksi total kewajiban dan ekuitas. Dengan kata lain neraca telah tidak seimbang lagi.
§  Asumsi-asumsi perekonomian. Rencana tersebut akan harus menyatakan secara ekplisit lingkungan perekonomoian di mana perusahaan berharap akan berada sepanjang umur rencana.

2.10.        Perencanaan Keuangan dan Perencanaan Strategis
Seringkali dalam melakukan prakiraan dan penyusunan rencana keuangan, analis cenderung menggunakan model keuangan (financial modeling) yang rumit, tidak sesederhana model persentase penjualan, ataupun penyusunan anggaran kas. Sebenarnya apapun model keuangan yang diperguanakan, suatu hal yang sering terlupakan tidak diperhatikannya aspek keuangan dalam model tersebut.
Sebagai contoh dalam penggunaan model persentase penjaualan diatas. Pada contoh yang kita perguanakan, kita hanya memperkirakan akan adanya peningkatan penjualan yang menghasilkan profit margin tertentu (yaitu sama dengan tahun lalu). Sebagai akibatnya perusahaan akan memerlukan tambahan dana dari luar perusahaan untuk mendukung tambahan aktiva lancer dan aktiva tetap. Satu hal yang tidak terjawab dalam model tersebut adalah apakah penambahan dana tersebut dapat dibenarkan secara ekonomi. Kita tidak mengevaluir apakah penambahan aktiva-aktiva tersebut memang dibenarkan secara ekonomi. Dengan kata lain, apakah penambahan dana tersebut akan meningkatkan nilai perusahaan?
Model yang kita pergunakan ternayata tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Hal itu tidak mengherankan karena proyeksi keuangan yang dilakukan sebenarnya yang mendasarkan diri atas mekanisme akuntansi (apa dampaknya bagi neraca dan rugi laba di masa yang akan dating ?). kita tidak menggunakan model untuk memperkirakan nilai perusahaan di masa yang akan dating. Kalua kita memproyeksikan laba setelah pajak sebesar Rp. X, maka proyeksi nilai perusahaan akan dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan Price Earning Ratio. Apabila diperkirakan PER konstan maka nilai pasar modal sendiri akan sebesar PER x (laba setelah pajak).
Karena itulah perencanaan keuangan (terutama yang berjangka panjang) dilakukan bersama-sama dengan penyusunan rencana strategis perusahaan. Perencanaan strategis merupakan upaya yang dilakukan secara sadar untuk mempengaruhi posisi perusahaan dalam persaingan, baik untuk masa kini dan terutama masa yang akan datang. Misal perusahaan mungkin ingin memilih salah satu dari tiga strategi berikut dalam pengembangan usahanya :
1)      Pertumbuhan agresif. Strategi ini beratri perusahaan akan mencoba merebut pangsa pasar para pesaing,akibatnya perusahaan akan memerlukan dana dari luar perusahaan dalam jumlah yagn cukup besar.
2)      Pertumbuhan moderat. Strategi ini berate bahwa pertumbuhan penjualan disebabkan karena pertumbuhan permintaan dalam industri yang bersangkutan. Tudak ada upaya untuk merebut pangsa pasae pesaing, pertumbuhan diharapkan dapat dibiayai dari hasil operasi perusahaan(dana intern)
3)      Memperkecil bisnis yang dilakukan. Apabila produk yang dihasilkan diperkirakan sedah berada dalam tahap akhir kedewasaan, maka perusahaan mungkin memutuskan untuk bersiap-siap menambah dan /atau beralih kebisnis yang lain. Dana dari bisnis saat ini akan diinvestasikan kebisnis lain.

Dengan demikian pemilihan strategi perusahaan akan membawa dampak pada pembiayaan yang harus disediakan oleh perusahaan. Masalah pendanaan ekstern dapat dipenuhi bukan hanya dari hutang tetapi juga menambah modal sendiri. Karena itu alternative penghimpuan dana dari pasar modal akan menjadi salah satu alternative yang dipertimbangkan.
Perencanaan keuangan hendaknya dilakukan dalam konteks suatu rencana strategis yang tertera dengan baik, yang didalamnya terkandung beberapa unsur. Pertama,  rencana tersebut hendaknya dimulai dengan suatu pernyataan misi (mission statement). Misalnya, kalimat pertama pernyataan misi PepsiCo mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk “meningkatkan nilai investasi pemegang saham kami” tetapi juga mempertimbangkan dampak tindakannya pada pelanggan dan lingkungan. Perusahaan berfokus pada penciptaan kenkayaan bagi pemegang saham merupakan sesuatu yang umum di Amerika Serikat dan berbagai negara maju di seluruh dunia.
Unsur penting kedua dalam rencana strategis adalah suatu pernyataan tentang lingkungan korporasi (corporate scope) perusahaan, yang artinya lini usaha rencanannya akan dilakukan dan wilayah geografis dimana perusahaan akan beroperasi. Studi menunjukkan bahwa investor pada umumnya memberikan penilaian yang lebih tinggi kepada perusahaan yang memiliki focus dibandingkan dengan perusahaan yang terdiversifikasi. Namun, jika suatu perusahaan berhasil menggabungkan kelompok usaha-usaha yang terdiversifikasi sehingga mereka bis aling membantu, seperti yang dilakukan oleh GE, maka hal ini dapat menghasilkan dampak sinergis yang meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. Apa pun yang terjadi, lingkungan korporasi yang dinyatakan seharusnya menciptakan indera usaha yang baik dan kinsisten dengan kemampuan perusahaan.
Unsur penting ketiga dalam rencana perusahaan adalah pernyataan tujuan perusahaan (statement of corporate objective), yang menyatakan bahwa sasaran-sasaran spesifik yang diharapkan akan dipenuhi oleh manajer operasi. Sebagaian besar perusahaan memiliki tujuan kualitatif maupun kuantitatif. Misalnya, suatu perusahaan mungkin memiliki tujuan tingkat pertumbuhan penjualan sebesar 8 %, menjaga peringkat obligasi A atau lebih baik, ROE dalam kuartil atas industrinya, dan pengembalian pemegang saham yang berada dalam perempat teratas perusahaan S&P 500. Dalam laporan tahunannya yang terakhir, GE menunjukan bahwa perusahaan memiliki beberapa sasaran seperti itu, termasuk sasaran dalam menghasilkan arus kas operasi sebesar $20 miliar pertahun, yang akan digunakan untuk dividen, pembelian kembali saham, dan investasi untuk menumbuhkan usaha. 11 unit usaha GE masing-masing memiliki suatu sasaran profitabilitas dan sasaran arus kas, serta kompensasi eksekutif, yang didasarkan atas pencapian sasaran-sasaran tersebut. Pemegang saham GE tentunya juga akan mendapat keuntungan jika para eksekutif mampu mencapai sasarannya.
Sekumpulan strategi perusahaan (corporate strategis) yang menyatakan  bagaimana perusahaan berencana untuk mencapai sasarannya adalah unsur keempat dalam rencana perusahaan. Misalnya, Nucor Corporation, yang saat ini merupakan perusahaan baja AS dengan nilai pasar tertinggi, dalam strategi perusahaannya memiliki rencana untuk membangun tungku listrik yang kan membuat produk – produk baja dari besi tua dan bukan bijih besi seperti yang dilakukan oleh perusahaan baja lainnya. Strategi Nucor menghasilkan kenaikan harga saham yang sangat besar di saat perusahaan baja lainnya mengalami kemorosotan. SouthwestAirlines memiliki strategi yang memberikan satu kelas layanan berbiaya rendah yang efisien diantara wilayah-wilayah metropolitan besar, dengan tenaga kerja yang tidak memiliki serikat kerja, yang merupakan suatu pendekatan yang sangat jauh berbeda dengan sebagaian besar maskapai penerbangan lainnya. Southwest mengalami pertumbuhan sementara sebagaian besar maskapai penerbangan yang lain entah itu telah bangkrut atau sedang berada di jurang kebangkrutan. Contoh-contoh ini menunjukkan betapa penting arti dari rencana strategi yang baik.
Suatu rencana operasi (operating plan) yang rinci untuk setiap unit adalah unsur kelima dari rencana perusahaan secara keseluruhan. Disini, setiap manajemen unit diberikan panduan implementasi rinci, yang didasarkan atas strategi perusahaan, guna membantu manajemen mencapai tujuan perusahaan. Rencana operasi dapat disusun untuk rentang waktu lima tahun. Rencana ini menjelaskan dalam tingkat detail yang cukup tinggi siapa yang bertanggung jawab untuk setiap tindakan tertentu, kapan tugas spesifik akan tercapai, berapa sasaran penjualan dan laba, serta sejenisnya.
Rencana keuangan (financial plan) adalah unsur terakhir dari rencana penjualan secara keseluruhan. Akan disusun rencana yang terpisah untuk menunjukkan proyeksi hasil seluruh perusahaan. Inti dari rencana keuangan adalah set laporan keuangan proyeksi, dengan sejumlah rasio yang didasarkan atas laporan tersebut, untuk unit-unit secara terpisah dan konsolidasi perusahaan. Proyeksi kasus dasar menunjukkan hasil yang diharapkan jika seluruh asumsi peramalan persisi terjadi. Namun, keadaan jarang berjalan sesuai dengan renacana, sehingga hasil menurut scenario-skenario abernati juga diberikan. Misalnya, kasus dasar perusahaan mungkin berasumsi perekonomian yang kuat, tetapi adanya serangan teroris 9 September, atau harga minyak $300 per barrel, dapat mengubah keadaan secara substansial. Jadi, rencana keuangan sebaiknya dirancang untuk memberikan indikasi kepada manajemen tentang yang akan terjadi jika peristiwa lain seperti itu terjadi.
Laporan keuangan juga digunakan untuk melihat dampak strategi dari rencana operasi alternative. Suatu perusahaan seperti Southwest Airlines dapat menggunakan model keuangannya untuk melakukan simulasi hasil-hasil beberapa strategi dalam berbagai kondisis perekonomian. Southwest menyimpulkan bahwa biaya bahan bakar jet yang tinggi merupakan suatu kemungkinan yang sangat  mungkin terjadi dan kenaikan itu akan memberikan dampak yang sangat merugikan pada biaya dan laba. Berdasarkan atas ramalan tersebut, perusahaan memutuskan  untuk melakukan lindung nilai atas biaya bahan bakarnya (yaitu secara tidak langsung membeli bahan bakar  di depan) dan juga berinvestasi pada pesawat yang paling efisien menggunakan bahan bakar yang tersedia saat ini. Strategi tersebut ternyata terbukti benar, dan perencanaan serta peramalan keuangan yang efektif mampu membantu mengambil keputusan yang tepat


2.11.        Perencanaan dan Pengendalian Keuangan
Dalam membuat suatu perencanaan dan pengendalian keuangan yang baik, suatu perusahaan akan berusaha menciptakan semua itu memiliki tujuan dan arti yang jelas. Kejelasan itu bagi suatu perusahaan akan terlihat dalam perjalanan proses yang berlangsung baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu konsep perencanaan keuangan yang tidak baik akan bisa terlihat dalam jangka pendek.
Perencanaan dan pengendalian keuangan melibatkan proyeksi-proyeksi berdasarkan standar dan perkembangan dari umpan balik dan proses penyesuaian untuk memperbaiki prestasi kerja. Perencanaan keuangan mencakup penjualan, laba, dan aktiva yang didasarkan pada alternatif strategi produksi dan pemasaran untuk kemudian bagaimana menentukan kebutuhan pendanaannya. Perencanaan
Keuangan adalah proses dari :
1)      Menganalisis pendanaan dan pilihan investasi yang terbuka bagi perusahaan.
2)      Memproyeksikan konsekuensi masa yang akan datang akibat keputusan saat ini, guna menghindari hal-hal yang tidak terduga dan hubungan antara keputusan saat ini dan masa yang akan datang.
3)      Menentukan alternatif mana yang akan dipilih
4)      Mengukur hasil selanjutnya terhadap tujuan dalam rencana keuangan.

Sistem pengendalian perencanaan keuangan perlu diterapkan pada berbagai jenis usaha bisnis. Penerapan pengendalian intern perlu dilakukan pada seluruh kegiatan operasional perusahaan, termasuk yang paling utama yaitu sistem penjualan tunai dan penerimaan kas. Sistem pengendalian intern bertujuan untuk mengamankan harta perusahaan.
Dalam pengertian yang lebih luas perusahaan merupakan organisasi yang terdiri dari bagian yang saling berhubungan dan bekerjasama untuk beberapa maksud atau sasaran. Perusahaan sebagai adalah satu pelaku ekonomi yang mempunyai tujuan memperoleh laba yang wajar, perlu memiliki program dalam melaksanakan kegiatan. Bagi perusahaan yang mengejar keuntungan dan berusaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan tentu akan menghadapi berbagai masalah yang akan timbul sehubungan dengan kegiatan perusahaan.
Salah satu contoh masalah yang dihadapi adalah bagaimana melaksanakan pengendalian terhadap biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan. Pengendalian secara menyuluruh dalam perusahaan karena hanya dengan demikian apa yang mungkin dicapai oleh perusahaan dapat diketahui. Dalam dunia usaha, yang menjadi ukuran keberhasilan perusahaan adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin besar laba yang dihasilkan oleh perusahaan, maka dapat diketahui bahwa perusahaan tersebut berhasil dengan baik dalam menjalankan usaha.
Memperbesar jumlah laba dapat diilaksanakan melalui keputusan dengan berbagai macam cara seperti menaikkan jumlah omset penjualan, meminimalkan biaya atau menaikkan harga jual yang wajar. Perusahaan harus melaksanakan suatu pengendalian terhadap biaya untuk menunjang pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan. Pengendalian biaya pada umumnya mencakup tiga fungsi manajemen antara lain:
1.      Fungsi planning melalui penetapan sasaran dan penyusunan rencana.
2.      Fungsi organizing pada tingkat operasional.
3.      Fungsi controlling melalui evaluasi terhadap tujuan yang telah dicapai.
Setiap perusahaan yang ingin tetap berjalan harus mampu mempertahankan eksistensinya dituntut untuk dapat bekerja secara maksimal, efisien dan efektif. Untuk itu dibutuhkan tingkat kemampuan manajemen untuk mengendalikan perusahaan terutama dalam meningkatkan kualitas. Apabila mekanisme operasi perusahaan relatif masih sederhana, maka sistem pengendalian dilakukan dengan sistem pengawasan langsung, tetapi jika perusahaan sudah beroperasi dengan skala besar dan melibatkan beberapa bagian, maka manajemen tidak lagi mampu mengadakan pengawsan langsung secara efektif.
Dalam hal ini sistem pengendalian perlu dilengkapi dengan sistem pengendalian wewenang dan sistem pertanggungjawaban dengan menggunakan laporan tertulis. Anggaran adalah merupakan salah satu alat perencanaan keuangan perusahaan yang sekaligus dipakai sebagai dasar sistem pengendalian (pengawasan) keuangan perusahaan. Dengan tersusunnya rencana keuangan tersebut terhadap pimpinan perusahaan dapat lebih mudah melakukan koordinasi dalam melakukan koordinasi dalam melaksanakan tugasnya.
Dalam proses pelaksanaan kegiatan perusahaan kita dapat menganalisa apakah anggaran yang telah disusun dapat terlaksana sesuai rencana yang ditetapkan sebelumnya, atau terdapat varians dalam melaksanakan varians yang terjadi dapat dilihat pada akhir bulan atau akhir tahun dengan cara membandingkan antara anggaran dan realisasinya. Varians yang selalu mutlak terjadi pada setiap anggaran perusahaan perlu kita nilai apakah varians itu dapat dianggap sebagai suatu yang wajar, artinya varians itu mutlak dan wajar tidak dapat dihindari atau varians itu dianggap suatu yang tidap wajar, yang disebabkan oleh kurangnya pengawsan dan terjadinya pemborosan.
Perusahaan tidak terlepas dari perencanaan anggaran biaya operasional, mulai dari tahap persiapan yang diperlukan sebelum penyusunan rencana penyusunan anggaran itu sendiri. Implementasi dari rencana tersebut sampai akhir tahap pengawsan dan evaluasi dari hasil rencana tersebut.


2.12.        Bentuk Perencanaan Keuangan
Bentuk-bentuk rencana keuangan dapat secara lengkap dapat diuraikan sebagai berikut:
1)      Neraca
Neraca merupakan laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Menurut Fress dan Warren (1992:25), neraca adalah: “Suatu daftar aktiva, kewajiban dan modal pemilik perusahaan pada tanggal tertentu yang biasanya pada tanggal terahir suatu bulan atau tahun”.  Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kelender, sehingga neraca sering disebut balance sheet.
Kegunaan dari neraca menurut Kieso dan Weygandt (1995:252) adalah untuk:
·         Perhitungan tingkat pengembalian.
·         Pengevaluasian struktur modal perusahaan.
·         Penilaian likuiditas dan fleksibilitas dari keuangan tersebut.
Artinya bahwa untuk mengadakan pertimbangan tertentu atas resiko perusahaan dan untuk menilai arus kas masa depan, seseorang harus menganalisa neraca dan menentukan likuiditas perusahaan dan fleksibilitas keuangan. Likuiditas menggambarkan jumlah waktu yang diperlukan untuk berlalu sampai dari suatu harta direalisasikan atau sebaliknya dikonversi menjadi uang kas dan sampai suatu hutang harus dibayarkan. Pada dasarnya fleksibilitas keuangan adalah kemampuan suatu perusahaan untuk mengambil tindakan efektif guna mengubah jumlah dan waktu arus kas sehingga ia dapat tanggap terhadap kebutuhan dan peluang yang tidak terduga.[2]
Beberapa keterbatasan neraca menurut Smith dan Skousen (1993:151), adalah sebagai berikut:
a.       Para pemakai ekstern acap kali ingin mengetahui nilai perusahaan, pada dasarnya neraca tidak mencerminkan nilai berjalan dari suatu perusahaan, akan tetapi sumber daya dan kewajiban perusahaan disajikan dengan nilai historis berdasarkan transaksi dan kejadian dimasa lalu. Pengukuran biaya historis menunjukkan nilai pasar yang ada pada tanggal terjadinya transaksi dan kejadian-kejadian. Namun demikian, jika harta tertentu ternyata berubah dengan tajam setelah tanggal perolehannya, maka angka-angka neraca tidak relevan lagi untuk mengevaluasi nilai perusahaan.
b.      Suatu masalah yang berkaitan dengan neraca adalah kestabilan nilai rupiah sebagai satuan standar pengukur akuntansi. Karena adanya perubahan-perubahan harga umum dalam ekonomi, rupiah tidak menunjukkan suatu daya beli yang konstan. Pada hal nilai-nilai historis sumber daya dan kekayaan dinyatakan dalam neraca tidak disesuaikan dengan perubahan-perubahan daya beli satuan pengukuran. Hasilnya adalah suatu neraca yang mencerminkan harta, hutang dan kekayaan dalam satuan daya beli tyang berbeda-beda.
c.       Keterbatasan lainnya dari neraca juga berkaitan dengan kebutuhan pembanding, dimana perusahaan-perusahaan tidak mengklasifikasikan dan melaporkan pos-pos yang serupa secara sama. Sebagai contoh, nama dan klasifikasi perkiraaan bervariasi, beberapa perusahaan membuat lebih terperinci dari pada yang lain, dan beberapa perusahaan dengan transaksi yang benar-benar sama ternyata melaporkan secara berbeda-beda. Perbedaan tersebut mengakibatkan pembandingan sulit dilakukan dan mengurangi nilai potensial analisa neraca.
d.       Neraca juga dianggap memiliki beberapa kelemahan dalam bidang lainnya, terutama akibat masalah pengukuran beberapa sumber daya dan kewajiban tidak dilaporkan pada neraca.


2)      Laporan Laba Rugi
Laporan rugi laba merupakan suatu laporan sistematis tentang pendapatan/ hasil usaha, beban, laba perusahaan atau rugi yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Menurut Keiso dan Waygandt (1995:177), perhitungan laba rugi adalah: “Laporan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan untuk suatu periode waktu tertentu.” Pentingnya perhitungan laba rugi karena beberapa alasan, alasan utamanya adalah bahwa laporan yang membantu mereka dalam meramalkan jumlah, waktu dan ketidak pastian dari arus kas masa depan. Ramalan yang akurat akan arus kas masa depan membantu investor untuk menilai ekonomi perusahaan dan kreditur sehingga dapat menentukan profitabilitas dari pembayaran kembali sahamnya terhadap perusahaan.
Perhitungan laba rugi membantu pemakai laporan keuangan untuk meramalkan arus kas masa depan dalam beberapa cara yang berbeda (Keiso dan Waygandt, 1995:179)
a)      Investor dan kreditor dapat menggunakan informasi pada perhitungan laba rugi untuk mengevaluasi prestasi masa lalu perusahaan. Keberhasilan pada masa yang akan datang kecenderungan penting dapat ditentukan. Artinya jika suatu korelasi antara prestsi masa lalu dan masa depan dapat diasumsikan, maka prediksi atas arus kas masa depan dapat dibuat dengan kenyakinan tertentu.
b)      Perhitungan laba rugi membantu pemakai menentukan resiko (tingkat ketidakpastian) dari tidak mencapai arus kas tertentu. Informasi mengenai berbagai komponen laba pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian menyoroti hubungan di antara berbagai komponen ini. Komponen ini memungkinkan seseorang, misalnya untuk menilai secara lebih baik perubahan dalam permintaan akan produk suatu perusahaan terhadap penetapan beban.
3)      Peramalan Penjualan
Peramalan penjualan sangat penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan khususnya di bidang produksi. Selain itu perusahaan dapat mengetahui aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan dikemudian hari seperti perencanaan dan penjadwalan produksi dengan mempertimbangkan kapasitas pabrik atau perencanaan tenaga kerja. Peramalan penjualan adalah suatu usaha untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang melalui pengujian keadaan di masa lalu.
Peramalan (forecasting) penjualan merupakan alat bantu yang penting dalam perencanaan yang efektif dan efisien khususnya dalam bidang ekonomi. Peramalan mempunyai peranan langsung pada peristiwa eksternal yang pada umumnya berada diluar kendali manajemen” (Yamit, 2000:36).
Pada dasarnya peramalan penjualan dapat dibedakan menjadi dua yaitu: peramalan subyektif, yaitu peramalan yang didasarkan atas perasaan  orang yang menyusunnya. Dalam hal ini pandangan orang yang menyusunnya sangat menentukan baik tidaknya hasil ramalan tersebut. Kedua yaitu peramalan yang obyektif , yaitu peramalan yang didasarkan atas data yang relevan pada masa lalu dengan menggunakan metode-metode dalam penganalisaan tersebut.
Menurut Yamit (2000:37): “Metode peramalan permintaan atau penjualan dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif”. Metode kuantitatif dibagi ke dalam deret berkala atau runtun waktu (time series) dan metode kausal, sedangkan metode kualitatif dibagi menjadi metode eksploratoris dan normatif.
Metode kuantitatif sangat beragam dan setiap teknik memiliki sifat, ketepatan dan biaya tertentu yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode tersebut. Metode kuantitatif formal didasarkan atas prinsip-prinsip statistik yang memiliki tingkat ketepatan yang tinggi atau dapat meminimumkan kesalahan (error), lebih sistematis, dan lebih populer dalam penggunaannya. Untuk menggunakan metode kuantitatif terdapat tiga kondisi yang harus dipenuhi yaitu meliputi:
Ø  Tersedia informasi tentang masa lalu.
Ø  Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numerik.
Ø  Diasumsikan bahwa beberapa pola masa lalu akan terus berlanjut.

4)      Metode Peramalan Keuangan
Model yang dapat digunakan dalam peramalan keuangan yaitu meliputi :
  1. Metode Rasio Konstan (constant ratio method)
Metode rasio konstan (constant ratio method) merupakan suatu metode untuk meramalkan laporan keuangan dan kebutuhan keuangan di masa mendatang, dengan asumsi asumsi rasio-rasio keuangan tertentu akan tetap konstan (Brigham dan Houston, 1999:120).
  1. Metode Regresi Linier
Metode ini mencari hubungan regresi dari variabel dependen (semua pos aktiva dan pasiva yang terkait dengan penjualan) dengan variabel independen (tingkat penjualan) dan menyatakan hubungan tersebut dalam persamaan regresi (Husnan, 1992).
Regresi adalah suatu model matematis yang dapat digunakan untuk mengetahui pola hubungan antara dua variabel atau lebih. Tujuan utama analisis regresi adalah untuk membuat ramalan nilai suatu variabel (variabel dependen) jika nilai variabel lainna (variabel independen) sudah ditentukan (Algifari, 1997 :112).
Untuk meramalkan nilai suatu variabel dependen bila variabel independen diketahui digunakan persamaan garis regresi dengan persamaan sebagai berikut :
Y = a + bX
Keterangan :
Y = adalah variabel dependen
a  = adalah intersep (titik potong kurva terhadap sumbu Y)
b  = adalah kemiringan (slope) kurva linier
X  = adalah variabel independen
Berdasarkan persamaan di atas dapat digunakan untuk menaksir nilai Y, jika nilai a, b, dan X diketahui. Nilai a merupakan nilai Y yang dipotong oleh kurva linier pada sumbu vertikal Y (a adalah nilai Y, bila X = 0). Nilai b adalah kemiringan  (slope) kurva linier yang menunjukkan besarnya perubahan nilai Y sebagai akibat perubahan setiap unit nilai X. Besarnya nilai a dan b konstan sepanjang kurva linear.   
Persamaan regresi digunakan untuk meramal nilai pos-pos tersebut untuk masa yang akan datang. Dari sini dapat disusun neraca proforma untuk tahun yang akan datang. Dengan mengurangkan total kewajiban dari total aktiva pada neraca proforma ini, kebutuhan tambahan dana untuk tahun yang akan datang dapat ditentukan.

  1. Metode Prosentase Penjualan
Metode-metode lain yang dapat digunakan dalam peramalan, antara lain : (Husnan, 1982:113).
1.    Metode diagram pencar atau regresi
Metode prosentase penjualan adalah metode untuk mengembangkan laporan laba rugi proforma yang menyatakan harga pokok penjualan, biaya operasi dan biaya bungan sebagai prosentase dari penjualan yang sudah diproyeksikan (Sundjaja dan Barlian,  2003:173).
Metode ini meramal aktiva dan pasiva untuk periode mendatang sebagai prosentase dari ramalan penjualan. Prosentase yang dipergunakan bisa diambil dari laporan keuangan yang terbaru dari penjualan berjalan (current sales), atau dari perhitungan rata-rata beberapa tahun, atau dari penilaian analis, atau dari kombinasi sumber-sumber tersebut. Setelah ramalan untuk pos-pos yang terkait dengan penjualan didapat, hasil tersebut diterapkan pada formula ,matematis yang telah ditetapkan untuk menentukan kebutuhan dana. Rumus untuk meramal kebutuhan dana menggunakan metode prosentase penjualan sebagai berikut: (Weston dan Copeland,  1992:320).                                                                  
Dana ekstern yang dibutuhkan =


Keterangan :
= Harta yang bertambah secara spontan sesuai dengan pendapatan   atau penjualan total yang dinyatakan dalam prosentase dari pendapatan (penjualan) total.
=  Kewajiban yang bertambah secara spontan sesuai dengan pendapatan total yang dinyatakan dalam presen dari pendapatan atau penjualan total.
=  Perubahan dalam pendapatan atau penjualan total.
=  Marjin laba terhadap penjualan.
=   Proyeksi pendapatan untuk tahun itu.
=   Rasio retensi laba.( laba ditahan )
2.    Metode regresi berganda.
3.    Metode regresi “curviliniear”.
Perbandingan antar metode peramalan:
a.  Metode prosentase penjualan
Metode ini menganggap bahwa rekening-rekening neraca tertentu bervariasi secara langsung dengan penjualan, yaitu bahwa perbandingan rekening-rekening tertentu dengan penjualan adalah konstan.
b.  Metode regresi
Metode ini adalah lebih baik karena rasio aktiva dan kewajiban dengan penjualan tidak dianggap konstan seperti pada metode prosentase penjualan.

5)      Hubungan Antara Pertumbuhan Penjualan dan Kebutuhan Keuangan
Makin pesat pertumbuhan penjualan, makin besar pula kebutuhannya akan pembiayaan tambahan. Adapun hubungan tersebut yaitu meliputi:
a.       Kelayakan Keuangan
Pada tingkat pertumbuhan yang rendah, perusahaan tidak membutuhkan pembiayaan eksternal, bahkan kas surplus. Akan tetapi perusahaan tersebut tumbuh lebih pesat maka modal dari sumber eksternal harus diusahakan. Selanjutnya makin cepat tingkat pertumbuhan, makin besar kebutuhan modal.
b.      Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Kebutuhan Pembiayaan
Kebijakan pembayaran deviden seperti tercermin pada rasio pembayaran deviden juga mempengaruhi kebutuhan modal eksternal.Makin tinggi rasio pembayaran deviden makin kecil penambahan laba yang ditahan, sehingga makin besar pula modal eksternal yang diperlukan.
c.       Kepadatan Modal
Jumlah aktiva yang diperlukan untuk setiap dolar penjualan yaitu sering disebut rasio kepadatan modal (capital intensity ratio). Rasio ini berpengaruh besar terhadap kebutuhan modal. Jika rasio kepadatan modal rendah, penjualan bisa tumbuh pesat tanpa terlalu banyak modal dari luar. Akan tetapi jika perusahaan bersangkutan padat modal, pertumbuhan yang kecil sekalipun akan memerlukan sejumlah besar modal dari luar.

d.      Marjin Laba
Margin laba merupakan determinan penting dalam persamaan kebutuhan modal, makin tinggi margin makin rendah kebutuhan akan dana. Dalam bentuk grafik suatu kenaikan dalam margin menyebabkan garis persamaan kebutuhan modal akan menurun.

2.13.        Langkah-langkah Perencanaan Keuangan
Langkah-langkah dalam penyusunan rencana keuangan. (Gitosudarmo dan Basri, 1999:268-269) meliputi :
a)      Merencanakan keuangan adalah merumuskan (formulasi) terhadap tujuan jangka panjang, dapat berupa tujuan untuk dapat tumbuh menjadi perusahaan yang bertingkat nasional atau internasional.
b)      Formulasi dari politik keuangan perusahan. Formulasi ini akan menjadi pedoman bagi segala kegiatan bisnisnya, dan dalam hal perencanaan keuangan ini sangat diperlukan. Oleh karena dalam hal ini sangat diperlukan adanya  forecasting guna memperkirakan perubahan-perubahan terhadap factor-faktor yang terdapat dalam formulasi rencana keuangan dari bisnis itu.
c)      Pembentukan prosedur. Dimaksud untuk menciptakan koordinasi yang baik dari setiap aktivitas  yang saling berhubungan, sehingga tidak terjadi bertabrakan, saling lempar tanggung jawab.
d)     Mengusahakan adanya fleksibilitas. Keadaan ekonomi saat ini berada dalam keadaan dinamis dan selalu meningkat. Oleh karena itu manajemen harus selalu mempersiapkan adanya flesibilitas (keluwesan) di dalam rencana-rencana, terutama recana jangka pendeknya. Vareabel budged adalah salah satu bentuk yang tepat untuk diterapkan.
Langkah-langkah dalam penyusunan rencana (Gitosudarmo dan Basri, 1999:268-269) meliputi :
a.       Langkah pertama dalam merencanakan keuangan adalah merumuskan (formulasi) terhadap tujuan jangka panjang, dapat berupa tujuan untuk dapat tumbuh menjadi perusahaan yang bertingkat nasional atau internasional.
b.      Langkah kedua adalah berupa formulasi dari politik keuangan perusahan.
Formulasi ini akan menjadi pedoman bagi segala kegiatan bisnisnya, dan dalam hal perencanaan keuangan ini sangat diperlukan. Oleh karena dalam hal ini sangat diperlukan adanya  forecasting guna memperkirakan perubahan-perubahan terhadap factor-faktor yang terdapat dalam formulasi rencana keuangan dari bisnis itu.
c.       Langkah ketiga adalah pembentukan prosedur
Dimaksud untuk menciptakan koordinasi yang baik dari setiap aktivitas  yang saling berhubungan, sehingga tidak terjadi bertabrakan, saling lempar tanggung jawab.
d.      Langkah yang terakhir adalah mengusahakan adanya fleksibilitas.
Keadaan ekonomi saat ini berada dalam keadaan dinamis dan selalu meningkat. Oleh karena itu manajemen harus selalu mempersiapkan adanya flesibilitas (keluwesan) di dalam rencana-rencana, terutama recana jangka pendeknya. Vareabel budged adalah salah satu bentuk yang tepat untuk diterapkan.
Menurut Brigham dan Huston, (1999:117) proses perencanaan keuangan dimulai dengan:
4.         Ramalan Penjualan
Ramalan penjualan (sales forecast) umumnya  dimulai demgam tinjauan atas penjualan lima atau sepuluh tahun yang lalu, yang biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik pertumbuhan penjualan untuk 5 tahun terakhir (Brigham dan Houston, 1999:117). Ramalan penjualan dibuat dengan mencoba mengukur volume penjualan di masa yang akan dating. Pengukuran tersebut dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran secara kualitatif biasanya menggunakan metode statistic dan matematik, sedangkan pengukuran secara kualitatif biasanya menggunkan judgement/pendapatan.
5.        Peramalan laporan Keuangan, langkah-langkahnya:
a)                 Meramalkan laporan rugi laba
Laporan rugi laba untuk tahun mendatang diramalkan untuk mendapatkan suatu estimasi atas laba yang dilaporkan dan jumlah laba yang ditahan yang akan dihasilkan   perusahaan selama tahun trsebut. Hal ini memerlukan asumsi-asumsi tentang risiko biaya operasi, tarip pajak, beban bunga dan rasio pembayaran dividen. Dalam kasus yang paling sederhana, dibuat asumsi bahwa biaya akan naik dengan laju yang sma sejalan dengan kenaikan penjualan dalam situasi yang lebih rumut, biaya-biaya tertentu akan diramalkan secara terpisah.  Namun, tujuan utana dari peramalan ini adalah untuk menentukan beberapa banyak laba yang akan diperoleh perusahaan dan tahun untuk diinvestasikan kembali dlam tahun yang diramalkan.
b)                Meramalkan neraca
Jika penjualan dinaikkan, maka aktivitasnya harus tumbuh. Karena perusahan beroperasi pada kapasitas yang penuh, maka setiap pos aktivitas harus ditambah jika ingin penjualan yang lebih tinggi untuk dicapai. Lebih banyak kas yang dibutuhkan untuk transaksi, penjualan yang lebih tinggi akan menyebabkan piutang yang lebih besar, persediaan tambahan harus disimpan, dan pabrik serta  peralatan baru harus bitambah.
c)                  Mendapatkan dan tambahan yang diperlukan
Dana tambahan nyang diperlukan (AFN= Additional Fund Needed) adalah dana yang harus diperoleh perusahaan secara ekternal melalui pinjaman atau dengan menjual saham biasa atau preferen baru.

2.14.        Manfaat Belajar Finansial Planner
1)      Kenaikan Pengeluaran dan Pendapatan Tidak Seimbang
Inflasi atau kenaikan harga barang-barang menyebabkan daya beli berkurang. Meskipun kalau dihitung-hitung kenaikan UMR per-tahunnya bisa melebihi angka inflasi yang ditetapkan Pemerintah, sayangnya yang dihadapi adalah inflasi personal yang nilainya bisa lebih besar dari angka inflasi umum. Financial planning memberi tau kita masalah ini dan juga memberikan solusinya.
2)      Agar tidak mudah di tipu
Dengan belajar financial planning, literasi tentang produk keuangan akan makin bertambah sehingga paling tidak ketika kita menggunakan suatu produk keuangan, kita sudah mengetahui dengan pasti return dan segala risiko yang akan dihadapi.
3)      Agar tahu pilihan produk investasi
Produk investasi yang ada di Indonesia semakin bertambah setiap tahun, baik dalam bentuk real asset maupun financial asset. Disinilah kita dituntut untuk belajar mengetahui produk-produk investasi tersebut melalui ilmu financial planning. Dengan demikian, kita akan memiliki lebih banyak alternatif produk investasi, tidak lagi terbatas pada tabungan dan deposito.
4)      Umur produktif manusia terbatas
Selama hidupnya, manusia pasti membutuhkan biaya. Nah, untuk bisa memiliki passive income saat pensiun, tentu butuh modal yang tidak sedikit. Dalam ilmu financial planning-lah, masalah ini menjadi salah satu tujuan keuangan yang wajib dipenuhi untuk memastikan kita bisa menjalani masa tua dengan tenang.
5)      Lebih sadar dengan kondisi keuangan
Alasan lain kenapa butuh belajar financial planning adalah agar kita bisa lebih peduli dengan keuangan sendiri. Karena kita dituntut untuk punya financial habit yang baik. Contohnya, membuat anggaran pengeluaran, mencatat setiap pengeluaran bulanan, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, membatasi penggunaan utang konsumtif, dll. Meskipun terlihat sederhana, ternyata tidak semua orang bisa mempraktikkannya dengan benar dalam kehidupan sehari-hari.


2.15.        Contoh Kasus
1.      Hasil Peramalan Penjualan
Sebelum peramalan atas rekening-rekening laporan laba rugi dan neraca, maka terlebih dahulu harus dilakukan peramalan terhadap penjualan. Dalam penyusunan atas peramalan penjualan maka digunakan metode regresi linier, adapun data yang digunakan dalam penyusunan peramalan penjualan tersebut yaitu penjualan tahun 2002 sampai 2006. Berdasarkan hasil laporan keuangan pada perusahaan meubel Lindah Pasuruan, maka dapat diketahui besarnya penjualan yang secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Berdasarkan penjualan bersih tersebut maka dapat diramalkan besarnya jumlah penjualan bersih pada tahun 2007. Untuk mengetahui hasil penjualan bersih tahun 2007 maka sebelumnya disajikan data penjualan bersih tahun 2002 sampai 2006 yang dapat diketahui pada Tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2 Penjualan Bersih perusahaan meubel Lindah Pasuruan Tahun 2002 Sampai 2006
No.
Tahun
Penjualan Bersih
1
2002
6.954.005.000
2
2003
7.119.978.499
3
2004
7.657.970.661
4
2005
8.101.852.275
5
2006
8.691.867.133
Sumber: Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan
Berdasarkan data penjualan tahun 2002 sampai 2006 tersebut maka dapat diketahui besarnya atau jumlah penjualan bersih tahun 2007, dalam penelitian ini metode peramalan penjualan yang digunakan yaitu menggunakan bahwa metode trend linier. Pada analisis trend linier ini, persamaan yang digunakan untuk menganalisa data adalah :
Y = a + bX
Keterangan:
Y = adalah variabel dependen
a = adalah intersep (titik potong kurva terhadap sumbu Y)
b = adalah kemiringan (slope) kurva linier
X = adalah variabel independent
Adapun hasil perhitungan peramalan penjualan dengan menggunakan metode trend linier dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Perhitungan Peramalan Penjualan Pada Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan Tahun 2007
Tahun
X
Y
X.Y
2002
-2
6.954.005.600
4
-13.908.011.200
2003
-1
7.119.978.499
1
-7.119.978.499
2004
0
7.657.970.661
0
0
2005
1
8.101.852.275
4
8.101.852.275
2006
2
8.691.867.133
1
17.383.734.266
S
0
38.525.674.168
10
4.457.596.842
Sumber: Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan
Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diketahui hasil ramalan penjualan untuk tahun 2007 adalah sebagai berikut :
Nilai koefisien a dan b diperoleh dari persamaan:
a = 7.705.134.834             dan              b =  445.759.684

Dari hasil koefisien a dan b maka kalau dimasukkan ke dalam persamaan yaitu sebagai berikut:
Y    =  7.705.134.834 +  445.759.684 (x)
            =  7.705.134.834 + 445.759.684 (3)
=  Rp 9.042.413.886
Berdasarkan persamaaan di atas maka dapat diperoleh peramalan tingkat penjualan dengan menggunakan metode trend linier pada Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp 9.042.413.886,00.
2.      Hasil Perhitungan Tingkat Pertumbuhan Penjualan
Berdasarkan hasil estimasi nilai penjualan pada tahun 2007 tersebut, maka besarnya tingkat pertumbuhan penjualan (g) pada tahun tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus: (nilai penjualan estimasi tahun 2007-nilai penjualan realisasi tahun 2006/ (nilai realisasi tahun 2006). Adapun secara sistematis persamaan yang digunakan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan penjualan yaitu:  
                                                       
Gst      =        St – St-1     X100%
                        St

Gst      = Tingkat Pertumbuhan Penjualan
St         = Penjualan pada tahun t
St-1     = Penjualan pada tahun t-1
Berdasarkan rumus tingkat penjualan di atas maka dapat diketahui tingkat pertumbuhan penjualan tahun 2002 sampai 2007. Hasil analisis pertumbuhan tingkat penjualan pada Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan maka secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:                                     
Tabel 4.4. Pertumbuhan Penjualan Pada  PerusahaaMeubel Lindah Pasuruan Tahun 2002 Sampai 2007 (Persen)
                
No
Tahun
Pertumbuhan Penjualan
1
2002
1,73%
2
2003
2,39%
3
2004
7,56%
4
2005
5,80%
5
2006
7,28%
6
2007
4,03%
Sumber: Data Diolah, 2006
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat adanya peningkatan pertumbuhan penjualan yaitu untuk tahun 2002 sebesar 1,73%, tahun 2003 naik sebesar 0,653% menjadi 2,39% pada tahun 2003, tahun 2004 sebesar 7,56% dan mengalami peningkatan sebesar 5,169% menjadi sebesar 7,56% pada tahun 2004. Pertumbuhan penjualan mengalami penurunan sebesar 1,79% pada tahun 2005 apabila dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar 7,28% sedangkan pada tahun 2007 terjadi penurunan sebesar 3,25% menjadi sebesar 4,03% pada tahun 2007. Berdasarkan hasil tersebut membuktikan bahwa dalam kurun waktu tahun 2002 sampai 2007 jumlah permintaan konsumen terhadap produk mengalami berfluktuasi dan pada akhirnya menurunkan volume penjualan pada tahun 2007, sedangkan pada sisi yang lain terjadinya persaingan dari perusahaan lain yang memproduksi produk sejenis.
3.      Tabulasi Laporan Laba Rugi
Langkah pertama penerapan metode peramalan laporan keuangan adalah meramalkan laporan laba rugi. Dengan tingkat pertumbuhan penjualan sebesar 4,03% maka menurut metode rasio konstan, rekening beban pokok penjualan dan beban usaha akan meningkat sebesar tingkat pertumbuhan penjualan tersebut.
Pajak tahun berjalan besarnya rupiahnya akan mengalami perubahan, tetapi besarnya perubahan tidak sama dengan dengan besarnya tingkat pertumbuhan penjualan. Beban pajak dihitung dengan mengalikan antara laba sebelum manfaat (beban) pajak dengan tingkat atau tarif pajak. Tarif pajak yang diberlakukan dengan ketentuan perpajakan yaitu:
Laba kena pajak                                                                
Tarif Pajak
Sampai dengan           Rp 25.000.000,00                                 10%
Rp 25.000.000,00 s/d Rp 50.000.000,00                                 15%
Di atas Rp 25.000.000,00                                                        30%
Rekening-rekening lain yang diasumsikan mengalami perubahan sebesar tingkat pertumbuhan penjualan rekening rugi (laba). Perubahan rekening yang terakhir adalah pembayaran deviden. Untuk mengetahui pengalokasian atas tingkat pertumbuhan penjualan sebesar 4,03% maka menurut metode rasio konstan pada laporan laba rugi perusahaan maka secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.5. Pada tabel 4.5 dapat diketahui atas alokasi besarnya tingkat pertumbuhan penjualan pada setiap rekening laba rugi yaitu meliputi penjualan bersih, beban pokok penjualan dan biaya operasional. Hal itu dikarenakan pada keempat rekening tersebut secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan penjualan, sedangkan untuk rekening yang lain bersifat konstan seperti pada tahun sebelumnya.
Tabel 4.5. Laporan Laba Rugi Aktual Tahun 2006 dan Proyeksi Tahun 2007 Pada  Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan.
Rekening
(1)
Aktual 2006
(2)
Dasar Ramalan
(3)
Ramalan 2007
(4)
Penjualan Tunai
Penjualan Kredit
Total Penjualan
3.952.500.760
4.739.366.373
8.691.867.133


x 1,040


9.039.541.818
HPP
7.065.023.670
x 1,040
7.347.624.617
Laba/Rugi Kotor
1.691.917.202
-
1.626.843.463
Biaya Operasional

-

Gaji
31.445.141
x 1,040
327.029.470
Telepon dan Listrik
50.715.000
x 1,040
52.743.600
Biaya alat tulis kantor
10.210.400
x 1,040
10.618.816
Biaya Promosi
21.560.600
x 1,040
22.423.024
Biaya Pengembangan SDM
25.712.500
x 1,040
26.741.000
Biaya Penyusutan Bangunan
182.554.650
-
182.554.650
Biaya Penyusutan mesin
73.331.575
-
73.331.575
Biaya penyusutan peralatan kantor
12.671.930
-
12.671.930
Biaya penyusutan kendaraan
198.713.390
-
198.713.390
Jumlah Biaya operasional
889.921.458
-
906.827.455
Biaya Bunga
31.835.420
-
31.835.420
Total
921.756.879
-
938.662.875
Laba Operasi
705.086.584
-
753.254.327
Pajak
194.025.975
-
208.476.298
Laba Bersih
511.060.609
-
544.778.029
Sumber : Data Diolah, 2006

4.      Tabulasi Neraca
Langkah kedua penerapan metode peramalan laporan keuangan adalah meramal neraca. Dalam peramalan neraca ini, rekening-rekening yang diasumsikan mengalami peningkatan sebesar tingkat pertumbuhan penjualan meliputi:
-          Seluruh rekening aktiva yang terdapat pada aktiva lancar.
-          Seluruh rekening yang ada dalam aktiva tidak lancar.
-          Seluruh rekening yang terdapat pada kewajiban lancar.
-          Kewajiban pajak tangguhan-bersih dan estimasi kewajiban imbalan kerja.
Rekening-rekening yang diasumsikan mengalami peningkatan yang tidak sama dengan besarnya tingkat pertumbuhan penjualan yaitu meliputi:
1.      Hutang bank
2.      Modal sendiri
Besarnya tambahan dana dari pinjaman jangka panjang didasarkan pada besarnya kekurangan pasiva total dari aktiva totalnya. Dana yang diperlukan ini disebut dengan dana tambahan yang diperlukan (AFN). Untuk besarnya laba ditahan, perhitungannya dilakukan dengan cara mengurangkan besarnya deviden total dari laba bersih perusahaan. Hasil ini dapat langsung diperoleh dari hasil perhitungan pada analisis peramalan laporan laba rugi tahun 2007.
5.        AFN (Additional Fund Needed)                                                                                    
Langkah terakhir penerapan metode peramalan laporan keuangan adalah mendapatkan dana tambahan yang diperlukan. Setelah ramalan neraca dibuat dan alokasi besarnya dana yang dibutuhkan ditentukan, maka perusahaan tinggal mencari sumber pembelanjaan dan waktu yang tepat. Dengan ketepatan ini diharapkan akan menghasilkan biaya modal yang relatif rendah.
Berdasarkan hasil perhitungan maka dapat diketahui besarnya dana tambahan yang diperlukan (AFN) yang diperlukan oleh Perusahaan Meubel Lindah Pasuruan pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp 360.222.468,00. Untuk melakukan proporsi atas tambahan dana yang diperlukan diasumsikan proporsinya seperti pada periode-periodenya, maka secara lengkap dapat dihitung sebagai berikut:
1.      Hutang bank                                                           Rp     1591771049
2.      Modal Sendiri                                                        Rp     3907428031
3.      Jumlah                                                                    Rp     5.499.199.080
Berdasarkan jumlah aktual pada masing-masing rekening tersebut maka dapat dilakukan proporsi atas besarnya dana tambahan yang diperlukan (AFN) yang diperlukan untuk masing-masing rekening, yaitu dengan membagi jumlah masing-masing rekening dengan total rekening yang ada dan dikalikan dengan dana tambahan yang diperlukan (AFN). Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa besarnya dana tambahan yang diperlukan (AFN) pada masing-masing rekening yaitu dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Hutang bank                                                      Rp     11.502.865
2.      Modal sendiri                                                     Rp     28.244.424
3.      Jumlah                                                                Rp      39.747.289








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

            Perencanaan keuangan merupakan salah satu bagian dari proses perencanaan organisasi (corporate planning). Dari perencanaan diharapkan perusahaan dapat menghindari kesalahan-kesalahan, menghasilkan keputusan yang terbaik yang pada akhirnya mampu meningkatkan kinerja dari suatu perusahaan.
            Perencanaan keuangan dimaksudkan untuk memperkirakan posisi dan kondisi keuangan di masa yang akan datang. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah kondisi perusahaan perlu menambah dana dari luar, bagaimana profitabilitas perusahaan di masa yang akan datang dan sebagainya.
            Sebelum menyusun rencana keuangan, maka ada beberapa hal yang harus dipahami dalam suatu perusahaan. Salah satu hal penting yang harus dianalisis adalah arus kas suatu perusahaan. Arus dana yang terjadi di dalam suatu perusahaan sering juga dikatakan sebagai perputaran modal kerja. Arus dana adalah cerminan bagaimana sistem aliran dana yang terjadi dalam suatu perusahaan. Sehingga dengan diketahui aliran dana ini, maka bagi pihak pengambil keputusan akan dapat menentukan dalam menetapkan kebutuhan dana perusahaan, darimana akan dibiayai serta bagaimana penggunaannya.
Dalam membuat suatu perencanaan dan pengendalian keuangan yang baik, suatu perusahaan akan berusaha menciptakan semua itu memiliki tujuan dan arti yang jelas. Kejelasan itu bagi suatu perusahaan akan terlihat dalam perjalanan proses yang berlangsung baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu konsep perencanaan keuangan yang tidak baik akan bisa terlihat dalam jangka pendek.









DAFTAR PUSTAKA


Brigham & Houston, 1999,  Manajemen Keuangan, Buku Kedua, Edisi Ketiga, Penerbit Erlangga, Jakarta
Hanafi, Mamduh, M & Halim Abdul, 2000, Analisi Laporan Keuangan. UPP AMD YKPN, Yogyakarta
Drs. R. Agus Sartono, M.B.A, 2008, Manajemen Keuangan : Teori dan Aplikasi, Buku Kedua, Edisi 4, BPFE, Yogyakarta
Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti,  1998, Dasar- Dasar Manajemen Keuangan, Buku Pertama, Edisi Kedua,UPP AMP YKPN, Yogyakarta

Dr. Suad Husnan,M.B.A, 1996, Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang), Buku Pertama, Edisi 4, BPFE, Yogyakarta

Sumber Jurnal :

Lia Retnawati, Titin Yuliana, Eka Yudhyana,  Anggaran Penjualan Sebagai Dasar Perencanaan Keuangan Pada PT. EURO P2P Direct Indo Di Samarinda, Jurnal, FE Universitas 17 Agustus 1945, Samarinda
Amanita Novi Yushita, 2017,  Pentingnya Literasi Keuangan Bagi Pengelolaan Keuangan Pribadi, Universitas Negeri Yogyakarta, Vol 4 No 1 2017, Yogyakarta


Komentar